Pengaruh Metode VAKT terhadap Pengetahuan dan Keterampilan Guru Dalam Menangani Anak Kesulitan Belajar melalui Pembuatan Handicraft

Pendidikan dasar adalah tahap awal yang penting untuk membentuk fondasi keterampilan dasar bagi siswa, terutama di tingkat Sekolah Dasar (SD). Pada usia ini, konsep-konsep penting dan sikap dasar mulai dibangun, membuat perhatian yang lebih mendalam menjadi krusial (Santrock, 2009). Data menunjukkan bahwa tingkat pengulangan kelas pada tingkat SD mencapai 13,1% dan tingkat putus sekolah sebesar 28%, dengan mayoritas adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) (Yensy, 2009). ABK, seperti yang didefinisikan oleh Rief dan Heimburge (1996), sering kali mengalami kesulitan belajar meskipun memiliki kecerdasan normal atau di atas rata-rata. Kesulitan belajar ini meliputi bidang Bahasa Indonesia dan Matematika, tetapi seringkali menunjukkan prestasi baik dalam mata pelajaran lain (Jamaris, 2009). Tiga kategori kesulitan belajar yang umum adalah disleksia, disgrafia, dan diskalkulia (Santrock, 2012). Disleksia berkaitan dengan kesulitan membaca, disgrafia dengan menulis, dan diskalkulia dengan matematika (Geary, 2004). Prevalensi anak dengan kesulitan belajar di sekolah mencapai sekitar 6,2% dari populasi siswa (Sunardi, 2007). Hal ini menunjukkan pentingnya intervensi pendidikan yang tepat, termasuk metode pembelajaran yang sesuai untuk mendukung anak-anak ini.
Metode multisensori, termasuk metode VAKT (Visual, Auditory, Kinesthetic, Tactile), menjadi pendekatan efektif untuk membantu anak dengan kesulitan belajar. Pendekatan ini menggunakan berbagai modalitas sensorik untuk meningkatkan pemahaman materi pembelajaran (Siddiq, 2009). Metode VAKT yang dikembangkan oleh Fernald dan Orton-Gillingham melibatkan teknik membaca dan menulis yang terstruktur, membantu anak mengenali huruf atau angka melalui teknik seperti tracing atau menjiplak (Gearheart, dalam Abdurrahman, 2009). Aktivitas awal melibatkan fokus pada huruf tunggal, memadukan huruf, hingga membentuk kata pendek (Learner, dalam Dewi, 2015). Guru memainkan peran penting dalam menerapkan metode ini melalui langkah-langkah seperti menunjukkan kartu huruf, menjelaskan bunyi huruf, dan meminta siswa menyalin atau menelusuri huruf (Komalasari, 2015). Metode ini juga efektif untuk siswa diskalkulia, terutama dalam mengenali angka-angka yang mirip seperti 6-9 atau 3-8. Melalui penggunaan handicraft seperti kotak pensil berbahan kain, metode ini memberikan media belajar yang menarik dan praktis. Dengan demikian, metode VAKT tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa tetapi juga keterampilan motorik mereka.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain one-group pretest-posttest untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan metode VAKT. Pelatihan dilakukan di SD Hang Tuah 1 Kota Surabaya dengan melibatkan 17 guru, dimulai dengan pretest untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan awal guru. Pretest terdiri dari 18 pertanyaan tentang pengetahuan dan 8 pertanyaan tentang keterampilan penerapan metode VAKT. Tahap pelaksanaan meliputi pemberian materi tentang identifikasi anak kesulitan belajar, konsep metode VAKT, dan penerapannya melalui handicraft. Setelah pelatihan, posttest dilakukan untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru. Metode multisensori yang digunakan dalam pelatihan ini memanfaatkan berbagai modalitas untuk meningkatkan konsentrasi dan pemahaman guru terhadap materi. Lingkungan belajar yang multisensori dirancang untuk merangsang minat dan motivasi, memberikan pengalaman belajar yang menarik dan mendalam. Dengan pelatihan ini, diharapkan guru dapat lebih memahami dan mengatasi kebutuhan khusus siswa kesulitan belajar. Selain itu, pelatihan ini memberikan keterampilan praktis bagi guru dalam menggunakan metode VAKT dalam pembelajaran di kelas.
