TUNAS YANG TETAP TUMBUH
Namaku Sasa. Sejak kelas lima SD, aku pindah ke sebuah Sekolah Luar Biasa dan sampai sekarang aku menginjak SMP kelas 9. Banyak tetangga bingung kenapa aku belajar di sana, karena secara fisik aku terlihat sama seperti anak-anak lain. Tapi sebenarnya, aku juga punya kekurangan yang sejak lama membuatku susah mengikuti pelajaran di sekolah umum.
Tanganku gampang gemetar saat menulis. Pensilku seperti hidup sendiri, garisnya berlari ke mana-mana. dan setiap kali aku memotong kertas, hasilnya selalu miring dan compang-camping. Guru ku menyebutnya kelemahan motorik halus tetapi tidak parah, tapi cukup membuatku selalu tertinggal dengan teman-teman ku yang lainnya. Akhirnya, mereka menyarankan aku pindah ke lingkungan belajar yang iramanya lebih pelan dan sabar.
Awalnya aku menolak. Rasanya seperti diasingkan dari dunia yang membuatku merasa “normal”. Tapi Ibuku memegang pundakku dan berkata.
“Tempat belajar itu bukan soal gengsi, Sa. Yang penting tempat yang membuatmu bertumbuh.”
Kata-katanya lembut, tapi cukup kuat untuk menenangkan hatiku. Pada akhirnya, dengan langkah dan hati yang berat, aku akhirnya setuju.
Pagi itu, langit tampak sedikit mendung saat Ibu menggandeng tanganku memasuki halaman sekolah baru. Bukan sekolah umum seperti kebanyakan anak-anak yang lain, melainkan SLB (Sekolah Luar Biasa), tempat yang ibuku katakan bahwa aku akan lebih nyaman belajar disini.
Aku mengangguk waktu itu, tapi sebenarnya hatiku berdebar. Aku selalu merasa canggung ketika harus berada di tempat baru, apalagi tempat yang penuh dengan anak-anak yang terlihat “berbeda”. Tapi Ibuku bilang, aku juga termasuk berbeda. Bukan secara buruk,
hanya saja berbeda. Sesampainya di depan kelas baru ku, ibu berjongkok di hadapanku dan berkata.
“Mulai hari ini kamu belajar dari awal lagi ya, sayang.” kata Ibu sambil tersenyum hangat dan mengecup pucuk kepala ku dengan lembut.
Lagi-lagi aku mengangguk, meski sebenarnya aku takut memulai apa pun.
Begitu Ibu pergi, aku masuk ke kelas secara perlahan. Dan seketika pusat perhatian beralih kepadaku, aku mengamati sekitar, ada deretan kursi dan meja kecil berjajar, beberapa anak sibuk dengan aktivitasnya, dan guru berdiri di depan kelas menyambutku dengan senyuman.
Bu Lila, guru kelas, menyambutku dengan senyum yang membuatku sedikit lebih tenang. “Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru, Silahkan perkenalkan terlebih dahulu nak.”
“Halo semua….Kenalin nama ku Sasa, semoga kita bisa berteman dengan baik!!” ucapku dengan nada ramah dan sedikit gugup.
“HALOO SASAA…” Jawaban serentak dari teman-teman baru ku.
“Silakan duduk Sasa. Di sini, kita belajar sesuai kemampuan masing-masing, bukan kecepatan kelas.” kata guruku, Bu Lila.
Entah kenapa, kata-kata itu sedikit meredakan kecemasan yang kupendam.
Di sinilah aku bertemu dengan dua teman yang kemudian mengubah caraku memandang hidup, yaitu Reza dan Bayu.
Reza duduk di baris ketiga dari belakang. Kakinya tampak kaku, sedikit bengkok, membuatnya harus berjalan dengan tongkat biru yang selalu ia bawa. Ia merupakan anak tuna daksa, tapi dari sorot matanya yang hidup, seperti seseorang yang tidak pernah setengah hati menjalani hidup, Seolah selalu menemukan alasan untuk tersenyum setiap hari. Tetapi aku juga melihat betapa keras ia mengatur napas setiap kali menggerakkan kakinya. Ada perjuangan yang diam-diam ia sembunyikan dibalik tawa ringannya.
Sementara di sampingnya ada Bayu, anak tunagrahita yang sering kesulitan memahami instruksi sederhana. Cara bicaranya memang lambat, dan butuh waktu untuk memahami penjelasan guru. Tapi hatinya… hatinya mungkin yang paling lembut di antara kami semua. Ia selalu memberikan bekalnya, menolong teman tanpa diminta, dan suka menyimpan origami
kecil di tasnya untuk dibagikan pada siapa saja yang tampak sedih. Dan wajah cerianya, tawa lepasnya yang membuat suasana kelas terasa lebih hangat.
Di kelas ini, Mereka tidak belajar secepat anak-anak di sekolah umum, tetapi tidak satupun yang terlihat menyerah. Itu hal pertama yang membuatku kagum.
Suatu hari, pada saat mata Pelajaran prakarya, guru menugaskan untuk membuat miniatur taman kota secara berkelompok. Saat tugas membuat miniatur taman kota dimulai, aku mendekati mereka tanpa tahu apa yang mendorongku.
