CRITICAL ANALYSIS OF THE INCLUSIVE EDUCATION IMPLEMENTATION IN THE CONCEPT OF FREEDOM OF THE SOUL AND ZONA PROXIMAL DEVELOPMENT

Pendidikan inklusif di Indonesia memiliki tantangan besar dalam memastikan semua siswa, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus, dapat belajar bersama di lingkungan yang sama. Dalam hal ini, pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan teori *Zone of Proximal Development (ZPD)* Vygotsky menawarkan perspektif yang relevan. Filosofi Ki Hadjar Dewantara, yang menekankan pada kebebasan jiwa dan pendekatan mendidik yang alami, memiliki potensi besar untuk mendukung pendidikan inklusif. Prinsip “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” memberikan landasan untuk menciptakan suasana belajar yang inklusif dan mendukung keberagaman. Sistem among, yang menempatkan guru sebagai pembimbing, selaras dengan kebutuhan pendidikan inklusif untuk memberikan perhatian khusus pada siswa sesuai kodrat mereka. Sementara itu, teori ZPD Vygotsky menjelaskan pentingnya memberikan dukungan kepada siswa sesuai kemampuan mereka. Pendekatan ini memastikan anak dapat mengembangkan potensi maksimalnya dengan bimbingan yang terstruktur. Oleh karena itu, integrasi kedua pemikiran ini menjadi peluang besar untuk memperbaiki sistem pendidikan inklusif di Indonesia. Implementasi yang matang akan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk guru, orang tua, dan pembuat kebijakan.
Filosofi Ki Hadjar Dewantara menempatkan anak sebagai subjek utama dalam pendidikan, bukan sekadar objek yang diatur. Pendekatan ini menekankan pentingnya memahami kebutuhan dan potensi setiap individu. Dalam konteks pendidikan inklusif, prinsip ini relevan untuk mendorong penghormatan terhadap keragaman dan keberagaman kebutuhan siswa. Guru sebagai pengarah dan pengasuh bertugas menciptakan suasana belajar yang nyaman dan mendukung. Hal ini penting untuk memastikan anak-anak berkebutuhan khusus merasa diterima di kelas inklusif. Selain itu, Dewantara mengajarkan pentingnya kebebasan anak dalam belajar, yang berarti memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi kemampuan mereka secara mandiri. Namun, kebebasan ini tidak berarti tanpa batas, melainkan tetap berada dalam kerangka nilai dan tujuan pendidikan. Filosofi ini menguatkan gagasan bahwa setiap anak memiliki hak untuk belajar dan berkembang sesuai kodrat mereka. Dengan demikian, pendidikan inklusif dapat diterapkan tanpa kehilangan esensi budaya lokal. Filosofi ini juga mengajarkan pentingnya kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mendukung proses belajar.
Teori ZPD Vygotsky menambahkan dimensi penting dalam mendukung pendidikan inklusif melalui konsep *scaffolding*. ZPD menggambarkan jarak antara kemampuan anak secara mandiri dan kemampuan mereka dengan bantuan. Dalam pendidikan inklusif, konsep ini menjadi dasar bagi guru untuk memahami kebutuhan siswa dan memberikan dukungan yang sesuai. Misalnya, seorang siswa berkebutuhan khusus mungkin tidak dapat menyelesaikan tugas secara mandiri, tetapi dengan bantuan guru atau teman sebaya, mereka mampu melakukannya. Pendekatan ini memastikan siswa tetap terlibat dalam proses belajar tanpa merasa terbebani. Vygotsky juga menekankan pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran, yang relevan dengan pendidikan inklusif. Dalam lingkungan inklusif, siswa belajar dari satu sama lain melalui kerja sama dan interaksi. Ini membantu membangun rasa saling pengertian dan empati di antara siswa. Selain itu, pendekatan ZPD memungkinkan guru untuk merancang strategi pembelajaran yang adaptif. Dengan memanfaatkan teori ini, pendidikan inklusif dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi semua siswa.
Integrasi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Vygotsky memberikan kerangka kerja yang kuat untuk pendidikan inklusif di Indonesia. Dewantara menawarkan pendekatan yang menghargai nilai-nilai budaya lokal, sementara Vygotsky memberikan kerangka ilmiah untuk mendukung siswa secara efektif. Dalam praktiknya, sistem among dapat diadaptasi untuk mengakomodasi kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Guru dapat menggunakan konsep *scaffolding* untuk membantu siswa mencapai ZPD mereka tanpa menghilangkan kebebasan belajar. Kombinasi kedua pendekatan ini menciptakan keseimbangan antara kebebasan dan bimbingan dalam proses pendidikan. Hal ini juga mendukung prinsip inklusivitas, yaitu memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar. Namun, implementasi integrasi ini membutuhkan pemahaman yang mendalam dari para guru dan pembuat kebijakan. Pelatihan guru menjadi sangat penting untuk memastikan mereka mampu mengadopsi kedua pendekatan ini secara efektif. Dengan demikian, pendidikan inklusif dapat menjadi lebih efektif dan relevan bagi siswa di Indonesia.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan etnografi. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen, diskusi kelompok terarah, dan kuesioner kepada guru dan pembuat kebijakan. Temuan menunjukkan bahwa integrasi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan teori ZPD Vygotsky dapat menciptakan pendidikan inklusif yang lebih efektif. Guru yang memahami prinsip among mampu menciptakan suasana belajar yang mendukung bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Selain itu, teori ZPD membantu guru merancang strategi pembelajaran yang adaptif dan mendukung perkembangan siswa. Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya pelatihan guru untuk memahami karakteristik siswa dan kebutuhan mereka. Guru yang terlatih dapat menjadi fasilitator yang efektif dalam lingkungan inklusif. Oleh karena itu, dukungan pemerintah dan institusi pendidikan sangat diperlukan untuk mendukung penerapan pendidikan inklusif ini.
Selain pelatihan guru, penelitian ini menekankan pentingnya peran orang tua dan masyarakat dalam mendukung pendidikan inklusif. Orang tua harus dilibatkan dalam proses pendidikan untuk memahami kebutuhan anak mereka. Hal ini juga membantu menciptakan sinergi antara rumah dan sekolah. Masyarakat, di sisi lain, perlu mendukung keberadaan pendidikan inklusif dengan menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua anak. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kebijakan yang mendukung pendidikan inklusif. Kebijakan tersebut harus mencakup alokasi sumber daya yang memadai untuk mendukung anak-anak berkebutuhan khusus. Selain itu, kebijakan harus memastikan bahwa guru mendapatkan pelatihan yang sesuai. Dengan dukungan dari semua pihak, pendidikan inklusif dapat menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.
Penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia. Dengan mengintegrasikan pemikiran lokal Ki Hadjar Dewantara dan teori global Vygotsky, pendidikan inklusif dapat menjadi lebih relevan dan efektif. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pelatihan guru, keterlibatan orang tua, dan dukungan kebijakan. Dengan pendekatan ini, pendidikan inklusif dapat menjadi alat yang kuat untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadilan. Selain itu, penelitian ini membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut dalam mengembangkan model pendidikan inklusif yang berbasis budaya lokal. Keberhasilan implementasi pendidikan inklusif ini membutuhkan komitmen dari semua pihak. Dengan demikian, harapan untuk menciptakan pendidikan yang ramah bagi semua anak dapat terwujud.
A Journal by: Asri Wijiastuti