Pelaksanaan Internasional Webinar “Inclusive Education Practices: Prespectives From Poland and Indonesia”

Surabaya, 20 Oktober 2023 - Program Studi Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar webinar internasional, bertema Inclusive Education Practices: Prespectives From Poland and Indonesia, dengan menghadirkan narasumber khusus yakni Mrs. Tatum Tivani dan Prof. Joanna. Acara ini diselenggarakan secara hybrid pada 20 Oktober 2023 di Gedung O1 FIP UNESA dan melalui Zoom. Acara tersebut juga dihadiri oleh para dosen Pendidikan Luar Biasa dan mahasiswa S1 PLB angkatan 2023. Kegiatan kuliah umum yang dilakukan secara brainstorming dan diskusi interaktif antara narasumber dan partisipan (mahasiswa).
Dalam webinar kali ini, Mrs. Tatum Tivani sebagai pemateri menunjukkan Power Point yang berisi materi “Inclusive Education Practices: Prespectives From Indonesia”. Beliau memberikan beberapa sambutan berupa perkenalan dirinya sebagai Head of Development Class (Special Educational Program) at Mutiara Harapan Islamic School. Setelah melakukan sambutan, Mrs. Tatum memberikan slide berupa gambar yang merepresentasikan konsep pendidikan inklusif, di mana semua anak, terlepas dari kemampuan atau latar belakang mereka, memiliki hak untuk belajar dan berkembang bersama di kelas yang sama. Makna dari slide gambar tersebut bahwa [endidikan inklusif merangkul keragaman dan merayakan kekuatan dan kebutuhan unik setiap anak (inklusif embracing diversity and celebrating the unique strengths and needs of each child) yang berarti keberagaman dan juga menunjukkan bahwa semua anak, terlepas dari kemampuannya, memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan yang berkualitas (regardless of their abilities, have the same right to access quality education) yang berarti kesetaraan.
Di slide PPT selanjutnya, Mrs, Tatum menjelaskan perbedaan antara “Equal” dan “Fair”, dimana equal merupakan memberikan atau menempatkan seseorang pada hal yang sama, tanpa mempertimbangkan karakteristik atau kebutuhan setiap individu. Sedangkan fair merupakan memberikan atau menempatkan seseorang pada hal yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing individu.
Materi selanjutnya, Tantangan Pendidikan inklusif terhadap “Kurangnya Dukungan Individu untuk Siswa yang Membutuhkan Dukungan” yaitu meliputi stigma sosial, aksesibilitas, pelatihan guru yang tidak memadai, diferensiasi dan akomodasi selama penilaian/asesmen, hambatan komunikasi, kesejahteraan siswa. Dalam pembahasan yang berkaitan dengan Praktik Pendidikan inklusif yang baik, Mrs. Tatum menyampaikan ada 3 poin yang perlu diperhatikan, antara lain focus pada kekuatan siswa, tanggap pada kebutuhan siswa, membuat mereka merasa hidupnya lebih berarti.
Pada diskusi selanjutnya, pemateri dan audiens saling membahas terkait materi pokok kerjasama antar tim pendidikan yang didalamnya terdapat siswa dan teman sebaya, orang tua atau pengasuh, pihak sekolah, terapis, psikologis atau dokter, dan pemerintah. Adanya Pendidikan Inklusif memerlukan seluruh komponen instansi pendidikan untuk mau mulai bergerak dari sekarang menciptakan likungan sekolah yang inklusif, berinvestasi dalam pelatihan guru, memastikan aksesibilitas bagi siswa (infrastruktur), dukungan individual untuk setiap kebutuhan spesifik, dan komunikasi yang terbuka dan berkesinambungan antara anggota tim.
Dari materi di pertengahan acara, Mrs. Tatum menyampainkan bahwa pengalaman seorang guru terkait menciptakan lingkungan yang inklusif adalah mulai dengan melakukan observasi dan asesmen untuk mengetahui kebutuhan siswa dan bantuan apa saja yang akan diperlukan, setelah itu buat target tujuan jangka pendek atau jangka panjang dari hasil asesmen dan observasi, terakhir buat alur kegiatan stimulasi dan intervensi dengan terapis (jika dibutuhkan).
Dalam materi terakhir, Mrs. Tatum menyampaikan terkait aspek pada anak yang perlu diperhatikan saat hendak melakukan pembelajaran, antara lain kognitif, verbal, emosi, dan sosial, sensorik motor. Aspek tersebut dapat kita samakan pada sebuah rumah yang mana kognitif merupakan atapnya, verbal, emosi, dan sosial merupakan badan/dinding dari rumah, sensorik motor merupakan pondasi dari sebuah rumah. Dari perumpamaan tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa setiap aspek sangat berpengaruh antara satu sama lain, jika salah satu dari aspek tersebut tidak teridentifikasi selama asesmen maka akan menjadi masalah yang berkelanjutan.