CAHAYA DALAM KEGELAPAN
Pagi yang cerah di suatu desa yang sejuk dan penuh ketenangan, Udara masih terasa dingin, menyisakan jejak embun di daun pisang yang bergoyang lembut tertiup angin. Suara ayam berkokok bersahutan, diselingi langkah kaki warga yang mulai beraktivitas. Disebuah rumah sederhana di ujung desa, hiduplah seorang remaja bernama Raka, saat membuka mata tiada lagi cahaya yang menyambutnya, warna yang biasa membingkai dunia terasa gelap. Sejak lahir, Raka hidup dalam kesunyian yang tidak pernah benar-benar ia pahami bentuknya. Namun anehnya, Raka tidak merasa kehilangan sesuatu yang pernah dia miliki. Baginya, dunia memang selalu seperti ini, Raka menikmati kehampaan yang selama ini dirasakan. Seketika membuka matanya dia duduk perlahan di tepi tempat tidur, tangannya meraba udara seolah memastikan ruangan yang dia lalui adalah jalan yang biasa dilewati. Setelah bersiap, Raka bergegas ke tempat yang penuh suara -suara canda tawa, langkah kaki, keramaian dan bisikan yaitu sekolah.
Ia duduk di bangku kelasnya dengan tenang, mendengarkan penjelasan guru dengan penuh perhatian. Kemampuannya dalam memahami pelajaran tidak pernah diragukan. Bahkan, ia sering menjadi salah satu siswa yang terbaik. Namun, dunia tidak selalu sebaik itu bagi Raka. Saat ia berjalan di lorong sekolah, ia sering mendengar bisikan yang berusaha disembunyikan.
“Kasihan ya…” “Dia nggak bisa lihat, tapi masih sekolah biasa…” “Kalau aku sih nggak kuat… jadi Raka”
Kata-kata itu tidak pernah benar-benar hilang. Mereka seperti bayangan yang terus mengikuti langkahnya tidak terlihat, tetapi terasa. Raka tidak pernah membalas perkataan mereka . ia memilih diam dan seolah olah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh temannya tadi. Namun jauh di dalam lubuk hatinya,kata kata itu menumpuk jadi beban di hatinya dan pikirannya .
Hanya ada satu orang yang benar benar melihatnya sebagai “RAKA” bukan sebagai anak yang tidak bisa melihat yaitu Bima si anak rajin yang suka bersama raka.
“Rak,kamu ikut lomba pidato yaa? Tanya bima di waktu siang hari”
Raka terdiam, suasana kelas yang ramai terasa sepi seketika seolah olah tidak ada anak di kelas lain selain mereka berdua.
“Aku nggak yakin,Bim... jawabnya pelan”.
“kenapa?”
Raka menggenggam tangannya sendiri. Aku takut aku nggak tahu bagaimana mereka melihatku. Aku nggak tahu mereka akan menertawakanku. Bima menarik napas,lalu berkata dengan tenang “mungkin kamu engga bisa melihat mereka....tapi mereka bisa mendengar kamu. Dan itu jauh lebih penting”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat hati raka bergetar dan terharu karena setiap orang mengejek raka baru ini raka mendapatkan teman yang saling mendukung satu sama lain dan memberikan semangat.
Malam itu terasa sangat sunyi dan hawa yang sangat dingin dari biasanya.Raka duduk di depan teras rumah, ditemani suara jangkrik dan angin yang berbisik pelan. Langit dipenuhi oleh bintang dan bulan yang terang . Ia tidak tahu akan indahnya langit pada malam itu. Tapi ia bisa merasakan ketenangan yang turun bersama malam.
“Bu…” panggilnya pelan.
“Iya, Nak?” jawab ibunya sambil duduk di sampingnya.
“Aku ingin ikut lomba pidato.”
Ibunya tersenyum, meskipun Raka tidak bisa melihatnya. “Ibu bangga sama kamu anakku Raka.” “Tapi aku takut gagal,” lanjut Raka, suaranya lebih pelan, hampir seperti bisikan.
Ibunya menggenggam tangannya erat. “Takut itu wajar. Semua orang pernah takut. Tapi keberanian bukan berarti tidak pernah takut… keberanian adalah tetap melangkah meskipun takut dan tidak peduli akan omongan orang lain tetap fokus sama yang kita hadapi sekarang”
Kata kata itu membekas di hati raka... sejak malam itu, ia mulai berlatih
Ia menyusun kata demi kata, merangkai kalimat dengan hati hati. Ia menghafal setiap bagian, mencoba merasakan dan meresapi setiap makna. Namun proses itu tidak mudah bagi raka. Ketika di malam hari ia lupa menaruh isi pidatonya. Ada saat ketika suara ketika suaranya gemetar bahkan sebelum ia selesai berbicara.
“Aku nggak bisa....” gumamnya saat raka sudah pasrah dan hampir menyerah.
Namun setiap kali ia ingin berhenti, ia ingin membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekedar keterbatasan dan keterbatasan bukan membatasi seseorang untuk melangkah maju dan meraih prestasi.
