Refleksi Monitoring Penerapan Generative Artificial Intelligence (AI) oleh Universitas Mulawarman untuk Optimalisasi Pembelajaran Inklusif di Sekolah Luar Biasa
AI is not about replacing humans. AI is about empowering humans to do things that were previously impossible. —Satya Nadella (CEO Microsoft). Kutipan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat membuka peluang baru dalam pendidikan inklusif, khususnya dalam membantu guru menyediakan materi ajar yang adaptif, interaktif, dan menarik bagi siswa berkebutuhan khusus. Namun, sebagaimana terlihat di Sekolah Luar Biasa (SLBN) Pembina Provinsi Kalimantan Timur, meski guru telah mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan Generative AI, kemampuan guru dalam mengintegrasikannya ke pembelajaran sehari-hari masih beragam, sehingga dibutuhkan pendampingan lebih lanjut untuk memastikan teknologi tersebut benar-benar digunakan secara efektif. Kondisi ini menegaskan tentang pentingnya penelitian dan monitoring untuk memahami bagaimana AI benar-benar diterapkan dalam praktik kelas khususnya pada pendidikan inklusif. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati penggunaan teknologi AI dalam kegiatan belajar mengajar seperti melalui wawancara guru, observasi kelas, dan analisis dokumentasi untuk mengeksplorasi peran teknologi seperti Generative AI, aplikasi pembelajaran adaptif, serta media visual dan audio-visual berbasis AI dalam mendukung proses belajar siswa. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa teknologi tersebut mampu meningkatkan keterlibatan, pemahaman materi, serta interaksi sosial, terutama ketika guru mampu mengintegrasikan Teknologi berbasis AI dengan tepat.
Hasil monitoring menunjukkan bahwa penerapan Generative AI di SLBN Pembina Kaltim telah membantu guru menghasilkan materi ajar yang lebih adaptif, interaktif, dan sesuai kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Teknologi AI terbukti meningkatkan keterlibatan belajar, pemahaman konsep, serta interaksi sosial siswa ketika digunakan secara tepat. Namun, tingkat penguasaan guru terhadap teknologi masih beragam, sehingga pemanfaatannya di kelas belum optimal. Guru masih memerlukan pendampingan, monitoring, dan pelatihan lanjutan agar integrasi AI dapat berlangsung konsisten. Penelitian ini menegaskan bahwa AI berpotensi dalam memperkuat pendidikan inklusif, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada kesiapan dan kompetensi guru dalam menerapkannya.
Refleksinya dalam penelitian ini adalah AI tidak hanya bergantung pada kecanggihannya, tetapi pada kesiapan guru untuk memanfaatkannya. Dengan dukungan, pelatihan, dan kesempatan berlatih yang terus-menerus, Artificial Intelligence (AI) dapat menjadi alat yang benar-benar memperkuat pembelajaran inklusif dan memenuhi kebutuhan individual setiap siswa.
Source: Kaltim Post https://share.google/NKHi5o0r9fC4ttNFo
Oleh: Fitri Dewi Amelia,