Air Mata Kebanggaan di Balik Keterbatasan: Kisah Debora, Sang Penembus Batas
Di tengah riuhnya sorak-sorai wisudawan, ada sepasang mata yang tak dapat melihat, namun memancarkan cahaya kebanggaan yang tak terhingga. Debora Dian Talenta Simanjuntak, seorang nama yang kini terukir dalam sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), telah membuktikan bahwa keterbatasan hanyalah ilusi bagi mereka yang berani berjuang. Pada Wisuda ke-114 Unesa, Rabu, 2 Juli 2025, di Graha Unesa, Kampus II Lidah Wetan, Surabaya, ia berdiri tegak, menyandang gelar sarjana pendidikan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang memukau, 3.80. Pencapaian ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari tetesan keringat dan air mata yang tak terhitung. Setiap langkahnya adalah bukti nyata bahwa semangat tak pernah padam. Kisahnya adalah melodi inspirasi yang menggetarkan jiwa. Ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa, mengukir jejak di hati banyak orang.
Debora, gadis asal Medan, Sumatera Utara, adalah putri dari pasangan Togi Tamba Timbul Simanjuntak dan Rika Anita Sinorangkir, yang dikenal gigih dalam menuntut ilmu. Sejak 2021, ia telah menempuh pendidikan di Unesa, jauh dari dekapan orang tua, tinggal di asrama putri, dan harus beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali baru. Jarak geografis yang membentang luas tak sedikit pun melunturkan tekadnya. Keterbatasan penglihatan yang ia sandang justru menjadi cambuk, memacunya untuk terus melampaui batas. "Senang banget bisa sampai di titik ini," ucapnya dengan suara bergetar, "Saya, melalui langkah sejauh ini dengan perjuangan yang luar biasa juga." Kata-katanya adalah gema dari hati yang penuh syukur dan ketabahan.
Perjalanan Debora di Unesa bukanlah tanpa rintangan; setiap hari adalah medan perang yang harus ia taklukkan. "Saya beradaptasi antara asrama menuju ke kampus selama 6 bulan kira-kira, saya harus paham betul terkait jalan dan kelokan setiap jalan," kenangnya, menggambarkan betapa sulitnya menavigasi dunia yang tak terlihat. Namun, tantangan inilah yang justru membentuknya, mengajarkan banyak hal yang melampaui sekat-sekat kelas perkuliahan. Ia belajar kemandirian, ketahanan, dan arti sejati dari sebuah perjuangan. Setiap jatuh bangunnya adalah pelajaran berharga. Ia adalah contoh nyata bahwa kesulitan adalah guru terbaik.
Sebagai puncak dari perjuangannya, Debora menulis skripsi berjudul "Pemanfaatan ChatGPT untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Rotasi Bumi pada Siswa dengan Hambatan Penglihatan." Penelitiannya, yang dilakukan di SMP YPAB Surabaya, berhasil membuktikan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi alternatif pembelajaran inklusif yang sangat efektif. "Siswa tunanetra umumnya belum mengenal AI," jelasnya, "Padahal teknologi ini justru sangat bisa membantu proses belajar mereka melalui pembacaan teks otomatis." Inovasinya bukan hanya sekadar tugas akhir, melainkan sebuah terobosan yang membuka pintu bagi pendidikan yang lebih merata. Ia telah menyumbangkan sesuatu yang berarti bagi komunitasnya.
Dalam menyelesaikan skripsinya, Debora banyak mengandalkan semangat belajar mandiri yang luar biasa. Namun, ia juga mengakui peran penting bantuan dari teman dan keluarganya. "Untuk cek plagiasi misalnya, saya kirimkan ke orang tua saya agar dicek bagian mana yang merah-merah," kenangnya, menunjukkan betapa eratnya ikatan keluarga dalam setiap langkahnya. Ayahnya, Togi Tamba Timbul Simanjuntak, tak dapat menyembunyikan rasa bangga dan harunya. Ia selalu mendukung setiap langkah putrinya, asalkan dijalani dengan tanggung jawab dan kemandirian. Dukungan tanpa batas ini adalah pilar kekuatan Debora.
"Walau di tengah keterbatasan, anak saya mampu menunjukkan dengan tekad dan semangat, tidak ada yang tidak mungkin karena kita punya Tuhan," ujar sang ayah dengan mata berkaca-kaca. Kata-kata ini adalah pengakuan tulus akan kehebatan putrinya. "Saya selalu mendukung selama dia bisa mandiri dan tahu arah tujuannya. Bahkan dari jauh pun, saya tetap bisa memantau perkembangannya berkat bantuan teknologi." Kisah Debora adalah bukti nyata bahwa cinta dan dukungan keluarga adalah bahan bakar terkuat untuk meraih impian. Ia adalah inspirasi bagi setiap orang tua dan anak.
Kini, setelah berhasil menembus batas dan menyandang gelar sarjana, Debora membuka banyak opsi untuk langkah berikutnya. Apakah ia akan kembali ke Medan, bekerja di Surabaya, atau melanjutkan studi ke jenjang S2, masa depannya terbentang luas dengan berbagai kemungkinan. Yang pasti, semangat juang dan ketekadannya akan terus membimbingnya. Kisah Debora Dian Talenta Simanjuntak akan selalu menjadi pengingat bahwa keterbatasan hanyalah milik mereka yang tak mau berjuang. Ia adalah mercusuar harapan, menunjukkan bahwa dengan tekad yang kuat, setiap impian dapat diraih, bahkan di tengah kegelapan sekalipun.