“Boleh gabung sama kalian?” tanyaku pelan.
Reza menoleh sembari mengangkat alis dan tertawa kecil. “Harusnya kami yang nanya ke kamu.”
Kami bekerja dengan ritme yang pelan tapi pasti. Aku memotong karton secara perlahan, Reza menggambar jalur taman, dan Timo menempelkan rumput kertas yang sering berantakan, tapi setiap kali salah, ia hanya tertawa seolah-olah itu hal yang wajar.
Sesekali tanganku gemetar ketika harus memotong karton bagian kecil. Reza memperhatikan, tetapi ia tidak menertawakanku. Ia hanya berkata, “Nggak apa-apa. Pelan pun jadi kok.”
Kalimat sederhana itu terasa seperti pelukan tak terlihat.
Hari-hari berikutnya berjalan lebih mudah dari yang kubayangkan. Tidak ada guru yang marah karena aku lambat. Tidak ada teman yang mengejek tulisanku yang berantakan. Di sini, kemajuan sekecil apa pun dianggap berarti.
Hari-hari terus berlalu, Miniatur taman kami selesai seminggu kemudian. Hasilnya jauh dari kata rapi. rumputnya miring, bangkunya goyah, dan kolam ikan buatan Bayu lebih mirip lubang air. Tapi anehnya, aku merasa bangga.
Saat presentasi, Bayu berbicara dengan suara pelan dan gemetar. Reza menambahkan penjelasan meski terlihat lelah. Aku menutup dengan menjelaskan proses pembagian kerja.
Bu Lila tersenyum sepanjang presentasi. “Kalian tidak hanya membuat taman, Tapi kalian membuat ruang untuk saling tumbuh.” Ucap bu lila dengan bangga.
Wajahku menghangat mendengarnya.
Tapi tidak selamanya hidup berjalan mulus. Saat bel pulang sekolah berbunyi, kami berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Tapi tiba-tiba Reza terpeleset di koridor. Tongkatnya terlepas, dan ia jatuh cukup keras yang membuat lututnya membentur lantai hingga memerah. Bayu panik dan berlari memanggil guru. aku juga ikut terpaku sejenak.
“A-aku panggil guru!” seru Bayu, dengan suara bergetar dan segera berlari memanggil guru. Aku berjongkok di samping Reza. “Sakit banget za?”
Ia mengangguk pelan, tapi tetap tersenyum seolah tidak ingin membuatku khawatir.
“Terkadang aku benci kakiku,” katanya lirih. “Tapi kalau aku menyerah… rasanya aku bakal lebih ketinggalan lagi.”
Dan pada saat itu aku sadar, Reza tidak hanya berjuang dengan tubuhnya. Ia juga berperang dengan perasaannya setiap hari.
Guru datang dan membawanya ke UKS. Bayu kembali sambil memeluk tasnya erat-erat. “Aku takut,” katanya lirih. “Aku kira Reza nggak bisa bangun lagi.”
Aku menepuk pundaknya. “Kita jaga dia sama-sama.”
Itu pertama kalinya aku merasa benar-benar bagian dari sesuatu.
Beberapa hari kemudian, Miniatur taman kami dipajang di rak paling depan kelas sebagai pengingat usaha kami. Reza semakin membaik dan tidak lagi malu meminta tolong ketika capek, Bayu perlahan mulai bisa mengikuti instruksi sederhana dari guru. Dan aku… mulai berdamai dengan tanganku sendiri.
Saat jam Istirahat pada siang hari, kami duduk bertiga di bawah pohon sambil membawa bekal masing-masing. Reza mulai membuka percakapan di sela-sela kita makan.
“Aku dulu nggak suka sekolah di SLB,” kata Reza.
“Kupikir ini tempat anak-anak yang dianggap ‘kurang’. Tapi ternyata justru di sini aku paling dihargai.
Bayu mengangguk. “Kalau bukan di sini, aku mungkin tiap hari dimarahi.”
Aku menghela napas. “Aku dulu juga malu. Aku kira cuma aku yang nggak normal. Tapi ternyata semua orang berjuang. Cuma caranya yang berbeda.”
Reza tersenyum. “Kamu bukan nggak normal, Sa. Kamu cuma tumbuh dengan cara kamu sendiri.”
Dan entah kenapa, kata-kata itu terasa lebih menyentuh daripada pujian apa pun yang ku dapatkan selama ini.
Sekarang, setiap kali melihat miniatur taman itu, aku tersenyum. Di sana aku belajar bahwa keterbatasan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan pintu untuk menemukan cara baru untuk melangkah.
Reza mengajarkanku bahwa keberanian tidak selalu terlihat besar.
Bayu mengajarkanku bahwa ketulusan adalah bentuk kecerdasan juga.
Dan aku belajar bahwa bergerak pelan bukan berarti berhenti.
Karena pada akhirnya, kami semua seperti tunas.
Sebagian tumbuh di tanah lembut, sebagian tumbuh di sela batu.
Tapi semuanya tetap tumbuh, selama ada cahaya dan sedikit ketulusan.
Dan di sekolah itu, aku menemukan keduanya, cahaya dan ketulusan dalam bentuk dua teman yang tidak pernah menyerah.
ZHALFA FADHILA RAMADHANI - 25010024029