Penglihatan dari Jiwa
Pagi itu halaman sekolah masih terlihat cukup sepi. Matahari baru saja naik dan udara pagi terasa sejuk. Beberapa siswa mulai berdatangan, ada yang berjalan santai sambil mengobrol dengan temannya, ada juga yang terlihat terburu-buru menuju kelas karena takut terlambat. Suasana sekolah perlahan mulai ramai.
Di salah satu bangku taman dekat koridor sekolah, seorang siswi bernama Nara duduk dengan tenang. Ia memegang tongkat putih di tangannya sambil sesekali mengangkat wajahnya seperti sedang merasakan hangatnya matahari pagi.
Nara memang tidak bisa melihat seperti orang lain. Sejak kecil kedua matanya tidak mampu menangkap cahaya. Dunia yang ia kenal bukanlah warna atau bentuk seperti yang dilihat kebanyakan orang. Ia mengenal dunia melalui suara, sentuhan, dan juga aroma yang ada di sekitarnya.
Walaupun begitu, Nara tidak pernah terlihat sedih dengan keadaannya. Ia justru terlihat cukup tenang menjalani kehidupannya seperti siswa lainnya.
“Nara!”
Suara itu terdengar dari arah samping.
Nara langsung tersenyum kecil.
“Pagi, Sinta,” jawabnya.
Sinta adalah sahabat dekat Nara di sekolah. Hampir setiap hari Sinta selalu menemani Nara berjalan menuju kelas atau kantin.
“Kamu sudah lama di sini?” tanya Sinta sambil duduk di sampingnya.
“Nggak juga,” jawab Nara santai. “Aku cuma suka duduk di sini sebelum masuk kelas. Suasananya masih tenang.”
Sinta tersenyum. Ia sudah terbiasa dengan kebiasaan Nara yang sering datang lebih pagi.
Beberapa hari kemudian, seorang siswa baru datang ke sekolah itu. Namanya Reno. Ia baru saja pindah dari kota lain karena pekerjaan ayahnya.
Hari pertama masuk sekolah membuat Reno merasa sedikit canggung. Ia belum mengenal banyak orang dan hanya mengikuti arah teman-teman menuju kelas.
Saat berjalan di koridor sekolah, Reno melihat seorang siswi berjalan pelan dengan tongkat putih di tangannya. Langkahnya hati-hati tetapi terlihat cukup yakin.
Reno berhenti sejenak dan memperhatikannya.
“Dia tidak bisa melihat?” bisik Reno kepada seorang siswa di dekatnya. “Iya,” jawab siswa itu. “Namanya Nara.”
Reno kembali melihat ke arah Nara yang terus berjalan menyusuri koridor. Dalam pikirannya, ia membayangkan betapa sulitnya hidup tanpa bisa melihat apa pun.
Namun yang membuat Reno heran adalah ekspresi Nara yang terlihat cukup tenang, seolah ia sudah sangat terbiasa dengan keadaannya.
Beberapa hari kemudian Reno mulai terbiasa dengan suasana sekolah. Ia juga mulai mengenal beberapa teman di kelasnya.
Suatu hari saat jam istirahat, Reno duduk sendirian di taman sekolah sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba seseorang duduk di bangku yang sama.
“Kamu Reno, kan?”
Reno langsung menoleh dan sedikit terkejut.
“Nara?”
Nara tersenyum kecil.
“Aku sering mendengar suaramu di kelas,” katanya.
Reno terlihat heran.
“Kamu bisa mengenali orang dari suara?”
“Kadang dari suara, kadang dari langkah kaki,” jawab Nara santai.
Reno tertawa kecil.
“Hebat juga ya.”
Sejak percakapan itu, Reno mulai sering berbicara dengan Nara. Kadang mereka bertemu di taman saat jam istirahat, kadang juga berbincang setelah pulang sekolah.
Suatu hari sepulang sekolah, Reno berjalan bersama Nara di halaman sekolah. “Kamu benar-benar hafal jalan di sekolah ini?” tanya Reno.
Nara tersenyum.
