Teaching Science to University Students with Visual Impairment

Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menerima penghargaan Inclusive Campus Award pada tahun 2014 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Penghargaan ini diberikan atas layanan unggul yang diberikan kepada mahasiswa dengan disabilitas. Saat ini, terdapat sekitar 50 mahasiswa dengan disabilitas di UNESA, termasuk mahasiswa dengan gangguan penglihatan total. Mereka diwajibkan mengikuti mata kuliah yang sama dengan mahasiswa lain, salah satunya adalah mata kuliah Sains. Mata kuliah ini menjadi tantangan besar karena banyaknya konsep abstrak yang sulit dipahami tanpa visualisasi. Kebanyakan pengajaran Sains berbasis pada instruksi visual dan kegiatan langsung yang sulit diakses oleh mahasiswa tunanetra total. Mereka membutuhkan dukungan melalui penggunaan indra lain, seperti sentuhan dan pendengaran, untuk belajar Sains. Sayangnya, banyak dosen yang kurang berpengalaman dalam mengajar mahasiswa dengan gangguan penglihatan. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan penyesuaian berupa teknologi bantu dan pengembangan media pembelajaran yang inklusif. Penyesuaian ini bertujuan agar mahasiswa dengan gangguan penglihatan dapat memiliki kesempatan belajar yang setara.
Dalam pembelajaran Sains bagi mahasiswa tunanetra total, teknologi bantu seperti perangkat pembaca layar, printer braille, dan label taktil sangat diperlukan. Penggunaan teknologi ini memungkinkan mahasiswa memahami materi melalui suara atau sentuhan. Guru dan dosen memiliki peran penting dalam merancang pembelajaran dan membangun keterlibatan mahasiswa dalam kelas. Untuk mencapai aksesibilitas yang lebih baik, dosen perlu memahami karakteristik belajar mahasiswa tunanetra total. Mahasiswa tunanetra membutuhkan grafik taktil dan keterampilan yang relevan agar mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Selain itu, lingkungan pembelajaran yang inklusif juga harus mendukung partisipasi aktif mereka. Dengan begitu, mereka bisa melanjutkan pembelajaran Sains ke tingkat pendidikan tinggi dan berkarir di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika). Selama tiga dekade terakhir, berbagai teknologi adaptif berbasis komputer untuk laboratorium Sains telah dikembangkan. Mahasiswa tunanetra yang sukses umumnya mampu mengatasi berbagai hambatan dengan belajar mandiri. Namun, dukungan dari dosen dan teknologi bantu tetap menjadi kebutuhan utama mereka.
Studi ini menggunakan pendekatan studi kasus individual untuk memahami pengalaman seorang mahasiswa tunanetra total dalam belajar Sains di UNESA. Penelitian dilakukan melalui wawancara tatap muka dan eksperimen dengan satu partisipan. Partisipan adalah seorang mahasiswa berusia 22 tahun dengan pengalaman belajar 14 tahun di lingkungan inklusif. Ia masih menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan informasi dari lingkungan sekitar tanpa input visual. Partisipan menggunakan tongkat putih untuk membantu navigasi di kampus. Dalam proses pengumpulan data, wawancara lanjutan dilakukan melalui telepon untuk memvalidasi jawaban partisipan. Data dianalisis secara kualitatif dan disajikan dalam tema-tema tertentu. Hasil penelitian diharapkan memberikan wawasan untuk mendukung penelitian lebih lanjut. Fokus utama penelitian ini adalah memahami faktor-faktor pendukung untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa tunanetra total dalam pembelajaran Sains.
