Reta dan cita-citanya
Orang-orang bilang dunia itu sangat indah. Sinar terik matahari yang kilauan, senja dipinggir pantai, atau lampu malam di tengah pusat kota. Mata yang seharusnya berfungsi sebagai alat perantara alami untuk melihat, kini tidak bisa lagi Reta rasakan. Reta yang telah kehilangan penglihatannya akibat kecerobohan pengguna sepeda motor yang melanggar lalu lintas sehingga tanpa sengaja menabrak Reta yang sedang menyebrang jalan.
---
Di suatu pagi yang cerah setelah tujuh hari yang petang bagi Reta yang harus ikhlas menerima keadaan matanya sekarang. Reta kini harus kembali bersekolah. Sesampainya di sekolah, kepala sekolah turut prihatin dengan keadaan Reta, namun ia juga sedang kebingungan karena sekolah belum siap menyediakan fasilitas apapun bagi kaum tunanetra.
"Reta, bapak turut prihatin dengan kondisimu yang sekarang, tapi mohon maaf bapak ibu," Pak Ilham berbicara pada Reta, lalu kepada kedua orang tuanya,
"sekolah kami belum sepenuhnya menyiapkan atau menyediakan fasilitas untuk anak tunanetra, kami mohon maaf apabila kedepannya melakukan kesalahan, kami akan mengusahakan yang terbaik agar Reta tetap nyaman berada disekolah ini tanpa merasa diperlakukan berbeda" lanjut pak Ilham.
"Iya bapak tidak apa-apa kami mengerti, tolong jaga Reta ya pak." Jawab ibu Reta, bu Ala namanya.
"Baik ibu Ala, akan kami usahakan yang terbaik mungkin untuk pendidikan dan kenyamanan Reta." timpal pak Ilham,
"terimakasih banyak ya pak Ilham, saya permisi dulu, Reta kami pulang dulu ya nak, semangat ya Reta!!" Reta menanggapi mamanya dengan sebuah senyuman canggung. ---
Pak Ilham menuntut Reta untuk ke kelasnya, Kelas XI C. Sesampainya di kelas Reta langsung disambut hangat oleh Bu Keke, selaku wali kelas XI C dan teman-teman kelas Reta lainnya. Reta langsung disuruh duduk di barisan bangku paling depan, Bu Keke menjelaskan dengan sangat hati-hati dan dengan menggunakan perumpamaan agar Reta lebih mudah untuk memahami apa yang sedang Bu Keke jelaskan.
---
Waktu istirahat pun tiba, teman-teman Reta berkumpul melingkar di meja tempat Reta. Mereka memeluk Reta, menangis, merasa kasihan kepada Reta. Hal itu membuat Reta semakin tidak nyaman.
"Aduh Reta aku turut sedih buat kamu." Nana salah satu teman Reta berkata demikian. "Iyaaa, Aku juga ikut sedih tau Ret waktu aku dapat kabar itu aku langsung panik, langsung pergi ke rumah Nana, niatnya tadi kita mau jenguk di rumah kamu tapi kata tante Ala kamu butuh waktu buat sendiri dulu." Fefe salah satu teman Reta juga, sahabat Nana ikut menimpali.
Reta diam, bingung harus menjawab apa.
"Sudah-sudah Retanya perlu makan ini, kalian sana pergi makan dulu ke meja kalian masing-masing." Dara sahabat Reta, mewakili Reta menjawab. Dara peka melihat Reta yang hanya diam saja dengan wajah yang kikuk.
Nana, Fefe dan teman-teman lainnya pun menuruti apa kata Dara, "kita makan dulu ya Reta, kamu juga harus makan yang banyak ya.. jangan merasa sendiri ya Reta karena disini kita semua selalu ada sama kamu." Sebelum pergi Fefe berkata demikian. Reta menangis, Dara memeluknya.
"Reta.. aku kangen banget sama kamu, untungnya kamu masih sehat, masih bisa sekolah dan ketemu lagi sama aku, sama temen-temen" ucap Dara yang masih memeluk Reta. "Tapi Dara aku udah gak bisa ngeliat, aku gak bisa lihat kamu, temen-temen, orang tua aku, bahkan aku sendiri.. aku gak bisa lihat Dara, cita-cita aku buat jadi dokter langsung sirna, aku sudah gak bisa jadi dokter lagi Dara.." Balas Reta sambil gemetar, yang sedari tadi Reta hanya diam kini ia menangis dalam dekapan Dara, sahabatnya.
"Aku gak bisa melihat, Dara.."
Ucapan penuh pilu Reta menggores hati Dara, Dara ingin sekali menangis juga tapi ia menahannya, Dara tidak boleh menangis, ia harus bisa menguatkan Reta. "Reta.. Kamu tetap bisa jadi dokter, kamu tetap bisa jadi dokter buat orang-orang disekitar kamu, kamu masih bisa melihat lewat suara, lewat sentuhan, juga lewat perasaan. Kamu bisa mengobati mereka yang nantinya ingin berbagi cerita ke kamu, kamu bisa jadi penyembuh mereka dengan mendengarkan keluh kesah mereka, kamu bisa membantu mereka buat sembuh dengan perkataan yang dapat menyentuh perasaan mereka, kamu pasti tetap bisa jadi apa yang kamu pengen, apa yang kamu impikan dengan versi kamu sendiri Reta, dengan versi kamu yang sekarang."
Reta terdiam cukup lama, lalu melepaskan pelukan mereka. Dara panik, Ia takut salah ngomong dan malah melukai perasaan Reta.