“Lumayan hafal.”
Tongkatnya menyentuh lantai dengan pelan setiap beberapa langkah.
Reno memperhatikan cara Nara berjalan. Meskipun tidak bisa melihat, Nara terlihat cukup percaya diri.
“Kamu nggak pernah takut jatuh?” tanya Reno lagi.
“Pernah,” jawab Nara jujur. “Tapi lama-lama aku belajar menyesuaikan diri.” Jawaban itu membuat Reno terdiam sejenak.
Ia baru menyadari bahwa banyak hal yang bagi orang lain terasa biasa ternyata membutuhkan usaha yang jauh lebih besar bagi Nara.
Suatu siang di kelas, guru memberikan tugas kelompok. Reno dan Nara berada dalam kelompok yang sama.
Saat diskusi berlangsung, Nara memberikan beberapa ide yang cukup bagus. Ia juga mampu menjelaskan pendapatnya dengan jelas.
Reno cukup terkejut. Ia tidak menyangka Nara bisa berpikir secepat itu.
Namun ketika mereka keluar dari kelas, Reno sempat mendengar beberapa siswa lain berbisik.
“Kasihan ya dia.”
“Iya, hidupnya pasti susah banget.”
Reno merasa sedikit tidak nyaman mendengar itu.
“Kamu nggak kesal?” tanya Reno kepada Nara.
“Enggak,” jawab Nara pelan.
“Kenapa?”
“Mungkin mereka hanya belum mengerti,” kata Nara santai.
Beberapa minggu kemudian, Reno melihat sesuatu yang membuatnya benar-benar memahami Nara.
Seorang siswa bernama Dika terlihat sangat murung di kelas. Ia duduk diam dan hampir tidak berbicara sepanjang pelajaran.
Tidak banyak siswa yang memperhatikannya.
Namun saat jam istirahat, Nara tiba-tiba mendekati Dika.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Nara.
Dika terlihat kaget.
“Kenapa kamu tanya begitu?”
“Suaramu terdengar berbeda hari ini,” jawab Nara.
Dika akhirnya bercerita bahwa ia sedang memiliki masalah di rumah. Reno yang melihat kejadian itu merasa sangat kagum.
Nara tidak bisa melihat wajah Dika, tetapi ia bisa merasakan kesedihan yang bahkan tidak disadari oleh orang lain.
Saat itulah Reno mulai memahami sesuatu.
Melihat ternyata bukan hanya tentang mata.
Suatu sore setelah pulang sekolah, Reno dan Nara duduk di taman sekolah. “Nara,” kata Reno.
“Iya?”
“Kamu pernah berharap bisa melihat?”
Nara terdiam sebentar sebelum menjawab.
“Aku pernah memikirkannya.”
“Kalau kamu bisa melihat, apa yang ingin kamu lihat pertama kali?”
“Mungkin langit,” jawab Nara.
“Kenapa langit?”
“Karena banyak orang bilang langit itu indah.”
Reno menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga.
“Kalau begitu kamu pasti ingin sekali melihatnya.”
Nara tersenyum kecil.
“Aku memang tidak bisa melihat dunia dengan mata,” katanya.
“Lalu bagaimana kamu melihat dunia?”
Nara menjawab dengan tenang.
“Dengan jiwa.”
Kata-kata itu terus teringat di pikiran Reno. Sejak hari itu ia mulai lebih memperhatikan banyak hal yang sebelumnya tidak disadari.
Suatu hari sebelum pulang sekolah, Reno berkata kepada Nara,
“Terima kasih.”
“Untuk apa?” tanya Nara.
“Karena kamu sudah mengajarkanku cara melihat.”
Nara tertawa kecil.
“Padahal kamu punya mata.”
Reno tersenyum.
“Benar. Tapi kamu punya sesuatu yang lebih penting.”
“Apa itu?”
“Penglihatan dari jiwa.”
Sejak saat itu Reno menyadari bahwa melihat bukan hanya tentang mata, tetapi juga tentang memahami orang lain dengan hati.
Oleh: Kimya Maulina Fathin /25010684166