Hasil pretest menunjukkan bahwa 57,55% guru memiliki pengetahuan tentang metode VAKT, sementara 63,16% memiliki keterampilan penerapan metode ini. Setelah pelatihan, hasil posttest menunjukkan peningkatan signifikan, dengan 77,21% guru memiliki pengetahuan yang lebih baik dan 79,11% menunjukkan peningkatan keterampilan. Peningkatan ini mencerminkan efektivitas metode VAKT dalam meningkatkan pemahaman dan kemampuan guru dalam mengajar anak dengan kesulitan belajar. Selain itu, pelatihan ini membantu guru memahami peran penting sikap positif dan penghargaan terhadap anak dalam proses belajar mereka (Hestenes & Carroll, 2000). Guru yang memahami kebutuhan khusus anak dapat memberikan dukungan yang lebih baik, memotivasi anak, dan membantu mereka mencapai potensi akademik yang lebih tinggi (Burns et al., 1984). Dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan ini, guru mampu mengimplementasikan metode VAKT secara efektif, termasuk melalui handicraft. Langkah ini memberikan dampak positif pada anak dalam belajar membaca, menulis, dan berhitung dasar.
Meskipun metode VAKT terbukti efektif, masih banyak guru yang belum sepenuhnya memahami kebutuhan anak dengan kesulitan belajar. Kurangnya persepsi positif terhadap anak-anak ini sering kali menghambat perkembangan mereka dalam tugas-tugas sekolah (Frederickson & Furnham, 1998). Beberapa guru juga cenderung melihat anak-anak ini sebagai individu dengan keterbatasan ingatan, pendengaran, atau orientasi spasial, yang memperparah hambatan belajar mereka (Hallahan & Kauffman, 2003). Oleh karena itu, penting untuk memberikan pelatihan yang terus menerus kepada guru agar mereka lebih memahami dan menghargai keunikan setiap anak. Pendekatan multisensori seperti metode VAKT dapat menjadi solusi praktis, memungkinkan anak untuk belajar melalui berbagai modalitas yang relevan dengan kebutuhan mereka. Guru juga perlu didukung dengan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif, seperti handicraft, untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Dengan pemahaman dan keterampilan yang lebih baik, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung.
Penelitian ini sejalan dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan efektivitas metode VAKT dalam meningkatkan hasil belajar anak dengan kesulitan belajar (Angusina, 2019). Penggunaan metode VAKT melalui handicraft memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru serta memberikan pengalaman belajar yang menarik bagi siswa. Langkah ini membantu guru memahami tantangan yang dihadapi anak kesulitan belajar dan bagaimana menerapkan strategi yang sesuai. Dengan pelatihan ini, guru tidak hanya dilatih untuk memahami teori tetapi juga keterampilan praktis dalam mengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini relevan untuk diterapkan secara luas di berbagai lingkungan pendidikan. Oleh karena itu, pengembangan pelatihan serupa dapat membantu lebih banyak guru dalam menangani anak dengan kesulitan belajar.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan metode VAKT melalui handicraft dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru secara signifikan. Dengan peningkatan ini, guru lebih siap membantu anak dengan kesulitan belajar dalam proses pembelajaran di kelas. Peran guru yang positif, dukungan yang konsisten, dan penghargaan terhadap keunikan anak menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan mereka. Untuk itu, pengembangan pelatihan lebih lanjut perlu dilakukan untuk memastikan metode VAKT diterapkan secara lebih luas. Penerapan metode ini dapat menjadi alternatif yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar anak dengan kesulitan belajar. Selain itu, kolaborasi antara guru, orang tua, dan institusi pendidikan diperlukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung. Melalui langkah-langkah ini, pendidikan dapat menjadi lebih inklusif, memberikan kesempatan yang setara bagi semua anak untuk mencapai potensi penuh mereka.
A Journal by : Ni Made Marlin Minarsih