"Terimakasih ya Dara, benar katamu aku tetap bisa jadi apa yang aku inginkan dengan orang tua, teman-teman yang menyayangi aku, dan percaya kalau aku bisa. Bisa jadi dokter versi diri aku sendiri yang sekarang" Ucap Reta, sambil menyeka air mata. Berusaha untuk ikhlas sekali lagi dengan keadaannya sekarang.
Dara tersenyum, kemudian memeluk Reta lagi, "Aku bangga sama kamu Reta, terimakasih banyak ya."
---
Setelah Dara kembali memeluk Reta, suasana di dalam kelas perlahan menjadi lebih tenang, meskipun jejak haru masih terasa menggantung di udara, seakan belum sepenuhnya menghilang. Dari arah jendela, terdengar suara angin yang berhembus pelan, menyentuh dedaunan hingga menimbulkan gemerisik lembut yang sebelumnya hampir tidak pernah benar
benar disadari oleh Reta. Kini, suara itu terasa jauh lebih nyata, seolah dunia yang dulu hanya bisa dilihat dengan mata, kini mulai menyapa dirinya melalui cara yang berbeda lebih halus, lebih dekat, dan entah mengapa terasa lebih dalam.
Reta menarik napas panjang, mencoba meredakan gejolak perasaan yang sejak tadi memenuhi hatinya. Untuk pertama kalinya sejak kejadian yang mengubah hidupnya itu, ia berusaha untuk tidak lagi menolak keadaan, melainkan belajar menerima dan benar-benar merasakan sekitarnya melalui cara yang baru. Suara langkah kaki di koridor, tawa kecil dari sudut ruangan, hingga dentingan sendok yang beradu dengan kotak makan semuanya terdengar begitu hidup, seakan mengisi ruang kosong yang sebelumnya ia pikir akan selalu gelap. Ternyata, tidak sepenuhnya gelap seperti yang ia bayangkan. Hanya… berbeda dengan cara yang belum pernah ia pahami sebelumnya.
---
Hari-hari yang dilalui Reta setelah itu tidak selalu berjalan dengan mudah. Bahkan, banyak momen kecil yang justru menjadi tantangan tersendiri baginya, baik secara fisik maupun perasaan. Ia beberapa kali tersandung kursi yang tidak disadari keberadaannya, salah arah saat mencoba menuju kelas, bahkan pernah tanpa sengaja mengambil tas milik temannya karena ia belum terbiasa mengenali sesuatu hanya melalui sentuhan. Namun perlahan, setiap kesalahan kecil itu tidak lagi sepenuhnya membuatnya terpuruk. Justru, satu per satu pengalaman tersebut berubah menjadi proses belajar yang membantu Reta menjadi lebih berani.
Dengan penuh kesabaran, Bu Keke mulai mengenalkan huruf braille kepada Reta secara perlahan. Pada awalnya, jari-jari Reta terasa kaku dan canggung saat menyentuh titik titik kecil yang terasa asing. Ia sempat merasa ragu apakah ia akan mampu memahami semuanya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ia mulai mengenali pola-pola tersebut. Titik titik yang awalnya tidak memiliki arti, kini perlahan berubah menjadi huruf, kemudian kata, hingga akhirnya membentuk kalimat.
“Ini huruf A, Reta,” ucap Bu Keke dengan suara lembut sambil membimbing tangan Reta dengan penuh perhatian.
---
Tanpa disadari, perubahan juga terjadi pada teman-teman Reta. Mereka tidak lagi mendekatinya dengan rasa kasihan yang berlebihan atau berbicara dengan sikap terlalu hati hati seolah Reta selalu rapuh. Sebaliknya, mereka mulai kembali bersikap seperti sebelumnya mengajak Reta bercanda, tertawa bersama, bahkan berdebat kecil seperti hari-hari sebelum semuanya berubah.
Reta tidak lagi merasa "berbeda".
---
Suatu hari, saat pelajaran Bahasa berlangsung, Bu Keke meminta setiap siswa untuk maju ke depan kelas dan menyampaikan cita-cita mereka di masa depan beserta alasannya. Satu per satu siswa maju dengan percaya diri, hingga akhirnya tiba giliran Reta.
Suasana kelas yang sebelumnya ramai perlahan berubah menjadi hening. Reta berdiri perlahan dari tempat duduknya. Tangannya sempat menggenggam meja, seolah mencari keberanian yang tersisa. Nafasnya sedikit tidak teratur, namun ia tetap melangkah ke depan.
“Aku masih ingin jadi dokter,” ucapnya, pelan namun jelas.
Beberapa siswa saling berpandangan, tetapi tidak ada yang menyela. Semua memilih untuk mendengarkan.
“Aku mungkin tidak bisa melihat luka dengan mataku seperti dokter pada umumnya tapi aku percaya aku masih bisa merasakan rasa sakit orang lain lewat suara mereka, lewat cara mereka berbicara, lewat cerita yang mereka bagikan. Aku ingin menjadi dokter yang tidak hanya melihat pasiennya, tetapi benar-benar mendengarkan, memahami, dan ada untuk mereka,” lanjut Reta dengan suara yang kini terdengar lebih mantap.
Kelas kembali hening sejenak. Kemudian perlahan, tepuk tangan mulai terdengar dan memenuhi seluruh ruangan.
Dara menjadi orang pertama yang bertepuk tangan paling keras, dengan senyum bangga yang terpancar jelas di wajahnya.
Reta tersenyum, kali ini tanpa keraguan, karena akhirnya ia memahami bahwa melihat tidak selalu harus menggunakan mata.
Ellya Rahma Syahida - 25010684220