“Sekolah Pelangi Di Desa Jiju”
Di salah satu daerah kecil di Jiju berdirilah Sekolah Pelangi, sekolah sederhana namun penuh warna di dalamnya. Setiap pagi, gerbang sekolah akan menyambut semua murid tanpa memandang latar belakang, kemampuan, ataupun kondisi. Sekolah Pelangi berdiri berdasarkan semangat dari UU No. 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus dan juga UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang telah menjadi dasar bahwa pendidikan harus dapat diakses oleh semua anak. Di senin pagi, Bu Im Sol, guru dari kelas lima sekaligus koordinator inklusi, menyambut dua murid baru yang bernama Baek In-hyuk, seorang anak Autisme, dan Tae-seong, anak ADHD yang energinya tidak pernah habis. Baek In-hyuk masuk kelas sambil memeluk tasnya, menghindari kontak mata dan sesekali menutup telinga ketika suara terlalu keras. Sedangkan Tae seong, ia berlari kecil ke sana ke mari, kelihatan bersemangat, tetapi sulit duduk diam. Bu Im Sol tersenyum melihat mereka karena ia tahu bahwa kedua anak ini bukanlah tantangan, tapi kesempatan untuk menunjukkan bagaimana inklusi akan bekerja dengan baik.
Di dalam kelas, suasana belajar diatur agar semua anak bisa mengikuti kelas dengan baik. Baek In-hyuk duduk di bagian dekat jendela yang lebih tenang, sementara Tae-seong memilih untuk duduk di meja yang bisa ia gunakan untuk berdiri dan bermain-main jika bosan. Di hari senin para siswa akan belajar tentang tata surya. Bu Im Sol juga sudah menyiapkan bahan belajar sesuai Program Pembelajaran Individual untuk masing-masing anak. Untuk In-hyuk, ada gambar-gambar planet timbul supaya bisa ia raba. Sedangkan untuk Tae-seong, ia di sediakan aktivitas bergerak antar pos agar energinya tetap bisa tersalurkan. Dan tiba-tiba ada suara motor dari halaman terdengar sangat keras, sehingga Baek In-hyuk refleks menutup telinganya dan menggoyangkan tubuhnya. Beberapa murid juga tampak kebingungan, tetapi Bu Im segera menenangkan keadaan sambil berkata lembut bahwa Baek In-hyuk hanya merasa terganggu oleh suara keras. Sementara Nam-ra, teman sekelas mereka, langsung mengambil ear muff yang sudah disediakan oleh sekolah di rak pojok kelas dan ia memberikannya kepada In-hyuk dan akhirnya In-hyuk perlahan kembali tenang. Di sisi lain, Tae-seong mengetuk meja dan berdiri tanpa izin. Bu Im Sol tidak memarahi Tae-seong, namun Bu Im Sol mendekatinya dan menenangkan Tae-seong, Bu Im Sol berkata: “Tae-seong, Tae seong mau gak jadi kapten kelompok penjelajah planet? nanti Tae-seong yang mengatur teman teman saat pindah pos.” dengan arahan dari Bu Im Sol tadi Tae-seong langsung fokus dan bersemangat menjalankan tugasnya. Nah ini adalah hasil pembelajaran Bu Im Sol dari topik tentang autisme dan ADHD, bahwa anak disabilitas tidak bisa dipaksa duduk tenang, tetapi bisa diarahkan dengan aktivitas yang tepat dan bermakna.
