A TEACCH Class Model for Comprehensive Intervention in Children with Autism Spectrum Disorder

Autisme adalah gangguan perkembangan saraf dengan berbagai kekuatan dan kesulitan, sehingga dikenal sebagai gangguan spektrum autisme (Ure, Rose, Bernie, & Williams, 2018). Prevalensi autisme cenderung meningkat secara global. Data CDC Amerika menunjukkan peningkatan prevalensi autisme sebesar 50% dalam 10 tahun, dari 1 banding 88 anak pada 2008 menjadi 1 banding 44 anak pada 2018 (CDC, 2022). WHO memperkirakan 1 dari 100 anak di dunia mengalami gangguan spektrum autisme, dengan prevalensi antara 1-4% (WHO, 2022). Penelitian lain mencatat prevalensi sebesar 1% di negara maju dan 1,4% di negara berkembang di Asia Selatan (Sarfraz & Kausar, 2019). Di Indonesia, belum ada data pasti tentang prevalensi autisme, tetapi pada 2010 diperkirakan terdapat 2,4 juta anak dengan spektrum autisme, bertambah sekitar 500 anak per tahun (KPPPA, 2018). Autisme mencakup berbagai aspek perkembangan, seperti komunikasi, interaksi sosial, perilaku repetitif, dan kognitif. Penyebab gangguan ini belum sepenuhnya dipahami, namun diyakini melibatkan faktor genetik dan lingkungan (Sousa, 2016). Intervensi farmakologis belum terbukti efektif mengatasi inti masalah autisme (Chaplin, 2018), sehingga pendekatan nonfarmakologis menjadi pilihan utama. Pendekatan TEACCH dirancang untuk menciptakan lingkungan terstruktur dengan dukungan visual, sesuai dengan karakteristik anak autisme (Mesibov, Shea, & Schopler, 2004).
Pendekatan TEACCH telah terbukti efektif meningkatkan perkembangan anak autisme di berbagai negara seperti China, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat (Sarfraz & Kausar, 2019; Sanz-Cervera et al., 2018). Di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa TEACCH dapat meningkatkan keterampilan pengembangan diri anak autisme (Hikma & Kasiyati, 2021). Di Jawa Timur, pendekatan ini mulai diperkenalkan oleh Forum Peduli Autisme Jawa Timur (FPAJT) sejak 2014. Namun, mahasiswa jurusan PLB FIP UNESA hanya mendapatkan teori, gambar, dan video tentang TEACCH tanpa praktik langsung. Padahal, keberhasilan TEACCH sangat bergantung pada lingkungan terstruktur dengan dukungan visual yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi model kelas TEACCH sebagai intervensi komprehensif bagi anak autisme. Rumusan masalah penelitian ini meliputi cara implementasi TEACCH dan hasilnya terhadap perkembangan anak autisme. Dengan pemahaman ini, peneliti berharap dapat mengembangkan model pembelajaran yang efektif untuk anak autisme melalui pendekatan TEACCH.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus instrumental (Creswell, 2002). Sumber data dipilih secara purposif dan snowball sampling untuk mengidentifikasi informan yang relevan (Sugiyono, 2019). Informan penelitian meliputi wakil kepala sekolah kurikulum dan dua guru dari sebuah SLB Autisme di Malang, Jawa Timur, yang telah menggunakan TEACCH sejak 2014. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi (Creswell, 2012). Wawancara dilakukan untuk menggali cara implementasi TEACCH dan dampaknya terhadap perkembangan anak autisme. Observasi digunakan untuk melihat langsung penerapan TEACCH di kelas. Analisis data dilakukan dengan model Miles & Huberman, meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data yang telah direduksi dikelompokkan berdasarkan tema tertentu, kemudian dibandingkan dengan hasil observasi untuk validasi. Langkah ini bertujuan mendapatkan temuan yang valid dan kredibel terkait penerapan TEACCH dalam pendidikan anak autisme.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi TEACCH melibatkan pengaturan lingkungan fisik yang sesuai dengan kebutuhan anak autisme. Lingkungan kelas dirancang terstruktur dengan dukungan visual seperti jadwal visual, urutan aktivitas, dan sudut sensorik. Guru menyediakan sistem kerja mandiri yang memungkinkan anak mengambil, menyelesaikan, dan mengembalikan tugas secara mandiri. Aktivitas pembelajaran dirancang fleksibel sesuai kebutuhan masing-masing anak. Dukungan visual digunakan untuk membantu anak memahami informasi, seperti papan komunikasi dan skrip visual. Bantuan (prompt) diberikan sesuai kebutuhan anak, mulai dari isyarat ringan hingga bantuan fisik penuh, yang dikurangi secara bertahap hingga anak menjadi mandiri. Sistem ini dirancang individual untuk menyesuaikan tingkat kemampuan dan perkembangan anak autisme. Dengan pendekatan ini, anak dapat belajar dalam lingkungan yang lebih terstruktur dan terdukung secara visual.
