Sahabat Lima: Retaknya Dandang, Utuhnya Jiwa
Di sebuah kampung kecil yang masih memegang teguh adat Ramadan, suasana bulan suci begitu terasa hidup setiap harinya. Saat matahari mulai merunduk ke barat, jalanan yang biasanya sepi perlahan-lahan dipenuhi oleh keramaian. Penduduk desa berbondong-bondong menuju masjid yang menjadi titik pusat berbagai aktivitas Ramadhan. Dari kejauhan, terdengar suara tawa anak-anak bercampur dengan bacaan ayat suci yang diucapkan oleh jamaah yang sedang tadarus.
Di halaman masjid, para wanita aktif menyiapkan takjil untuk dibagikan kepada mereka yang datang menjelang waktu berbuka. Ada yang membawa kolak pisang hangat, es buah segar, kurma, gorengan, hingga kue-kue manis yang disusun rapi di atas meja panjang. Sejumlah pemuda terlihat membantu membagikan takjil sambil sesekali bergurau satu sama lain. Di sisi lain, anak-anak kecil berlari-lari menanti bedug magrib, sesekali memainkan permainan sederhana seperti petak umpet, lompat tali, atau hanya berlari mengejar teman.
Tidak hanya itu, di dalam masjid suasananya juga meriah. Para pria dan kakek-kakek duduk bersila sambil membaca Al-Qur’an dalam kegiatan tadarus. Beberapa diantaranya terlibat dalam diskusi ringan tentang aktivitas Ramadhan di desa tersebut. Para remaja membantu merapikan sajadah, menyusun pengeras suara, atau bersiap membunyikan bedug saat waktu berbuka tiba. Semua orang berkumpul di satu tempat yang sama, dari anak-anak hingga orang tua, ibu-ibu, nenek-nenek, kakek-kakek, para pemuda, bahkan para om dan mas-mas yang pulang lebih awal dari pekerjaan mereka. Oleh karena itu, setiap sore hingga malam, masjid desa selalu dipenuhi dengan kehangatan dan kebersamaan yang khas. Suasana Ramadan benar-benar terasa di sana.
Di tengah kerumunan, terdapat lima sahabat yang selalu tampil bersama kemanapun mereka melangkah. Usia mereka tidak jauh berbeda, berkisar antara sepuluh hingga sebelas tahun. Dari kejauhan, mereka sering terlihat berjalan beriringan, saling bercanda, tertawa, atau menciptakan kehebohan kecil yang sering kali membuat orang dewasa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Empat dari mereka adalah anak-anak yang energik dan aktif: Doji, Fiok, Nasuy, dan Ziro. Mereka dikenal sebagai anak-anak yang penuh semangat, sering kali memiliki ide-ide aneh, dan kadang terlampau bersemangat saat bermain. Namun ada satu sahabat di antara mereka yang sedikit berbeda, yaitu Wail. Wail adalah anak yang memiliki autisme. Meski demikian,
Wail tetap dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kelompok kecil mereka oleh keempat temannya.
Itulah sebabnya persahabatan mereka terasa sangat istimewa. Doji yang gemar bercanda, Fiok yang selalu ingin tahu banyak hal, Nasuy yang sering berperan sebagai penengah ketika terjadi keributan, dan Ziro yang dikenal paling berani mencoba hal-hal baru. Di sisi lain, Wail memiliki cara yang berbeda dalam memandang dunia, kadang ia diam dan serius mengamati sesuatu, kadang pula ia tiba-tiba tertawa karena hal sederhana yang membuatnya senang.
Dari jauh, masyarakat desa sering mengatakan bahwa kelima anak tersebut bagaikan sekelompok serangkaian yang sulit terpisahkan. Mereka selalu bersama, bermain bersama, bahkan sering kali membuat rencana-rencana kecil yang mungkin terdengar aneh di telinga orang lain. Persahabatan mereka sangat erat, seperti mochi dan oreo yang berbeda bentuk, namun tetap terasa pas saat dipadukan.
Dan seperti kebanyakan anak-anak di kampung tersebut, setiap sore selama bulan Ramadhan, mereka hampir selalu berkumpul di sekitar masjid. Entah untuk bermain sambil menunggu waktu berbuka puasa, membantu mendistribusikan takjil, atau sekadar menambah semarak suasana Ramadhan yang selalu terasa hangat di lingkungan mereka.
