Assisting Learning From Home for Children: Developing the Video Tutorial for Parents

Pandemi Covid-19 yang dimulai di Wuhan, Tiongkok, membawa dampak signifikan bagi kehidupan masyarakat global, termasuk Indonesia. Pada 29 Januari 2020, sebanyak 239 warga negara Indonesia yang berada di Wuhan dievakuasi ke tanah air. Dalam upaya menekan penyebaran virus, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia mengeluarkan Surat Edaran pada 24 Maret 2020 tentang Kebijakan Pendidikan di Masa Darurat. Kebijakan ini mencakup pembelajaran dari rumah yang dilakukan secara daring untuk memberikan pengalaman belajar bermakna bagi siswa tanpa menuntut pencapaian kurikulum secara penuh. Namun, pelaksanaan pembelajaran daring ini memunculkan tantangan baru, terutama bagi siswa kelas rendah di sekolah dasar yang belum mampu mengakses internet secara mandiri. Di sisi lain, tidak semua orang tua memiliki literasi teknologi atau kemampuan psikologis untuk mendampingi anak belajar. Banyak keluhan dari orang tua terkait kesulitan mendampingi anak belajar, terutama dalam hal jadwal yang padat dan tugas yang berlebihan. Contohnya, seorang siswa kelas lima harus menyelesaikan tiga mata pelajaran dengan 20 soal setiap tugas hingga pukul 20.00 malam. Variasi persepsi guru terhadap kebijakan ini juga berdampak pada tingkat stres siswa, khususnya siswa kelas rendah yang lebih rentan.
Dalam pelaksanaan pembelajaran dari rumah, ditemukan bahwa instrumen penilaian yang digunakan mayoritas bersifat kuantitatif. Google Form sering digunakan untuk mengumpulkan jawaban siswa berupa pilihan ganda atau esai terstruktur. Sayangnya, format kunci jawaban yang tidak sesuai kerap membuat hasil belajar siswa dinilai kurang memuaskan, meskipun jawaban mereka sebenarnya benar secara logis. Contohnya, jika kunci jawaban berupa "sports", sementara siswa menjawab "spor ts", jawaban tersebut dianggap salah. Situasi ini menciptakan tekanan psikologis bagi siswa dan orang tua yang mendampingi mereka. Dalam masa awal kehidupan anak, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam pendidikan dan pengasuhan, termasuk mendukung aktivitas belajar anak. Oleh karena itu, panduan untuk orang tua menjadi penting agar mereka dapat mendampingi anak belajar dari rumah dengan lebih efektif. Harvard University mengeluarkan panduan pengasuhan yang terdiri atas tujuh komponen untuk membentuk kepribadian baik pada anak. Salah satu komponen utamanya adalah meluangkan waktu bersama anak secara berkala dan membangun percakapan bermakna, yang dapat mempererat hubungan dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan.
Komponen kedua dalam panduan Harvard adalah menjadi teladan dan pembimbing bagi anak. Orang tua diharapkan menunjukkan nilai-nilai seperti kejujuran, kerendahan hati, dan kesopanan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga anak terdorong untuk menirunya. Jika terjadi kesalahan, anak diajak untuk menemukan solusi bersama orang tua. Komponen ketiga adalah mengajarkan anak untuk bersikap baik dan peduli terhadap orang lain, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Selanjutnya, komponen keempat menekankan pentingnya memberikan tanggung jawab kepada anak, seperti membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sederhana. Orang tua juga didorong untuk memberi apresiasi atas usaha anak. Komponen kelima bertujuan memperluas pemahaman anak tentang kepedulian terhadap orang lain dengan melibatkan mereka dalam diskusi. Sebagai contoh, orang tua dapat meminta pendapat anak saat ingin membantu tetangga. Komponen keenam adalah mendorong anak untuk bertindak, seperti bekerja sama dengan teman untuk menyelesaikan masalah. Terakhir, komponen ketujuh mengajarkan anak cara mengelola emosi dan menyelesaikan konflik dengan memahami perasaan mereka sendiri maupun orang lain.