Involving Children with Special Needs in Managing a Digital-based Waste Bank

Sejak 31 Maret 2020, Indonesia resmi menghadapi pandemi Covid-19 melalui Keputusan Presiden No. 11 Tahun 2020 tentang Status Darurat Kesehatan Masyarakat. Pandemi ini berdampak pada berbagai aspek, termasuk peningkatan limbah anorganik di tingkat rumah tangga (Harimurti et al., 2020). Perubahan perilaku masyarakat dalam membeli makanan melalui layanan pengantaran serta preferensi makanan instan seperti makanan beku, mi instan, dan camilan menjadi penyebab utama peningkatan limbah tersebut. Di sisi lain, strategi bisnis pengusaha makanan yang beralih ke layanan daring juga berkontribusi terhadap peningkatan penggunaan kemasan plastik (Prakoso, 2020). Penelitian LIPI pada tahun 2020 menunjukkan lonjakan limbah plastik karena sebagian besar masyarakat berbelanja daring dengan kemasan plastik. Limbah plastik ini berpotensi menjadi mikroplastik atau nanoplastik yang mencemari tanah, air, dan udara. Mikroplastik yang terakumulasi dalam tubuh manusia dapat menyebabkan dampak kesehatan seperti toksisitas partikel (Wright & Kelly, 2017) hingga risiko kanker (Wang et al., 2020). Selain itu, toksisitas mikroplastik dapat memengaruhi sistem saraf pusat dan sistem reproduksi manusia (Waring, Harris, & Mitchell, 2018). Oleh karena itu, diperlukan solusi pengelolaan limbah plastik dari sumbernya untuk mencegah dampak buruk pada kesehatan manusia.
Salah satu cara efektif untuk mengelola limbah adalah dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan limbah dari sumbernya (Sulistyorini, Darwis, & Gutama, 2015). Edukasi tentang prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) menjadi sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam menangani limbah. Pendidikan pengelolaan limbah perlu dilakukan sejak usia dini untuk membangun kesadaran lingkungan yang berkelanjutan (Hansen & Yuliawati, 2019). Anak-anak dapat dilatih mengelola limbah, termasuk melalui pendekatan kreatif seperti bank sampah (Pranungsari et al., 2019). Bank sampah adalah konsep pengumpulan limbah kering yang dikelola seperti bank, di mana masyarakat dapat menyimpan limbah dan mendapatkan imbalan berupa uang. Konsep ini memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung kesehatan lingkungan dan masyarakat (Asteria & Heruman, 2016). Proses pengelolaan bank sampah meliputi penyortiran, penyetoran, penimbangan, pencatatan, dan penjualan limbah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan bank sampah dapat meningkatkan keterampilan pengelolaan limbah pada anak-anak (Arsyati, 2018). Namun, keterlibatan anak berkebutuhan khusus dalam pengelolaan bank sampah, terutama berbasis digital, masih jarang diteliti.