Tidak ada yang menyangka bahwa pada salah satu sore di bulan Ramadhan itu, kelima sahabat kecil akan mengalami sebuah peristiwa yang cukup menarik, yang nantinya mereka akan ingat setiap kali Ramadhan tiba kembali.
Pada suatu sore di bulan Ramadhan, saat matahari mulai menjelang tenggelam dan halaman masjid desa semakin dipenuhi orang, Fiok tiba-tiba muncul dengan sesuatu yang membuat mata temannya bersinar. Di tangannya terlihat sebuah bola plastik yang warnanya sudah mulai pudar, menandakan bahwa bola tersebut sering dipakai untuk bermain.
“Eh, lihat ini! ” ujar Fiok sambil mengangkat bola tersebut tinggi-tinggi.
Doji langsung tersenyum lebar, sementara Ziro dan Nasuy yang baru saja tiba dari arah tempat wudhu pun mendekat. Wail yang sejak tadi duduk di tangga masjid sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, langsung menoleh saat melihat bola itu. Matanya terlihat penuh rasa ingin tahu.
“Main sebentar sebelum berbuka,” kata Fiok dengan suara pelan, seolah-olah bola itu adalah rahasia yang tidak boleh diketahui orang dewasa.
Wail berdiri perlahan. Meski cara geraknya kadang berbeda dari anak-anak lainnya, semangatnya tidak pernah pudar. Dengan langkah kecil yang sedikit terburu-buru, ia mendekati teman-temannya. Keinginannya sederhana: ia juga ingin berpartisipasi dalam permainan.
Bagi Doji, Fiok, Nasuy, dan Ziro, situasi Wail tidak pernah menjadi alasan untuk menjauh darinya. Justru hal itu membuat mereka selalu mengajak Wail berpartisipasi dalam setiap permainan mereka. Terkadang permainan tersebut berjalan dengan lancar, namun terkadang juga disertai kekacauan kecil yang justru menimbulkan tawa di antara mereka.
Tidak lama, Nasuy, Ziro, dan Doji baru saja selesai dari kamar mandi setelah mencuci tangan. Tanpa berpikir panjang, kelima sahabat itu langsung bermain bola di sudut halaman masjid yang cukup sepi.
Permainan mereka awalnya berjalan dengan normal. Bola ditendang perlahan, disertai tawa kecil ketika salah satu dari mereka gagal melakukan operan. Wail tampak sangat konsentrasi. Ia mengikuti pergerakan bola dengan penuh perhatian, sesekali bertepuk tangan kecil ketika berhasil menghentikan bola.
Namun seperti biasa, Doji yang dikenal paling antusias tidak bisa menahan diri terlalu lama. “Oper sini! ” teriaknya.
Fiok menendang bola ke arah Doji. Dengan tenaga yang penuh, mungkin sedikit berlebihan, Doji menendang bola itu kembali.
“DUK! ”
Bola meluncur dengan sangat cepat, melewati mereka semua.
“EH! EH! EH! ” teriak Nasuy dengan panik.
Arah bola tersebut menuju ke meja panjang di dekat serambi masjid, tempat beberapa ibu sebelumnya bersiap-siap untuk takjil berbuka puasa. Di atas meja itu terdapat sebuah dandang besar berisi kolak pisang yang masih hangat. Uap lembut masih tampak keluar dari permukaannya.
Semua anak langsung melotot.
“WAAAAIL! ” teriak Fiok secara refleks.
Dalam sekejap, Wail yang sejak tadi memperhatikan arah bola, melangkah maju. Gerakannya mungkin tidak sempurna, langkahnya mungkin tidak secepat anak lainnya, tetapi entah bagaimana ia berhasil berada tepat di jalur bola tersebut.
Dengan kedua telapak tangannya, ia menahan bola itu sebelum menyentuh permukaan meja. Bola tersebut terhenti.
Dandang kolak tetap berdiri dengan kokoh.
Selama beberapa detik, suasana menjadi sepi.
Kemudian
“WAIL BERHASIL! ” teriak Ziro dengan penuh semangat.
“WAIL HEBAK! ” tambah Nasuy sambil melompat gembira.
