Vocational Life Skills Students With Disabilities Through Experiential Learning

Keterampilan hidup sangat penting untuk menjalani kehidupan yang mandiri, memiliki keterampilan dasar kerja, serta mampu beradaptasi di masyarakat. Sayangnya, penelitian tentang harapan guru terhadap keterampilan sosial, berdasarkan pengalaman mereka, masih terbatas (Bansal et al., 2023; Agran et al., 2016). Belajar keterampilan hidup membantu individu, termasuk penyandang disabilitas, mengatasi masalah, mandiri, kompeten, mengelola diri, bekerja, dan beradaptasi dengan masyarakat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa keterampilan hidup mandiri dan keterampilan karier sangat berpengaruh pada peluang kerja dan program pendidikan pascasekolah (Agarwal et al., 2021). Orang tua juga mengakui pentingnya dukungan sekolah dalam keterampilan karier dan pendidikan vokasi (Lin et al., 2018). Simulasi gamifikasi 3D telah digunakan untuk mendorong inklusi sosial melalui pekerjaan (Barnekow et al., 2017). Namun, model tradisional pendidikan vokasi seringkali kurang relevan dengan perubahan kebutuhan dunia kerja (Kanwar et al., 2019). Pembelajaran berbasis rekreasi vokasi, seperti VLF, bertujuan meningkatkan inklusi dan pendidikan berkualitas (Ioannou, 2023). Berdasarkan teori Bandura, keterampilan ini dapat meningkatkan partisipasi, motivasi, dan transisi siswa dari sekolah ke dunia kerja (Brock et al., 2020). Oleh karena itu, keterampilan hidup harus dibentuk melalui pembelajaran yang terarah dan berkesinambungan.
Keterampilan hidup bukanlah sesuatu yang muncul secara otomatis, tetapi harus dibangun melalui proses pembelajaran yang konsisten. Sekolah vokasi bertujuan mengembangkan pendidikan keterampilan hidup agar siswa mampu mandiri di masyarakat dan menyiapkan karier mereka (Nuryanto & Eryandi, 2020). Experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman menjadi metode yang efektif dalam hal ini. Metode ini mencakup proses belajar dengan melakukan, merefleksikan, berpikir, dan menerapkan hasil pembelajaran ke dalam kehidupan nyata (Butler et al., 2019). Pendekatan ini menekankan pengembangan holistik melalui aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik (Darling-Hammond et al., 2020). Penelitian menunjukkan bahwa experiential learning meningkatkan motivasi belajar, pemahaman konsep, dan kemampuan siswa dalam mengatasi masalah (Leal-Rodríguez & Albort-Morant, 2019). Metode ini juga membantu siswa mempertahankan pengetahuan lebih lama dan memahami relevansinya dalam kehidupan nyata (Schenck & Cruickshank, 2015). Selain itu, pengalaman langsung memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan keterampilan meta-learning (Kolb & Kolb, 2017). Dengan demikian, experiential learning relevan untuk meningkatkan keterampilan vokasi siswa, termasuk mereka yang memiliki disabilitas.
Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Inklusi di Surabaya untuk menganalisis pengaruh experiential learning terhadap keterampilan hidup vokasi penyandang disabilitas. Metode kuantitatif digunakan dengan tes hasil belajar keterampilan vokasi, yaitu tes kinerja, sebagai instrumen pengumpulan data. Penilaian hasil belajar ini mengukur kemampuan kerja siswa dengan disabilitas sebelum dan sesudah penerapan experiential learning. Data dianalisis menggunakan statistik nonparametrik, yaitu uji Wilcoxon. Partisipan penelitian terdiri dari 10 siswa dengan disabilitas di SMK Inklusi Surabaya. Penerapan experiential learning difokuskan pada kegiatan yang relevan dengan keterampilan hidup vokasi di lingkungan rumah. Data awal dan akhir diukur untuk melihat peningkatan keterampilan kerja siswa. Nilai hasil penilaian dikelompokkan ke dalam lima kategori: sangat baik, baik, rata-rata, kurang, dan gagal. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada keterampilan vokasi siswa setelah penerapan experiential learning. Dengan demikian, penelitian ini menguji hipotesis bahwa experiential learning berkontribusi positif terhadap pengembangan keterampilan kerja siswa dengan disabilitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan experiential learning secara signifikan meningkatkan keterampilan vokasi siswa dengan disabilitas. Nilai rata-rata penilaian awal keterampilan vokasi adalah 58,10, sedangkan nilai akhir meningkat menjadi 72,10. Analisis statistik menunjukkan nilai Zcount 2,80 lebih besar dari Ztable 1,96, yang mengindikasikan bahwa hipotesis alternatif (Ha) diterima. Artinya, experiential learning efektif dalam meningkatkan keterampilan vokasi siswa dengan disabilitas. Penelitian ini juga mencatat bahwa experiential learning membantu siswa memahami proses, menemukan makna pengalaman, dan menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata. Hasil ini konsisten dengan temuan sebelumnya yang menyoroti efektivitas pembelajaran berbasis pengalaman untuk meningkatkan hasil belajar (Zelechoski et al., 2017). Observasi juga menunjukkan peningkatan motivasi dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, experiential learning terbukti menjadi pendekatan yang relevan untuk mengajarkan keterampilan kerja kepada siswa dengan kebutuhan khusus.
