Parents’ tutorial on how to keep hands hygiene among children with disabilities during the covid-19 pandemic

Data dari situs resmi Pemerintah Jawa Timur menunjukkan bahwa pada Januari 2021, lebih dari seratus ribu orang terinfeksi COVID-19 (infocovid19.jatimprov.go.id). Jumlah ini terus meningkat secara stabil sejak saat itu. COVID-19 ditularkan melalui droplet pernapasan dan kontak dekat antar manusia (Baker et al., 2020). Oleh karena itu, infeksi dapat dicegah dengan menerapkan jaga jarak sosial, kebersihan pernapasan, dan kebersihan tangan. Kebersihan tangan merupakan salah satu langkah krusial dalam mencegah penyebaran COVID-19 (Amsal, 2020). WHO menganjurkan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air secara teratur atau menggunakan hand sanitizer jika sabun dan air tidak tersedia. Studi menunjukkan bahwa mencuci tangan dengan air mengalir secara signifikan mengurangi kontaminasi mikroba (Zhao et al., 2020). Penggunaan "alcohol-based hand rub (ABHR)" dianggap lebih praktis dibandingkan mencuci tangan dengan sabun dan air (Edmonds et al., 2012). Namun, cuci tangan tetap dianjurkan karena dapat menghilangkan berbagai jenis patogen yang tidak selalu efektif dibunuh oleh hand sanitizer (Berardi et al., 2020). WHO juga merekomendasikan komposisi bahan tertentu untuk hand sanitizer selama pandemi COVID-19 (WHO, 2009).
Di sekolah-sekolah khusus, kebiasaan mencuci tangan telah menjadi bagian dari kampanye kesadaran, termasuk dalam kampanye 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak). Bagi siswa dengan disabilitas, khususnya siswa dengan tunanetra total, mencuci tangan menjadi tantangan tersendiri. Orang tua atau guru perlu memberikan instruksi khusus agar siswa dapat melakukannya secara mandiri (Wedler et al., 2014). Beberapa metode untuk meningkatkan perilaku mencuci tangan melibatkan aktivitas menarik seperti permainan atau cerita (Dutton et al., 2011). Selama pandemi, peran orang tua menjadi sangat penting dalam mengajarkan anak tentang cuci tangan karena pembelajaran dilakukan di rumah. Orang tua siswa dengan tunanetra total perlu dilatih untuk mengajarkan cara mencuci tangan yang benar kepada anak mereka. Faktor perilaku menjadi salah satu penentu utama dalam kesehatan individu dan masyarakat (Notoatmodjo, 2010). Dibutuhkan alat bantu yang tepat untuk membantu orang tua memberikan pembelajaran kepada anak dengan tunanetra total mengenai mencuci tangan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan tutorial berupa media audiovisual untuk membantu orang tua mengajarkan anak tunanetra total cara mencuci tangan. Metode penelitian yang digunakan adalah model pengembangan ADDIE, yaitu Analisis, Desain, Pengembangan, Implementasi, dan Evaluasi (Morrison, 2019). Pada tahap Analisis, kerangka penelitian disusun, dan ide pembuatan video tutorial dikembangkan. Tahap Desain melibatkan pembuatan storyboard video tutorial dan materi untuk orang tua. Tahap Pengembangan melibatkan produksi video tutorial beserta buku panduan yang berisi langkah-langkah mencuci tangan sesuai standar WHO. Tahap Implementasi dilakukan melalui pelatihan kepada sepuluh orang tua dari dua sekolah khusus di Indonesia. Data dari orang tua diambil melalui kuesioner sederhana sebelum dan sesudah pelatihan. Analisis data dilakukan secara kuantitatif menggunakan statistik deskriptif.
Pembuatan video tutorial dimulai dengan pemilihan tema "Kebersihan Tangan Ramah Difabel untuk Mencegah COVID-19." Proses ini melibatkan pembuatan skenario, pemilihan aktor, dan lokasi syuting. Video ini bertujuan untuk membangun kebiasaan kebersihan tangan pada siswa difabel dan meningkatkan pemahaman orang tua tentang penggunaan hand sanitizer. Perangkat yang digunakan meliputi kamera DSLR Canon EOS 400D, perangkat komputer dengan spesifikasi tinggi, dan perangkat lunak Ulead 10 untuk pengeditan gambar dan suara. Video yang dihasilkan menampilkan langkah-langkah mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer yang sesuai dengan standar WHO. Media ini dapat diakses melalui YouTube dan Google Drive. Dengan adanya media ini, orang tua diharapkan dapat lebih memahami dan mendampingi anak mereka dalam menjaga kebersihan tangan.
Pelatihan dilakukan secara langsung di Sekolah Khusus Gedangan dan Kemala Bhayangkari dengan mematuhi protokol kesehatan. Materi yang diberikan meliputi pentingnya kekebalan tubuh, struktur dan penularan COVID-19, serta cara mencuci tangan yang benar. Peserta pelatihan terdiri atas orang tua dan guru dari kedua sekolah tersebut. Pelatihan diawali dengan pengenalan, penyampaian materi, dan demonstrasi cuci tangan sesuai standar WHO. Orang tua diajarkan cara memilih dan menggunakan sabun atau hand sanitizer berdasarkan petunjuk verbal dan fisik. Demonstrasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta tentang pentingnya kebersihan tangan dalam mencegah COVID-19.
Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan orang tua. Hasil menunjukkan peningkatan skor rata-rata dari 3,9 sebelum pelatihan menjadi 7 setelah pelatihan (skala maksimum 10). Selain itu, orang tua juga menunjukkan partisipasi aktif selama pelatihan, seperti keseriusan, kedisiplinan, dan kesopanan. Pelatihan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa video modeling dapat meningkatkan pemahaman peserta (Campbell et al., 2015). Respon positif dari orang tua menunjukkan bahwa media ini efektif dalam membantu mereka mengajarkan kebiasaan mencuci tangan kepada anak mereka.
Penelitian ini berhasil mengembangkan tutorial dalam bentuk video untuk membantu orang tua anak tunanetra total dalam mengajarkan kebiasaan mencuci tangan. Video tutorial ini dilengkapi dengan panduan langkah-langkah penggunaan sabun dan hand sanitizer sesuai standar WHO. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan orang tua, serta antusiasme mereka selama pelatihan. Media audiovisual ini dapat digunakan secara lebih luas oleh orang tua anak dengan disabilitas lainnya untuk membantu mereka menjaga kebersihan tangan selama pandemi. Tutorial ini menjadi solusi inovatif dalam mendukung kebiasaan kebersihan tangan yang ramah bagi anak-anak dengan disabilitas.
A Journal by: Asri Wijiastuti