Perspective of Inclusion Elementary School Teachers on Differentiated Teaching Modules for Students with Special Needs

Pendidikan inklusif merupakan bagian penting dari hak asasi manusia dan telah menjadi prioritas utama di banyak negara, termasuk Indonesia. Pendidikan ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki akses yang setara terhadap pendidikan berkualitas tinggi, terlepas dari kebutuhan mental, fisik, intelektual, atau sensorik mereka. Sekolah dasar inklusif menjadi ujung tombak pelaksanaan kebijakan inklusif pada tingkat pendidikan dasar. Dalam pembelajaran, modul pengajaran berperan penting sebagai alat bantu guru dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Modul pengajaran yang ideal untuk diterapkan di sekolah dasar inklusif adalah modul pengajaran diferensiasi. Modul ini menggunakan pendekatan pedagogis yang mengakui keberagaman siswa di kelas, sehingga memberikan kesetaraan dalam proses belajar. Dengan modul ini, siswa berkebutuhan khusus dapat menikmati kesempatan yang sama untuk belajar dan berhasil seperti siswa lainnya. Selain itu, modul pengajaran diferensiasi juga mempermudah guru dalam menyesuaikan pembelajaran dengan gaya belajar, minat, dan kesiapan siswa. Namun, pelaksanaan modul ini menghadapi sejumlah kendala teknis dan non-teknis di lapangan.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami perspektif guru mengenai modul pengajaran diferensiasi dan menganalisis tantangan yang dihadapi guru dalam pelaksanaannya di sekolah dasar inklusif. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini melibatkan 17 guru dari sembilan sekolah dasar inklusif di Surabaya. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara terstruktur, observasi partisipatif, dan wawancara mendalam. Data dianalisis menggunakan teknik analisis model Spiral Creswell, dengan langkah-langkah meliputi pengumpulan, pengelolaan, membaca, dan pengkodean data hingga interpretasi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90% guru memberikan respons positif terhadap modul pengajaran diferensiasi. Guru menyatakan bahwa modul ini dapat memfasilitasi kebutuhan siswa secara optimal dan menciptakan kesetaraan dalam pembelajaran. Namun, 4% guru memberikan respons negatif karena kesulitan dalam mengembangkan modul, sementara 6% lainnya bersikap netral.
Modul pengajaran diferensiasi terbukti membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dengan menyesuaikan lingkungan belajar, alat, dan proses sesuai kebutuhan siswa. Guru dapat memodifikasi instruksi, materi, dan asesmen untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa. Penyesuaian ini memungkinkan siswa dengan kebutuhan khusus belajar bersama siswa reguler dalam satu kelas. Guru mengakui bahwa modul ini dapat meningkatkan keterlibatan dan partisipasi siswa dalam pembelajaran sesuai dengan kemampuan mereka. Namun, keberhasilan pelaksanaan modul ini bergantung pada dukungan komprehensif, termasuk pelatihan, bimbingan, pengembangan profesional, dan kolaborasi antar guru. Kolaborasi dianggap penting untuk membantu guru mengatasi tantangan yang muncul selama implementasi modul pengajaran diferensiasi.
Meski modul pengajaran diferensiasi disambut positif, guru menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaannya. Salah satu tantangan utama adalah kesiapan guru, yang disebabkan oleh kurangnya pelatihan terkait pengajaran siswa berkebutuhan khusus. Guru juga menyebutkan keterbatasan sumber daya dan alat pembelajaran yang tersedia di sekolah. Modul ini membutuhkan multimethod, multimedia, dan multiresources untuk menciptakan pembelajaran yang bervariasi. Selain itu, guru mengalami kesulitan dalam mengenali gaya belajar dan kebutuhan unik setiap siswa, yang menjadi salah satu elemen penting dalam pembelajaran diferensiasi. Ketiadaan dukungan kolaborasi antar guru juga menjadi hambatan dalam mengembangkan modul yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Pengelolaan kelas yang beragam menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam menerapkan pembelajaran diferensiasi. Guru dituntut memiliki keterampilan manajemen kelas yang tinggi untuk memastikan setiap siswa mendapatkan perlakuan sesuai kebutuhan individu. Guru harus menyeimbangkan kebutuhan siswa dengan target kurikulum nasional, yang seringkali menambah beban kerja mereka. Selain itu, keberhasilan pelaksanaan modul pengajaran diferensiasi juga tergantung pada budaya kolaborasi di sekolah. Kurangnya budaya kolaborasi menghambat pengembangan modul yang optimal. Guru perlu bekerja sama untuk merancang modul yang benar-benar mencerminkan kebutuhan siswa di kelas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan modul pengajaran diferensiasi menghadirkan manfaat signifikan, terutama dalam mendukung siswa berkebutuhan khusus untuk mencapai potensi optimal mereka. Modul ini memungkinkan semua siswa mengakses sumber belajar yang sama dan menerima informasi dengan cara yang sesuai kebutuhan mereka. Guru dapat memberikan umpan balik konstruktif kepada siswa, membantu mereka memahami materi dengan lebih baik. Namun, untuk keberhasilan implementasi, diperlukan dukungan berkelanjutan berupa pelatihan dan pengembangan profesional. Pengadaan sumber daya yang memadai dan budaya kolaborasi yang kuat di sekolah juga menjadi faktor penentu keberhasilan implementasi.
Penelitian ini memberikan wawasan penting untuk mengevaluasi pelaksanaan modul pengajaran diferensiasi dalam mendukung pendidikan inklusif di Indonesia. Modul ini dianggap efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa berkebutuhan khusus dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan. Namun, berbagai kendala teknis dan non-teknis perlu diatasi, seperti keterbatasan sumber daya, tuntutan kurikulum, dan kurangnya pelatihan guru. Temuan penelitian ini diharapkan dapat mendukung agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada poin keempat, yaitu memastikan pendidikan berkualitas yang inklusif dan setara. Dengan memperbaiki hambatan yang ada, pelaksanaan modul pengajaran diferensiasi dapat lebih optimal dan mendukung pencapaian pendidikan nasional yang berkualitas.
a journal by: Ima Kurrotun Ainin