DIAM YANG MENGUATKAN
Pagi itu, kelas XI-IPS 2 dipenuhi suara kursi digeser, tawa, dan percakapan anak-anak. Namun di salah satu sudut dekat jendela, suasana berbeda. Di sanalah Kiran duduk gadis baru berwajah lembut, rambut hitam diikat sederhana, dan mata yang menyimpan ketenangan. Ia membuka buku catatannya, menulis sesuatu dengan rapi. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya, Kiran adalah tuna wicara, namun ia bukan gadis yang sulit dipahami. Ia hanya berbicara melalui cara lain bahasa isyarat, tulisan, dan tatapan yang jujur. Beberapa siswa meliriknya hari itu ada yang penasaran, ada yang bingung. Kiran sudah biasa ia tahu keheningan sering membuat orang salah paham. Hingga seorang laki-laki berkacamata dengan gitar di punggung masuk kelas. Rambutnya sedikit acak-acakan, wajahnya cerah, seolah selalu siap tertawa.
Itu Rafa.
“Eh, kamu anak baru, ya?” sapanya ceria. “Aku Rafa. Boleh duduk sini?” Kiran tersenyum kecil dan mengangguk.
Rafa lalu mencoba berbicara dengan bahasa isyarat gerakannya salah semua. “nama...aku… Rafa… teman?” katanya kikuk.
Kiran menunduk, bahunya bergetar oleh tawa tanpa suara iamenulis di catatannya “Bahasa isyaratmu lucu. Tapi makasih sudah coba.”
Rafa tertawa “Mulai hari ini aku belajar serius!”
Dan sejak ia duduk di samping Kiran, sebuah cerita dimulai.
Hari-hari berikutnya, Rafa selalu menghampiri Kiran. Ia belajar bahasa isyarat pelan-pelan, meski sering salah Kiran membetulkannya dengan sabar. Rafa mengajari Kiran beberapa nada gitar, sementara Kiran mengajarinya menyusun kata-kata dengan tangan. Di kelas, guru sering
meminta Kiran menuliskan jawaban di papan tulis ia cerdas dan rapi. Banyak yang akhirnya sadar bahwa kemampuan berbicara tidak menentukan kecerdasan seseorang. Namun tidak semua hari berjalan mulus. Suatu siang, beberapa siswa menirukan gerakan tangan Kiran secara berlebihan sambil tertawa. Kiran melihatnya sekilas. Ia menunduk. Senyum kecilnya lenyap.
Rafa melihat itu.
Begitu pelajaran selesai, ia menghampiri mereka. “Kalian tahu yang kalian tiru itu bahasa, kan? Kebayang nggak kalau suara kalian hilang terus orang niru kalian sambil ketawa?” Anak-anak itu diamdiam, mereka tidak bermaksud jahat tapi tetap salah. Keesokan harinya, mereka meminta maaf kepada Kiran bahkan mencoba membuat isyarat maaf. Kiran tersenyum lembut ia memaafkan tanpa banyak syarat.
Sejak hari itu, teman-teman sekelas mulai lebih peka, mereka belajar memahami bukan hanya menerima. Beberapa minggu kemudian, guru sosiologi mengumumkan proyek kampanye bertema Sekolah Inklusif, setiap kelompok bebas membuat video ataupun poster.
“Gimana kalau kita angkat kisah Kiran?” kata Rafa di kelompoknya, Kiran kaget Ia menulis cepat
“Aku? Aku takut nggak bisa.”
Rafa menggeleng “Kamu justru orang yang paling ngerti soal inklusi.”
Kelompok mereka sepakat.
Mereka mulai membuat video di aula sekolah Rafa berperan sebagai narator, sementara Kiran menyampaikan pesannya melalui bahasa isyarat. Nadila menambahkan subtitle agar semua mengerti. Saat kamera menyala tangan Kiran bergetar ia hampir mundur. Tapi Rafa berdiri di belakang kamera, mengangkat dua jempol. “Aku di sini,” katanya lembut, Kiran menarik napas lalu berbicara dengan gerakan tangannya.
Bukan gerakan biasa ada keanggunan, ada ketenangan, ada keyakinan. Ia bercerita tentang bagaimana setiap orang punya cara sendiri untuk didengar. Tentang sekolah yang seharusnya menjadi rumah bagi semua. Ketika latihan selesai kelompoknya terpukau.
Hari festival sekolah tiba, sebuah layar besar dipasang di lapangan ketika video kelompok Kiran diputar, seluruh siswa diam.
Di layar, Kiran tampak menawan dengan tangan yang bergerak lembut. Di bagian akhir, Rafa memberikan kejutan teks tambahan “Inklusi adalah ketika kita menghargai perbedaan.”
“Dan aku belajar itu dari Kiran.”
Kiran menatap Rafa dengan pipi memerah, Rafa hanya tersenyum canggung, beberapa hari kemudian guru meminta Kiran dan kelompoknya melakukan presentasi langsung di aula. Mendengar itu Kiran panik. Berbicara di depan kamera satu hal, di depan orang lain hal yang berbeda. Saat hari presentasi, aula penuh tangan Kiran dingin. Rafa berdiri di sampingnya, memberi isyarat sederhana
Kamu bisa.
Kiran mengangguk pelan.
Ketika lampu sorot menyala, ia memulai. Gerakan tangannya pelan namun pasti. Setiap isyaratnya mengalir seperti puisi tanpa suara. Setiap ekspresi wajahnya menjelaskan hal-hal yang tidak butuh kata untuk dipahami.
Aula hening, ketika ia selesai seluruh ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan panjang. Beberapa berdiri, memberi penghormatan.
Kiran menunduk, air mata jatuh pelan bukan sedih tetapi lega. Untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya didengar sepenuhnya Rafa menyentuh bahunya pelan “Kamu luar biasa, Kir” Kiran menulis sambil tersenyum.
“Hari ini… aku bangga sama diriku.”
Setelah itu, banyak siswa mulai belajar bahasa isyarat dasar. Guru-guru makin peka menyesuaikan cara mengajar. Kiran bukan lagi gadis yang hanya duduk diam di pojok ia
menjadi bagian penting dalam perubahan suasana sekolah. Suatu sore, Kiran dan Rafa duduk di bawah pohon dekat lapangan. Langit jingga menyelimuti mereka, Rafa membuka suara pelan, “Kamu tahu… kamu nggak butuh suara untuk bikin orang denger kamu.” Kiran tersenyum, ia menggerakkan tangan
Terima kasih. Untuk selalu ada.
Rafa mengangguk, lalu berkata, “Kita jalan bareng terus, ya?”
Kiran mengisyaratkan
Selalu.
Zumrothus Sholekhah - 25010024040