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur keterampilan anak berkebutuhan khusus dalam mengelola bank sampah digital. Dua kelompok partisipan dipilih dengan teknik purposive sampling, yakni anak-anak dengan disabilitas intelektual dan anak-anak dengan gangguan pendengaran. Kelompok pertama terdiri dari 10 anak dengan disabilitas intelektual dari sebuah SLB di Surabaya, sementara kelompok kedua melibatkan 14 anak dengan gangguan pendengaran dari SLB di Kabupaten Malang. Kedua kelompok mendapatkan pelatihan bank sampah dengan pendampingan sesuai karakteristik masing-masing. Kelompok pertama dilatih menyortir limbah plastik dan kertas dalam empat pertemuan, sedangkan kelompok kedua dilatih mencatat transaksi menggunakan Microsoft Excel dalam sepuluh pertemuan. Pelatihan dirancang dengan durasi satu jam per sesi dengan rasio pendamping yang memadai. Setelah pelatihan, dilakukan uji performa untuk mengukur keterampilan mereka, yang hasilnya dianalisis secara deskriptif menggunakan Microsoft Excel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok anak dengan disabilitas intelektual memiliki rata-rata keterampilan menyortir limbah sebesar 84,40, yang termasuk dalam kategori sangat baik. Seluruh anak dalam kelompok ini berhasil masuk ke kategori sangat baik tanpa ada yang tergolong baik, sedang, buruk, atau sangat buruk. Temuan ini mengindikasikan bahwa anak dengan disabilitas intelektual mampu menjadi penyortir limbah yang andal jika diberikan pelatihan yang sesuai. Keterbatasan mereka dalam memahami materi kompleks dapat diatasi dengan fokus pada materi yang spesifik dan sederhana (Algahtani, 2017). Pelatihan yang diawasi dengan baik terbukti mampu meningkatkan keterampilan mereka secara signifikan. Hal ini memperkuat pandangan bahwa anak dengan disabilitas intelektual dapat dilatih untuk menguasai keterampilan tertentu dengan dukungan pendidikan khusus (Shree & Shukla, 2016). Dukungan sosial dalam lingkungan pendidikan juga menjadi faktor penting untuk keberhasilan pelatihan (Klang, 2020).
Kelompok kedua, yakni anak-anak dengan gangguan pendengaran, menunjukkan rata-rata keterampilan mencatat transaksi secara digital sebesar 80,36, yang tergolong dalam kategori baik. Sebanyak 42,86% anak berada dalam kategori sangat baik, sementara sisanya 57,14% berada dalam kategori baik. Tidak ada anak dalam kategori sedang, buruk, atau sangat buruk. Pelatihan ini memanfaatkan teknologi bantu yang dirancang untuk memudahkan pengguna dengan gangguan pendengaran, seperti fitur Microsoft Office yang ramah disabilitas (Microsoft, 2015). Anak-anak dengan gangguan pendengaran memerlukan akomodasi pembelajaran, seperti penerjemah bahasa isyarat, pembelajaran berbasis praktik, dan teknologi bantu lainnya (Staake, 2019). Hasil ini membuktikan bahwa pendekatan hands-on dalam pelatihan komputer sangat efektif bagi anak-anak dengan gangguan pendengaran (Ladner et al., 2020). Dengan demikian, pengelolaan bank sampah berbasis digital memungkinkan mereka berkontribusi secara signifikan terhadap pengelolaan limbah.
Penelitian ini membuka peluang bagi sekolah luar biasa (SLB) untuk mengembangkan unit bank sampah berbasis digital. Keterlibatan anak berkebutuhan khusus dalam kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial. Kegiatan di bank sampah berkontribusi pada kebersihan lingkungan, yang pada akhirnya mendukung kesehatan masyarakat (Wulandari, Utomo, & Narmaditya, 2017). Dalam jangka panjang, pendidikan bank sampah dapat meningkatkan kesadaran kolektif akan pentingnya pengelolaan limbah. Selain itu, penelitian ini mendorong inovasi sosial untuk melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus dalam program lingkungan. Penelitian lebih lanjut dapat diperluas pada kelompok anak berkebutuhan khusus lainnya atau peran tambahan dalam pengelolaan bank sampah. Hal ini menciptakan peluang baru dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif dan ramah lingkungan.
Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa anak dengan disabilitas intelektual dan gangguan pendengaran memiliki potensi untuk terlibat dalam pengelolaan bank sampah digital. Anak dengan disabilitas intelektual dapat berperan sebagai penyortir limbah, sedangkan anak dengan gangguan pendengaran dapat menjadi pencatat transaksi. Pelatihan yang diberikan harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kelompok untuk menghasilkan output yang optimal. Partisipasi anak berkebutuhan khusus dalam pengelolaan bank sampah tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan manusia secara keseluruhan. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi positif bagi pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia dan menciptakan perubahan nyata dalam pengelolaan limbah berbasis komunitas.
A Journal by: Febrita Ardianingsih