Di sekolah yang sama juga, terdapat banyak anak lain dengan kebutuhan berbeda. Ada Hye min, anak tunanetra yang membaca dengan huruf Braille. Se-yeon, anak tunarungu yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Cheong-san, anak tuna daksa yang menggunakan kursi roda. Yi-chan, anak tunagrahita ringan. Se-kyung, anak disleksia yang kesulitan membaca tapu ia alhi dalam menggambar, dan Yu-ri, anak berbakat istimewa yang ahli matematika sampai-sampai sudah bisa menyelesaikan soal matematika kelas delapan padahal ia baru kelas lima. Mereka semua belajar di bawah satu atap, tapi dengan cara dan pendekatan yang berbeda-beda. Dari sinilah ita bisa melihat bahwa inklusi hidup dari hal sederhana, dengan menerima perbedaan tanpa harus menghapusnya. Terkadang di sore hari, Bu Im bertemu dengan orang tua para siswa untuk membahas identifikasi dan asesmen perkembangan anak-anak. Nah saat bertemu dengan orang tua Baek In-hyuk dan Tae seong, ia menyampaikan bahwa In-hyuk lebih suka dan nyaman dengan rutinitas bergambar, sementara Tae-seong memerlukan sistem poin dan waktu istirahat yang tertata. Mendengarkan perkembangan anak-anak mereka orang tua In-hyuk dan Tae-seong merasa terharu karena sekolah benar-benar memperhatikan kebutuhan anak-anak mereka, bukan hanya menempatkan mereka di kelas lalu membiarkannya berkembang dan belajar sendiri. Tim guru di Sekolah Pelangi juga menyusun kurikulum inklusi yang fleksibel. Setiap pelajaran dirancang agar semua anak bisa ikut menggunakannya. Ada buku Braille untuk Hye-min, video dan penerjemah isyarat untuk Se-yeon, jalur kursi roda untuk Cheong-san, font khusus dan waktu tambahan untuk Se-kyung, dan proyek pengayaan untuk Yu-ri. Semua guru di Sekolah Pelangi berkolaborasi, termasuk juga konselor, terapis, dan tenaga kependidikan lain yang juga ikut memastikan setiap anak mendapat perhatian yang tepat. Mereka percaya bahwa kurikulum yang baik adalah kurikulum yang menyesuaikan kebutuhan para siswa, bukan sebaliknya.
Di Sekolah Pelangi tiap akhir semester akan mengadakan kegiatan yaitu acara Pentas Proyek Pelangi. Semua murid menampilkan karya mereka. Di acara kali ini In-hyuk membawa model tata surya dari plastisin, ia tidak banyak berbicara, tapi dengan detail karyanya membuat semua orang kagum melihatnya. Sementara Tae-seong menjadi pemandu acara dan membuat suasana hidup dengan semangatnya. Hye-min membacakan puisi menggunakan Braille, Se-yeon yang menyanyikan lagu melalui bahasa isyarat, Se-kyung menampilkan hasil lukisan tata surya yang indah, Yu-ri membawa simulasi orbit digital, dan Cheong-san memperlihatkan hasil karya fotografi yang di ambil dari sudut pandang kursi rodanya. Ketika acara berakhir, Pak Sun-jae naik ke panggung dan berkata, “Inilah bentuk nyata pendidikan inklusif. Tidak ada anak yang tertinggal, tidak ada anak yang
sendirian. Semua memiliki tempat untuk tumbuh.” Mendengar ucapan Pak Sun-jae para orang tua bertepuk tangan, dan bahkan ada yang meneteskan air mata karena bangga. Malam itu, setelah Bu Im menutup pintu ruang guru, langkahnya terhenti di koridor yang sepi itu. Di dinding, terpajang lukisan dan foto-foto karya murid-muridnya, sebuah galeri kecil yang tidak pernah gagal membuatnya tersenyum. Ia melihat kembali gambar-gambar sederhana hasil karya murid-muridnya itu.
Dari sana Bu Im sadar bahwa pendidikan inklusif bukan hanya teori yang ia pelajari dari buku-buku dan pelatihan. Tapi dari tangan-tangan kecil yang menggambar, tawa yang tiba-tiba pecah saat di kelas, dan dari tangisan yang mereda saat ia duduk menenangkan. Anak-anak itu menunjukkan kepadanya bahwa setiap perbedaan punya cara unik untuk bersuara dan tugasnya hanya untuk mendengarkan. Sekolah Pelangi memang kecil, tapi di balik pintunya yang sederhana, setiap anak membawa cahaya masing-masing. dan ketika cahaya bertemu, koridor kecil itu terasa seperti dunia yang ramah bagi siapapun yang berbeda.
Zahira Helga Prasasti - 039