Doji dan Fiok segera memberikan tepuk tangan yang keras. Mereka mengelilingi Wail dengan sorakan riang, seolah-olah teman mereka baru saja menyelamatkan jagat raya.
Wail sendiri hanya memberikan senyuman kecil, kemudian menepuk-nepuk bola itu perlahan-lahan, seolah memastikan bola itu sudah benar-benar berhenti.
Namun, seperti banyak anak-anak yang terlalu bersemangat, peristiwa itu ternyata belum cukup untuk Doji.
“Sekali lagi! ” katanya dengan ekspresi menantang.
“Jangan terlalu keras! ” ucap Nasuy mengingatkan.
Tetapi Doji sudah terlanjur menendang bola itu lagi.
Dan… kali ini tendangannya tidak kalah kuat dari yang sebelumnya.
Bola meluncur kembali ke arah yang nyaris sama.
Wail mencoba bergerak lagi. Ia berusaha menahan bola seperti sebelumnya. Namun, kali ini semua terjadi terlalu cepat.
Bola itu menghantam meja.
“BRAK! ”
Dandang kolak bergetar dengan keras.
Dalam sekejap, sebagian kolak tumpah ke lantai. Pisang dan kuah manisnya mengalir ke bawah meja, menjadikan halaman masjid yang awalnya bersih benar-benar berantakan.
Semua anak langsung terdiam.
Beberapa ibu yang berada di sekitar situ menoleh ke arah mereka.
“DOJI! ” teriak salah seorang ibu dengan suara tercengang dan agak geram. Doji langsung menundukkan kepala.
“Ya Allah… siapa yang bermain bola di sini? ” tanya seorang ibu sambil mendekat. Dengan ekspresi menyesal, Doji mengangkat tangannya perlahan.
“Saya…”
Ia mendapat teguran yang cukup serius, meskipun para ibu itu menyadari bahwa mereka hanyalah anak-anak yang terlalu antusias. Doji akhirnya diminta untuk membereskan kekacauan yang telah ia buat.
Tanpa banyak bicara, Doji mengambil kain lap dan mulai membersihkan kolak yang tumpah. Wajahnya nampak sedikit sedih.
Namun beberapa detik kemudian, seseorang turut jongkok di sampingnya. Wail.
Dengan gerakan yang tidak begitu teratur, Wail berusaha membersihkan lantai. Kadang kadang lapnya bergerak dengan lambat, dan sesekali hampir saja menjatuhkan ember kecil di sekitarnya. Namun, ia tidak menyerah.
Melihat hal itu, Nasuy, Fiok, dan Ziro pun ikut memberikan bantuan.
Lima orang sahabat ini akhirnya membersihkan lantai secara bersama-sama. Tidak ada lagi bola yang ditendang. Tidak ada lagi suara panik yang terdengar.
Yang terdengar hanya suara mereka bekerja dengan perlahan, sesekali diselingi tawa kecil ketika salah satu dari mereka hampir terjatuh karena sisa kolak yang lengket.
Di tengah aktivitas mereka, Doji tiba-tiba bernada pelan,
“Astagfirullah…”
Teman-temannya langsung menoleh.
Namun, wajah Doji dengan cepat kembali seperti biasa, tanpa rasa penyesalan. “Eh… kita lakukan lagi tahun depan bagaimana? ”
Semua langsung berhenti bergerak.
“Apa? ” tanya Fiok.
“Main bola di dekat kolak lagi? ” tambah Ziro sambil tertawa tak percaya. Doji hanya mengangkat bahunya.
“Ya… tapi kali ini, jangan sampai tumpah. ”
Beberapa detik dalam keheningan.
Lalu
“HAHAHAHA! ”
Lalu
“HAHAHAHA! ”
Kelima anak tersebut saling tertawa.
Di bawah langit petang Ramadhan yang mulai berwarna oranye, mereka tetap berdiri bersebelahan seperti biasanya.
Mungkin mereka memiliki perbedaan.
Mungkin tidak ada yang benar-benar sempurna.
Namun di tengah canda, keonaran kecil, dan kolak yang tercecer itu, ada satu hal yang sangat jelas terlihat: Persahabatan mereka tidak pernah menganggap kekurangan sebagai penghalang.
Karena kadang-kadang, dari orang yang dianggap kurang, kita bisa belajar tentang ketulusan hati yang paling siap untuk membantu orang lain.