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan video tutorial untuk membimbing orang tua mendampingi anak belajar di rumah selama pandemi Covid-19. Desain penelitian menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (R&D) yang merujuk pada model Gall, Gall, dan Borg. Delapan tahapan penelitian meliputi analisis kebutuhan, pengembangan strategi pembelajaran, hingga evaluasi formatif. Video tutorial terdiri atas lima segmen yang mencakup pengenalan motivasi anak, kesalahan metode pendampingan, hingga pendekatan pedagogis yang benar. Video ini dirancang untuk mengakomodasi berbagai gaya belajar orang tua, seperti auditori, visual, dan kinestetik. Selain itu, tujuan pembelajaran disusun berdasarkan taksonomi Bloom yang mencakup tingkat pengetahuan hingga penciptaan. Instrumen penilaian berupa kuesioner digunakan untuk mengukur efektivitas video ini, dengan uji kelayakan dilakukan oleh ahli materi, media, dan desain. Penelitian ini melibatkan 10 orang tua siswa kelas rendah dalam uji coba terbatas. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan persentase untuk menentukan tingkat kelayakan dan kepraktisan produk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa video tutorial ini mendapatkan tingkat kelayakan yang tinggi dari para ahli. Validasi oleh ahli materi memperoleh skor 87,5%, ahli media 91%, ahli desain 86%, dan uji kepraktisan oleh orang tua memperoleh skor 89,6%. Video ini dianggap efektif untuk menyampaikan pesan pedagogis dan psikologis kepada orang tua. Panduan ini mengintegrasikan empat dari tujuh komponen panduan Harvard, seperti menjadi teladan, memberikan tanggung jawab, memperluas pemahaman anak, dan mendorong anak untuk bertindak. Selain itu, konsep mendampingi anak dalam video ini sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menekankan pentingnya membimbing kekuatan alamiah anak untuk mencapai kebahagiaan. Dalam salah satu segmen, ditunjukkan bagaimana seorang ibu mendampingi anaknya dengan penuh kelembutan, membantu menyelesaikan tugas matematika dengan benar tanpa memberikan tekanan. Interaksi ini mencerminkan pentingnya pendampingan yang berpusat pada kebutuhan dan kenyamanan anak.
Ahli media menyatakan bahwa video tutorial ini mampu menjadi media pembelajaran yang efektif dalam menyampaikan pesan kepada orang tua. Sadiman (2010) menyatakan bahwa media pembelajaran harus mampu menarik perhatian, minat, dan emosi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Penelitian Dian Rudiawan menunjukkan bahwa penggunaan model multimedia tutorial lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan media cetak. Rata-rata nilai kelas eksperimen yang menggunakan tutorial multimedia mencapai 90, jauh lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol dengan nilai rata-rata 58. Penemuan ini mendukung efektivitas video tutorial sebagai alat bantu orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah selama pandemi. Dengan pendekatan multimedia, video ini mampu menjembatani kesenjangan antara kebutuhan pedagogis dan keterbatasan teknologi yang dimiliki sebagian besar orang tua. Hal ini juga menegaskan pentingnya media interaktif dalam membangun hubungan yang konstruktif antara orang tua dan anak.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa video tutorial untuk mendampingi anak belajar di rumah selama pandemi Covid-19 dinyatakan layak dan praktis digunakan. Video ini memberikan panduan yang efektif bagi orang tua untuk mendukung proses belajar anak, khususnya siswa kelas rendah di sekolah dasar. Dengan menyajikan pendekatan psikologis, pedagogis, dan pengasuhan, video ini mampu membantu orang tua memahami kebutuhan dan motivasi anak secara mendalam. Selain itu, video ini diharapkan dapat diakses secara luas melalui platform seperti YouTube atau laman resmi universitas, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas. Pengembangan produk ini menjadi langkah awal untuk mendukung pendidikan inklusif di masa darurat, sekaligus memperkuat peran orang tua sebagai mitra dalam proses belajar anak. Dengan panduan ini, diharapkan hubungan antara orang tua dan anak dapat semakin harmonis, serta meningkatkan keberhasilan pembelajaran dari rumah.
A Journal by: Siti Masitoh