Penerapan TEACCH memberikan dampak positif pada berbagai aspek perkembangan anak autisme, termasuk komunikasi, sosial, emosional, perilaku, kognitif, dan kemandirian. Dalam komunikasi, dukungan visual seperti PECS membantu anak menyampaikan keinginan dan memahami instruksi. Sosial, anak menjadi lebih mampu berbagi, bergiliran, dan berinteraksi dengan cara yang lebih sesuai. Prediktabilitas dan jadwal visual membantu mengurangi kecemasan, sehingga perilaku anak menjadi lebih kooperatif. Dalam aspek kognitif, dukungan visual membantu anak memahami informasi dengan lebih baik. Sistem kerja mandiri meningkatkan kemandirian anak dalam melaksanakan tugas. Hasil penelitian ini mendukung temuan sebelumnya bahwa TEACCH efektif meningkatkan kemampuan komunikasi, interaksi sosial, dan regulasi emosi anak autisme (Mazza et al., 2021).
Keberhasilan TEACCH didukung oleh pendekatan pengajaran yang terstruktur, yang disesuaikan dengan karakteristik anak autisme sebagai pembelajar visual (Mesibov et al., 2005). Jadwal aktivitas visual membantu anak memprediksi kegiatan, sehingga mengurangi kecemasan terkait ketidakpastian. Sistem kerja mandiri dirancang secara individual sesuai kemampuan dan kebutuhan anak, membantu mereka memahami tugas dan tetap fokus. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa intervensi TEACCH efektif dalam meningkatkan kemampuan sosial dan komunikasi anak autisme (Eftekhari et al., 2022). Selain itu, struktur pembelajaran yang terorganisir dengan baik membuat lingkungan belajar lebih menarik dan bermakna bagi anak autisme, memungkinkan mereka memahami lingkungan dengan lebih mudah (Carnahan et al., 2011).
Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa penerapan TEACCH dalam kelas melibatkan pengaturan lingkungan fisik yang terstruktur, dukungan visual, dan fleksibilitas dalam aktivitas pembelajaran. Pendekatan ini terbukti meningkatkan kemampuan anak autisme dalam aspek komunikasi, sosial, emosional-perilaku, kognitif, dan kemandirian. Penggunaan jadwal visual, sistem kerja mandiri, dan bantuan bertahap memungkinkan anak belajar lebih efektif sesuai kebutuhan mereka. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan model pembelajaran untuk anak autisme, khususnya di Indonesia. Temuan ini mendukung penggunaan TEACCH sebagai intervensi komprehensif untuk meningkatkan perkembangan anak autisme. Dengan implementasi yang tepat, TEACCH dapat membantu anak autisme menghadapi tantangan dan mencapai potensi terbaik mereka dalam berbagai aspek kehidupan.
A Journal by: Febrita Ardianingsih