Mengintip Sistem Intervensi Autisme Malaysia: Mahasiswa PLB Unesa Ikuti Student Outbound Mobility di UKM
Program Student Outbound Mobility Prodi S1 Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Surabaya memulai rangkaian kegiatan hari pertama pada 24 November 2025 di Autism Learning Lab, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Kunjungan ini menjadi kesempatan penting bagi mahasiswa untuk memahami langsung model layanan intervensi bagi anak autis melalui pengamatan, diskusi akademik, serta pemahaman tentang pengembangan program pembelajaran berbasis kebutuhan nyata di lapangan. Kegiatan ini dipimpin oleh Coordinator Autism Learning Lab, Dr. Mohd Syazwan Zainal, serta dukungan penuh dari Principal Autism Learning Lab, Mrs. Salmiah, Single. Kedua narasumber memberikan pemaparan komprehensif tentang struktur layanan, arah pengembangan pusat, serta prinsip pusat intervensi yang menekankan profesionalisme dan keberlanjutan.
Pada sesi awal, mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai konsep intervensi untuk anak autis yang dikembangkan UKM. Intervensi tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan dasar, tetapi juga diperluas untuk mencakup ranah akademik, kemandirian, serta persiapan menuju jenjang pendidikan formal. Pihak fakultas menekankan bahwa layanan yang diberikan tidak berhenti pada intervensi klinis semata, melainkan dikembangkan lebih jauh melalui riset dan inovasi yang terus dilakukan setiap tahun. Autism Learning Lab mencatat capaian pengembangan yang cukup pesat, dengan target pembuatan enam modul baru dalam satu tahun dan penyusunan satu prototipe kelas baru sebagai bentuk perluasan layanan. Dalam pengelolaannya, pusat juga menekankan pentingnya kerja sama internasional sebagai landasan perkembangan program intervensi yang semakin relevan dengan kebutuhan global.
Saat ini, pusat memiliki 15 guru dan melayani 26 murid yang terbagi dalam 4 kelas, masing-masing menjalankan dua sesi pembelajaran setiap hari, yakni sesi pagi dan sesi petang. Pemerintah Malaysia memberikan dukungan berupa subsidi sebesar 30–50%, yang memungkinkan layanan dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
Mahasiswa kemudian diajak memasuki beberapa kelas untuk memahami diferensiasi tujuan pembelajaran yang diterapkan. Autism Learning Lab menerapkan pengelompokkan berdasarkan kemampuan dan kebutuhan, bukan semata berdasarkan usia.
- Kelas 3–4 diperuntukkan bagi siswa dengan tingkat kebutuhan sedang. Fokus pembelajaran diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan akademik dasar serta latihan rutin yang memperkuat perilaku adaptif.
- Kelas 2 diarahkan untuk siswa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi secara sosial. Pada kelompok ini, aspek sosial diprioritaskan sebelum akademik.
- Kelas 1 merupakan kelas yang memadukan pembelajaran sosial dan akademik secara seimbang. Setelah mengikuti kelas 1 dan menunjukkan kesiapan, siswa dapat dialihkan menuju pendidikan dasar (primary school).
Pendekatan seperti ini mencerminkan prinsip individualized program, di mana setiap siswa mendapatkan jalur belajar yang berbeda sesuai kemampuan masing-masing. Autism Learning Lab menerapkan dua pendekatan utama. Pertama, 1-on-1 clinical approach, yaitu layanan intervensi individual yang difokuskan pada keterampilan spesifik seperti komunikasi, perilaku, atau kemampuan akademik tertentu. Pendekatan ini dikembangkan untuk memastikan setiap anak memperoleh dukungan yang tepat dan terukur.
Kedua, terdapat kelas sosial yang menerapkan konsep co-teaching. Di kelas ini, dua guru bekerja bersama dalam satu sesi untuk membantu siswa belajar berinteraksi, bekerja dalam kelompok, serta meniru perilaku sosial yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari. Kelas sosial juga menjadi wadah persiapan transisi menuju sekolah dasar. Selain itu, terdapat Social Class for Transition to Primary School, yaitu kelas baru yang dirancang untuk mempersiapkan siswa masuk ke lingkungan sekolah reguler. Program ini mencakup latihan mengikuti aturan sekolah, kemampuan berkomunikasi, penggunaan kantin, serta berbagai keterampilan adaptif lainnya.
Menariknya, Autism Learning Lab juga membuka kursus dan pelatihan untuk masyarakat umum, termasuk orang tua. Hal ini dilakukan karena pusat percaya bahwa keluarga memegang peran penting dalam keberhasilan intervensi. Fakultas UKM juga menekankan perlunya visibility, yaitu keterlihatan program kepada masyarakat sebagai bentuk pertanggungjawaban dan edukasi publik. Dalam aspek profesionalisme, pusat memiliki tradisi pembuatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bagian dari etika akademik dan bukti kontribusi nyata para pendidik terhadap inovasi pendidikan. Bagi mereka, menghasilkan karya merupakan budaya yang melekat dalam profesi pendidik.
Layanan di Autism Learning Lab dikenakan biaya 900 Ringgit Malaysia per bulan, dengan jadwal layanan setiap hari untuk sesi pagi dan sore. Sesi pagi biasanya diikuti anak usia 3–9 tahun, sementara sesi petang ditujukan bagi kelompok usia 18 tahun dengan fokus keterampilan hidup dan kemandirian. Program tidak hanya menyasar aspek akademik, tetapi juga praktik kehidupan sehari-hari, seperti cara menggunakan fasilitas umum, mengakses kantin, hingga memahami rutinitas yang berlaku di sekolah.
Kegiatan Student Outbound Mobility hari pertama memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa PLB Unesa untuk memahami bagaimana sebuah pusat intervensi internasional dirancang, dikelola, dan dikembangkan. Melalui kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori intervensi, tetapi juga menyaksikan praktik profesional yang terstruktur, berorientasi riset, dan berkelanjutan. Layanan yang diberikan di pusat tersebut juga berpotensi untuk diimplementasikan di S1 PLB sebagai bentuk kolaborasi dan penguatan praktik pembelajaran.
Pengalaman ini diharapkan memperkaya wawasan mahasiswa dalam merancang layanan pendidikan yang inklusif dan berkualitas, serta membuka peluang jejaring kolaborasi antara PLB Unesa dan UKM di masa mendatang.