Adanya Perbedaan Bukan Berarti Halangan
Di Pagi hari di sekolah dasar raka menatap sebuah kanvas di dinding kelasnya. Warna-warna catnya masih setengah mengkilap, seperti menunggu untuk dipakai menyatukan semua imajinasi anak anak kelas. Di sekelilingnya, teman-temannya berkumpul, masing-masing anak memegang kuas dengan semangatnya. Bu Sari guru seni mereka memberi isyarat dengan dengan menghitung “1,2,3 mulai anak anak” bahwa waktunya telah tiba.
“Baik anak-anak. Ingat, ini bukan lomba siapa yang paling cepat atau paling bagus. Ini tentang bagaimana kita bisa mengutarakan sesuatu dengan satu gambar,” katanya, suaranya menenangkan namun penuh penyemangat.
Raka menggerakkan kursinya perlahan ke tengah kanvas. Roda kecil bergerak lembut di atas lantai kayu, menimbulkan irama yang hampir tak terdengar. Dia menatap pohon yang baru saja mulai dia gambar ada batang tebal yang melebar ke segala arah, daun-daun yang berwarna hijau tua. Namun, di sudut kanvas, masih ada ruang kosong yang menunggu terisi
“Kalau boleh, aku mau tambahkan sesuatu,” kata Lina, teman sekelas Raka yang selalu duduk di barisan depan. Dia memegang kuas biru, matanya bersinar.
“Silakan,” jawab Raka, senyumnya ramah
Lina melukis awan-awan tipis di atas pohon, membuatnya tampak seperti melayang di antara cabang-cabang. Di sebelahnya, Dito, anak yang suka menggambar robot, menambahkan beberapa robot kecil dan memperbaiki serta menambahkan daun-daun yang gugur.
“Robot-robot ini bisa membantu pohon tetap kuat,” ujar Dito dengan nada bercanda, namun ada kebaikan yang jelas dalam suaranya.
Suasana kelas menjadi ramai dengan tawa, saran dan kadang-kadang sedikit pertengkaran kecil. Saat itulah, suara keras terdengar dari pintu.
“Maaf, boleh masuk?” tanya Pak Budi, penjaga sekolah, sambil menahan pintu terbuka. Di belakangnya, seorang anak perempuan dengan rambut keriting dan kacamata tebal menatap ke dalam kelas dengan rasa ingin tahu.
“Ini Maya,” kata Pak Joko memperkenalkan. “Dia baru pindah kesini dari Bandung. Maya, ini kelas 3-E”. tempat Raka dan teman-temannya sedang menggambar di kanvas.
Maya melangkah masuk, menatap kanvas yang hampir selesai. Ada keheningan sejenak, lalu ia mengangkat tangannya.
“Boleh aku coba?” tanya Maya, dengan suara pelan namun tegas.
Bu Sari mengangguk, memberi ruang bagi Maya. Maya mengambil kuas hijau, lalu mulai menggambar seekor burung kecil yang hinggap di salah satu cabang. Burung itu memiliki bulu yang berkilau.
“Wah, cantik!” seru Lina.
Maya tersenyum, tapi matanya masih melirik ke arah Raka. “Aku pernah lihat gambar seperti ini di buku cerita di Bandung. Di sana, mereka selalu menggambar pohon yang menjadi rumah bagi semua makhluk. Aku pikir pohon ini butuh lebih banyak teman.”
Raka menatap Maya, lalu kembali ke kanvas. dia menambahkan seekor kucing berwarna oranye yang sedang meluncur di antara dedaunan, dan seekor kelinci putih yang bersembunyi di akar pohon. Setiap tambahan membuat gambar semakin hidup dan kuat, terlihat pohon itu memang menjadi rumah bagi semua makhluk di kelas.
Namun, di tengah kegembiraan, sebuah suara mengganggu.
“Eh, kenapa ada yang pakai kursi roda? Ini kan lomba melukis, bukan pameran alat bantu,” celetuk Joko, anak yang biasanya paling aktif di kelas.
Kelas menjadi hening. Raka menunduk sejenak, merasakan getaran roda di kakinya. Bu Sari menatap Budi dengan tenang.
“Joko, setiap orang punya cara masing-masing untuk berkarya. Raka menggunakan kursi roda untuk sampai ke sini, sama seperti kamu menggunakan kaki untuk berjalan. Yang penting adalah apa yang kita sumbangkan ke kanvas, bukan bagaimana kita sampai ke sana,” jelasnya.
Budi menunduk, merah mukanya. Maya melangkah maju, menaruh tangannya di bahu Raka. “Maaf, Raka. Aku tidak bermaksud menyinggung,” katanya lembut.
Raka mengangkat kepalanya, menatap mata Maya. “Tidak apa-apa. Aku tahu kadang orang belum mengerti. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa bantu saya menaruh cat di palet. Aku masih belum bisa menjangkau yang paling atas.”
Maya mengangguk, dan bersama-sama mereka menata palet cat. Keakraban kecil itu berjalan lancar, mengubah suasana menjadi lebih hangat dan berkenang. Teman-teman lain pun ikut membantu, menambahkan sentuhan mereka masing-masing. Seorang anak menggambar matahari yang bersinar di sudut kanan atas, yang lain menambahkan pelangi di belakang awan.
Waktu berlalu, dan kanvas pun selesai. Pohon itu berdiri megah, dengan cabang-cabang yang melintang, daun-daun berwarna pelangi, robot-robot kecil, burung-burung berkilau, kucing oranye, kelinci putih, dan bahkan seekor ikan yang berenang di antara akar yang menjorok ke tanah. Di dasar pohon, terdapat jejak-jejak roda kecil yang menandai perjalanan Raka, serta jejak kaki teman-temannya.
Bu Sari berdiri di depan kelas, matanya berkilau. “Ini adalah contoh nyata dari apa yang disebut inklusi. Kita tidak hanya menerima perbedaan, kita merayakan dan mengintegrasikannya. Karena ketika kita bersatu, karya kita menjadi lebih indah daripada sekadar kumpulan individu.”
Semua orang bertepuk tangan. Raka menatap kanvas, lalu menatap teman-temannya. Hat
inya penuh rasa syukur. Ia tidak lagi merasa seperti orang yang berbeda, melainkan bagian dari sebuah keluarga besar yang saling melengkapi.
Setelah pelajaran selesai, Joko mendekati Raka. “Aku..maaf tadi,” katanya, suaranya serak. Raka tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku senang kamu mau belajar.”
Maya, yang masih memegang kuas, menoleh ke arah Raka. “Besok, mau ikut lomba catur di sekolah? Aku dengar kamu pintar memainkan catur.”
Raka tertawa, suara kecilnya menggema di lorong. “Aku akan coba, asalkan kamu yang pegang papan.”
Kelas pun kembali ke aktivitas biasa, namun kanvas yang telah selesai tetap tergantung di dinding, mengingatkan semua orang bahwa perbedaan bukanlah halangan, melainkan jembatan yang menghubungkan hati. Dan di sudut kelas, roda kecil Raka berputar perlahan, seperti mengukir melangkah yang tak pernah berhenti.
Devi Sonia Putri 25010024030