Peningkatan keterampilan vokasi siswa dengan disabilitas melalui experiential learning menunjukkan hasil yang signifikan. Penerapan metode ini membantu siswa dengan disabilitas mengembangkan kemampuan kerja yang lebih baik dan meningkatkan kepercayaan diri mereka di masyarakat. Penelitian ini sejalan dengan teori dan studi empiris yang menekankan pentingnya pengalaman dalam pembelajaran (Kolb & Kolb, 2017). Experiential learning memungkinkan siswa belajar melalui tindakan langsung, refleksi, dan penerapan konsep, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan bermakna. Temuan ini mendukung pentingnya pendidikan vokasi dalam mempersiapkan individu dengan disabilitas untuk hidup mandiri dan produktif di masyarakat. Selain itu, hasil ini mengindikasikan bahwa pengalaman langsung mampu meningkatkan keterampilan meta-learning, kreativitas, dan kemampuan problem-solving siswa (Damrongpanit, 2019). Dengan demikian, penerapan experiential learning di sekolah inklusi menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi bagi siswa dengan disabilitas.
Temuan penelitian ini memiliki implikasi signifikan terhadap pendidikan vokasi dan keterampilan hidup. Guru disarankan untuk mengintegrasikan experiential learning dalam kurikulum mereka untuk meningkatkan keterampilan kerja siswa dengan disabilitas. Penerapan metode ini juga dapat diperluas ke bidang keterampilan hidup lainnya, seperti keterampilan sosial dan emosional. Pendidikan vokasi berbasis pengalaman tidak hanya meningkatkan kemampuan siswa tetapi juga membantu mereka lebih mudah beradaptasi di dunia kerja yang dinamis. Selain itu, penelitian ini mendorong pengembangan program pelatihan yang lebih inklusif dan berbasis kebutuhan bagi siswa dengan disabilitas. Dengan experiential learning, siswa dengan disabilitas dapat mengembangkan kemandirian, produktivitas, dan integrasi sosial yang lebih baik (Hwang et al., 2020). Untuk memastikan keberlanjutan program ini, perlu dilakukan pelatihan bagi guru tentang metode experiential learning. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan vokasi berbasis pengalaman juga harus ditingkatkan di kalangan pemangku kepentingan pendidikan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa experiential learning efektif dalam meningkatkan keterampilan vokasi siswa dengan disabilitas. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada hasil belajar keterampilan vokasi siswa setelah penerapan metode ini. Guru perlu terus mengadopsi experiential learning dalam pengajaran untuk memastikan siswa dengan disabilitas mendapatkan manfaat maksimal. Selain itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi aplikasi experiential learning dalam konteks pendidikan lainnya. Studi ini juga memberikan wawasan penting tentang bagaimana keterampilan hidup dapat dikembangkan melalui pengalaman langsung, yang berdampak positif pada kehidupan sehari-hari siswa dengan disabilitas. Dengan demikian, experiential learning menjadi pendekatan strategis dalam pendidikan inklusif yang berfokus pada pengembangan keterampilan kerja dan kemandirian siswa. Upaya kolaboratif antara guru, sekolah, dan komunitas diperlukan untuk mendukung implementasi metode ini secara luas. Kesimpulannya, experiential learning adalah solusi praktis untuk membangun keterampilan vokasi dan kemandirian siswa dengan disabilitas dalam lingkungan inklusif.
A Journal by: Siti Mahmudah