Visiting Lecture di UNESA Bahas Sistem Komunikasi Anak dengan Hambatan Pendengaran

Rabu, 25 September 2024 - Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk Kuliah Tamu dengan mengundang Prof. Dr. Totok Bintoro, M.Pd., yang akrab disapa dengan Prof. Totok, pakar bidang pendidikan khusus dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada tahun 2024. Acara ini diselenggarakan sebagai upaya untuk meningkatkan wawasan mahasiswa tentang pendidikan khusus, khususnya pendidikan anak tunarungu.
Dalam pemaparannya, Prof. Totok mendefinisikan ketulian sebagai suatu kondisi yang mengakibatkan hilangnya fungsi pendengaran pada taraf normal, yaitu tuli ringan, sedang, dan berat, yang dapat menjadi penyebab ketulian pada anak. Kondisi ini memengaruhi kemampuan komunikasi dan bahasa anak, sehingga diperlukan layanan pendidikan khusus. Lebih lanjut, ia memaparkan tentang sistem yang penting bagi anak tuna rungu, yaitu Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI).
Mahasiswa yang mengikuti kelas ini tidak hanya dituntut untuk memahami teori, tetapi juga dituntut untuk menguasai keterampilan praktis seperti bahasa isyarat. “Pendidikan khusus bagi anak tunarungu tidak hanya menuntut pasien, tetapi juga kemampuan menggunakan media komunikasi dengan benar,” tegas Prof. Totok.
Prof. Totok memaparkan penggunaan tanda-tanda isyarat seperti SIBI sebagai salah satu metode yang mereka gunakan untuk pemerolehan bahasa pada anak tuna rungu. Sistem ini dikembangkan pada tahun 1980-an dan masih terus direvisi agar sesuai dengan kebutuhan anak tuna rungu di Indonesia.
Selain itu, Prof. Totok juga memaparkan metode pembelajaran lain yang dikenal dengan Maternal Reflective Method (MMR) yang antara lain mampu memfasilitasi peningkatan kemampuan berbahasa anak tuna rungu. Metode ini menekankan keterkaitan pembelajaran bahasa dengan sifat repetitif, dan pentingnya introspeksi dalam proses pembelajaran bahasa.
Dilihat dari data yang dipaparkan, MMR lebih unggul dibandingkan kegiatan yang mengajarkan anak tuna rungu MMR lebih banyak menggunakan komunikasi “mulut, kepala, dan tangan” dibandingkan dengan metode konvensional. “Anak yang diajarkan metode MMR perkembangan bahasanya lebih baik, lebih cepat dibandingkan dengan yang diajarkan metode biasa,” imbuhnya.
Penerapan sikap dan kesadaran merupakan hal yang relatif sulit bagi para pendidik yang menangani anak-anak dengan disabilitas pendengaran. “Mahasiswa juga harus belajar membentuk emosi untuk memahami emosi anak-anak dengan disabilitas pendengaran dan merawat anak-anak sesuai kebutuhan mereka,” ungkapnya. Mahasiswa yang mengikuti kuliah tamu ini mengaku banyak mendapatkan informasi yang berkaitan dengan pendidikan tuna rungu. “Hadirin sekalian, ini adalah pengalaman yang paling luar biasa dalam hidup saya. Kita tidak hanya dibekali teori, kita juga melakukan kegiatan nyata,” tutur salah seorang peserta kuliah. UNESA berharap dengan ‘Kuliah Tamu’ ini, mahasiswa akan lebih siap menghadapi tantangan yang ada dibidang pendidikan khusus. Diharapkan mereka akan memberikan dampak positif bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus, terutama dalam hal komunikasi dan pendidikan. Kuliah tamu ini juga merupakan salah satu upaya UNESA untuk meningkatkan pendidikan anak-anak dengan kebutuhan khusus di Indonesia. Dengan hadirnya sosok seperti Prof. Totok, UNESA yakin akan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan inklusif di tanah air.