Tibalah pada Hari perlombaan tidak terasa datang lebih cepat dari yang ia bayangkan.Aula sekolah dipenuhi suara. Riuh, ramai, dan sedikit menyesakkan. Raka berdiri di belakang panggung, menggenggam tongkatnya erat. Jantungnya berdetak cepat, seolah ingin keluar dari dadanya.Tangannya dingin. Nafasnya tidak teratur.
“Peserta berikutnya… Raka.
Namanya dipanggil.
Langkahnya terasa berat sekali, namun ia tetap berjalan. Setiap langkah seperti melawan rasa takut yang mencoba menahannya.Saat ia berdiri di depan mikrofon, dunia seolah berhenti dan jantung mulai berdegup kencang.Ia tidak melihat apapun.Namun ia bisa merasakan ratusan pasang mata tertuju padanya.Ia menarik nafas panjang.
“Selamat pagi…”
Suaranya terdengar jelas, meskipun awalnya sedikit bergetar.Ia memulai mengungkapkan isi pidato tersebut .Tentang hidup dalam gelap.tentang bagaimana orang sering melihat keterbatasan, tapi lupa melihat kemampuan. Bagi banyak orang gelap adalah sesuatu yang menakutkan..tapi bagi saya,gelap adalah tempat saya belajar mendengar lebih dalam, merasakan lebih kuat,dan memahami dunia dengan cara yang berbeda.
Suasana aula berubah menjadi hening setiap kata yang keluar dari mulut raka bukkan hanya sekadar pidato itu adalah bagian darihidupnya.”saya mungkin tidak bisa melihat cahaya..tapi saya
percaya setiap manusia memiliki cahaya di dalam dirinya. Di titik itu, rasa takutnya perlahan menghilang yang tersisa hanyalah keberanian dan percaya diri.
Tepuk tangan yang meriah terasa seperti gelombang hangat yang menyelimuti hati Raka.Ia terdiam sejenak, seolah tidak percaya bahwa semua itu nyata.Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa “berbeda”.Ia merasa cukup baik untuk melakukannya.
Saat namanya diumumkan sebagai juara pertama, air mata yang selama ini ia pendam akhirnya jatuh dan tidak percaya bahwa raka menjadi juara satu.Bukan karena sedih.Tapi karena ia akhirnya percaya pada dirinya sendiri bahwa dirinya bisa melakukannya .Sejak hari itu, dunia Raka tidak berubah.Ia tetap tidak bisa melihat tetapi bisa meraih prestasi seperti anak-anak pada umumnya sekarang ia mulai percaya diri lagi.
Namun cara ia memandang dirinya sendiri berubah menjadi berharga sepenuhnya.Ia tidak lagi hidup dalam bayang-bayang keraguan.Ia mulai melangkah dengan keyakinan yang dia miliki.Ia mulai banyak berbicara dari biasanya. Ia mulai membantu orang lain yang merasa tidak mampu.Suatu hari, seorang anak kecil berkata padanya,
“Kak, aku takut… aku nggak berani tampil…”
Raka tersenyum pelan.
“Aku juga pernah takut,” katanya. “Tapi aku belajar… bahwa keberanian itu bukan tentang tidak takut. Tetapi tentang perjalanan yang merasa kita tidak bisa berjalan menjadi bisa namun rasa takut itu masih ada.
Raka mungkin hidup dalam gelap yang dulu terasa menekan, membatasi, bahkan menakutkan. Namun dari dalam gelap itu, ia menemukan sesuatu yang tidak semua orang memiliki cahaya yang berasal dari dalam dirinya sendiri yang lahir dari perjuangan dan dari keyakinan yang ia bangun sendiri. Dan cahaya itu… kini menerangi jalan bagi banyak orang dan tanpa ia sadari langkah langkah kecil yang ia ambil telah menjadi jejak bagi orang lain untuk mengikuti.
Ia bukan lagi hanya seseorang yang bertahan dia adalah seseorang yang memberi arah.Disetiap langkahnya,ia membawa pesan sederhana namun kuat bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya dan bahwa didalam diri seseorang selalu ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan,dipercaya,dibagikan.
Dari kisah RAKA mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencapai keberhasilan melainkan bagian dari perjalanan hidup yang dapat membentuk kekuatan dalam diri seseorang.Raka mungkin tidak dapat melihat dunia secara fisik namun ia mampu menemukan”penglihatan” yang jauh lebih bermakna yaitu keyakinan pada diri sendiri.Perubahan terbesar dalam hidup raka bukkan terletak pada keadaannya melainkan pada cara ia memandang dirinya.Dari seseorang yang penuh keraguan ia tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan berani melangkah
Keberhasilannya untuk menjadi juara lomba pidato bukan hanya tentang prestasi tetapi tentang kemenangan atas rasa takut dan ketidak percayaan diri yang selama ini membelenggunya kemudian raka menunjukan bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut melainkan meskipun rasa takut itu masih ada. Ia bahkan mampu menjadi sumber kekuatan bagi orang lain membagikan semangat dan harapan kepada mereka yang mengalami hal yang serupa sama seperti RAKA.
DIAH AYU PUTRI SEKAR ARUM - 25010684165