Penyesuaian materi pembelajaran menjadi langkah awal dalam membantu mahasiswa tunanetra total memahami konsep Sains. Prosedur laboratorium diadaptasi menggunakan Braille agar mahasiswa dapat mengikuti kegiatan praktikum. Misalnya, silinder ukur diberi tanda taktil untuk mempermudah pengukuran. Mahasiswa juga menggunakan perangkat lunak pembaca layar seperti JAWS untuk mengakses materi yang dikirim melalui email oleh dosen. Teknologi ini membantu mahasiswa membaca dokumen digital dengan suara dan mendukung berbagai aplikasi seperti Microsoft Office. Selain itu, mahasiswa menyelesaikan ujian tertulis dengan mendengarkan soal yang dibacakan secara lisan. Partisipasi aktif mahasiswa tunanetra dalam pembelajaran kimia dapat meningkatkan sikap positif terhadap Sains. Implementasi adaptasi materi ini mendorong keterlibatan mahasiswa secara lebih mandiri. Dengan dukungan ini, mereka lebih siap untuk menghadapi tantangan di bidang Sains.
Penyesuaian instruksi juga penting untuk membantu mahasiswa tunanetra total dalam pembelajaran Sains. Partisipan sering belajar dalam kelompok kecil yang memungkinkan interaksi dengan teman sekelas. Dalam kelompok ini, ia mendapatkan bantuan untuk memahami konsep melalui penjelasan verbal dan demonstrasi interaktif. Diskusi kelompok kecil juga memungkinkan partisipan menyusun konsep dan mempresentasikan hasil diskusi. Saat mengerjakan tugas, partisipan secara manual mengonversi lembar kerja ke Braille. Sesi bimbingan satu-satu diperlukan terutama saat menyelesaikan tugas yang melibatkan visualisasi seperti grafik. Selama ujian, dosen membacakan soal secara langsung di ruangan terpisah untuk menghindari distraksi. Pendekatan ini memungkinkan dosen memberikan perhatian penuh kepada mahasiswa tunanetra. Dengan adanya penyesuaian ini, mahasiswa lebih percaya diri dalam belajar Sains.
Penyesuaian lingkungan belajar juga berkontribusi pada partisipasi mahasiswa tunanetra total. Ruang kelas dan laboratorium diatur agar bebas hambatan, sehingga mahasiswa dapat bergerak dengan aman. Semua alat praktikum diberi label taktil untuk mendukung kemandirian mahasiswa. Lingkungan yang ramah ini memungkinkan mahasiswa melakukan eksperimen secara mandiri. Kolaborasi dengan teman sekelas juga mendorong mereka untuk lebih aktif dalam kegiatan laboratorium. Selain itu, suasana kelas yang kondusif membantu mahasiswa fokus dalam belajar. Label pada alat bantu taktil memastikan bahwa mereka dapat memahami instruksi dengan jelas. Penyesuaian ini juga membantu mengurangi rasa frustrasi saat menghadapi tantangan belajar. Dengan lingkungan yang mendukung, mahasiswa tunanetra dapat mengikuti pembelajaran Sains dengan lebih efektif.
Kesimpulannya, pembelajaran Sains bagi mahasiswa tunanetra total memerlukan penyesuaian media pembelajaran dan lingkungan belajar. Penyesuaian ini meliputi adaptasi materi, instruksi, dan lingkungan untuk memastikan partisipasi aktif mereka. Kolaborasi dengan teman dan bimbingan individu juga berperan penting dalam meningkatkan keterlibatan mahasiswa. Mahasiswa tunanetra total membutuhkan aksesibilitas yang lebih baik untuk mendukung kemandirian dalam belajar. Dengan pendekatan yang tepat, mereka dapat mengembangkan sikap positif terhadap Sains dan meningkatkan kepercayaan diri. Lingkungan yang inklusif memungkinkan mereka berpartisipasi secara setara dengan mahasiswa lain. Implementasi teknologi bantu, seperti perangkat lunak pembaca layar dan label taktil, menjadi solusi penting dalam mengatasi tantangan belajar. Dengan dukungan ini, mereka memiliki peluang yang sama untuk mencapai kesuksesan di bidang Sains.
A Journal by: Asri Wijiastuti