Mahasiswa Pintar, Tapi Mulut Kotor: Cermin Gagalnya Didikan di Rumah?
Fenomena mahasiswa yang terbiasa berkata kasar kini semakin mudah ditemukan di berbagai kampus dan ruang publik. Bahasa yang dulu dianggap tabu kini berubah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Tidak sedikit yang menganggapnya sebagai bentuk keakraban atau ekspresi diri. Namun, jika ditelaah lebih dalam, kebiasaan ini memunculkan pertanyaan serius tentang akar perilaku tersebut. Salah satu faktor yang patut disorot adalah pola asuh orang tua sejak anak masih kecil.
Dalam banyak kasus, cara orang tua berkomunikasi di rumah menjadi contoh utama bagi anak. Anak cenderung meniru apa yang mereka dengar dan lihat setiap hari tanpa filter yang matang. Jika lingkungan keluarga terbiasa menggunakan kata-kata kasar, maka anak akan menganggap itu sebagai hal normal. Sebaliknya, jika sopan santun dijaga, anak pun belajar menghargai etika berbahasa. Proses ini berlangsung terus hingga anak tumbuh dewasa, termasuk saat menjadi mahasiswa.
Sayangnya, tidak semua orang tua menyadari dampak dari kebiasaan komunikasi mereka. Ada yang menganggap kata kasar sebagai hal biasa selama tidak disertai kekerasan fisik. Padahal, bahasa memiliki kekuatan membentuk karakter dan cara berpikir seseorang. Ketika anak terbiasa dengan bahasa kasar, sensitivitas terhadap norma sosial bisa menurun. Hal ini kemudian terbawa hingga mereka berinteraksi di lingkungan kampus.
Di sisi lain, mahasiswa sering berdalih bahwa penggunaan bahasa kasar hanyalah bagian dari budaya pergaulan. Mereka merasa tidak ada yang salah selama lawan bicara tidak tersinggung. Namun, argumen ini mengabaikan fakta bahwa ruang publik memiliki standar etika yang lebih luas. Tidak semua orang memiliki toleransi yang sama terhadap bahasa tersebut. Di sinilah terlihat adanya kesenjangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial.
Pola asuh yang kurang menekankan pentingnya etika berkomunikasi juga berkontribusi pada rendahnya kesadaran ini. Orang tua yang jarang memberikan batasan atau teguran membuat anak tidak memiliki panduan yang jelas. Akibatnya, anak tumbuh tanpa memahami konteks kapan harus berbicara santun. Ketika masuk ke dunia kampus, kebiasaan ini sulit diubah. Lingkungan pertemanan justru sering memperkuat perilaku tersebut.
Namun, menyalahkan orang tua sepenuhnya juga bukan solusi yang adil. Mahasiswa sebagai individu dewasa seharusnya mampu merefleksikan perilaku mereka sendiri. Pendidikan tinggi tidak hanya tentang akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Kesadaran untuk memperbaiki diri seharusnya muncul dari dalam, bukan sekadar tekanan dari luar. Jika tidak, maka label “mahasiswa” hanya menjadi simbol tanpa makna etika.
Fenomena ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama, baik bagi orang tua maupun mahasiswa. Keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak. Namun, proses pembelajaran tidak berhenti di rumah. Kampus dan lingkungan sosial juga memiliki peran penting dalam memperbaiki kebiasaan yang kurang tepat. Pada akhirnya, cara seseorang berbicara mencerminkan siapa dirinya, dan itu tidak bisa disembunyikan di balik alasan apa pun.