Cahaya di dalam bayangan
Di kota kecil Harapan, yang dikelilingi oleh sawah hijau dan sungai tenang, hiduplah seorang manusia yang bernama yaqin, berusia 12 tahun dengan memilih down sindrom. Yaqin lahir dengan ciri khas sindrom: wajah bulat, mata sipit, dan senyum yang selalu lebar seperti matahari pagi. Ia tinggal bersama orang tuanya, Pak Reyhan Seorang petani sederhana dan Bu Kharis ibu rumah yang penuh kasih. Sejak kecil, Yaqin belajar bahwa dunia ini penuh warna, tapi ia sering merasa seperti bayangan di balik cahaya orang lain. Di sekolah inklusif tempatnya belajar, teman-temannya kadang menjauh karena takut ia "terlalu lambat" atau "aneh". Guru-gurunya baik, tapi Yaqin tahu ia perlu waktu lebih lama untuk memahami pelajaran. Namun, ada satu hal yang membuat hatinya berdegup kencang: olahraga. Ia suka berlari di lapangan, melompat seperti katak, dan bermain bola meski gerakannya tidak secepat anak lain. "Aku ingin menjadi juara!" katanya pada dirinya sendiri setiap kali melihat atlet di TV.
Suatu sore, Yaqin menemukan poster kompetisi olahraga anak-anak di kota itu: "Lari Cepat untuk Semua". Acara itu terbuka untuk semua, tanpa batasan usia atau kemampuan. Hadiahnya adalah medali emas, piala, dan kesempatan tampil di televisi lokal. Mata Andi berbinar. "Ini kesempatan ku!" pikirnya. Ia pulang dan menceritakan pada ayahnya. Pak reyhan tersenyum, tapi juga khawatir. "Kamu yakin, Nak? Ini akan sulit." Bu Kharis, yang selalu mendukung, berkata, "Kita coba bersama." Mereka mulai berlatih setiap pagi di taman dekat rumah. Pak Reyhan membawa stopwatch, Bu Kharis memberikan jus buah untuk energi, dan Yaqin berlari bolak-balik di jalur tanah. Tapi tantangan muncul: Yaqin sering tersandung karena koordinasi motoriknya yang berbeda, ia mudah lelah, dan kadang lupa aturan balapan. "Mengapa aku tidak bisa seperti yang lain?" keluhnya suatu malam, air matanya menetes sambil memeluk boneka kesayangannya. Orangtuanya menghiburnya, tapi Yaqin tahu ia harus kuat.
Kemudian, Yaqin bertemu Dwiki, anak tetangga berusia 13 tahun yang baru pindah ke kompleks itu. Dwiki awalnya ragu ia melihat Yaqin sebagai "anak aneh" yang bermain sendirian. Tapi suatu hari, saat Yaqin sedang berlatih lari, Dwiki mendekati dan bertanya, "Mau ikut main bola?" Yaqin tersenyum lebar dan mengangguk. Dari situ, persahabatan mereka dimulai. Dwiki, yang lebih atletis dan cepat, mulai melatih Yaqin: mengajari teknik lari dasar seperti langkah kaki yang stabil, memotivasi saat Yaqin jatuh, dan bahkan membuat permainan kecil seperti "lari kejar-kejaran" untuk membuat latihan menyenangkan. "Kamu punya cahaya di dalam dirimu, Yaqin," kata Dwiki suatu hari sambil tertawa. "Sindrommu itu bukan bayangan, tapi bagian dari kekuatanmu. Kamu tidak pernah menyerah!" Yaqin belajar bahwa down sindrom membuatnya lebih tekun ia bisa berlatih berjam-jam tanpa bosan, dan senyumnya selalu membuat orang bahagia.
Bersama Dwiki, Yaqin menghadapi tantangan lebih besar. Mereka pergi ke lapangan olahraga kota untuk latihan intensif. Di sana, beberapa anak menertawakan Yaqin, menyebutnya "pelari lambat". Dwiki membela temannya, dan perlahan, anak-anak lain mulai tertarik. Salah satunya, rania gadis yang suka renang, bergabung dan mengajari Yaqin tentang kekuatan mental. "Tujuan bukan tentang cepat, tapi tentang selesai," katanya. Yaqin juga belajar dari kisah-kisah inspiratif: atlet dengan disabilitas seperti mereka yang menang di Paralimpiade. Ia mulai membaca buku sederhana tentang motivasi, dan bahkan membuat jurnal harian tentang kemajuannya.
Hari kompetisi tiba. Lapangan penuh penonton orang tua, guru, dan warga kota. Yaqin gugup, tangannya gemetar. Dwiki memegang tangannya. "Kita lakukan bersama," bisik Dwiki. Balapan dimulai dengan tembakan pistol. Yaqin berlari sekuat tenaga, meski tertinggal di belakang peserta lain. Ia tersandung sekali karena tanah licin, tapi bangun lagi dengan semangat. Penonton berteriak, "Ayo, Yaqin! Kamu bisa!" Di garis finish, Yaqin tidak menang ia finis di urutan ketiga. Tapi saat medali perunggu dikalungkan di lehernya, Andi tersenyum lebar, air matanya mengalir bahagia. "Aku berhasil!" serunya, sambil memeluk Rian dan orangtuanya.
Acara itu berubah menjadi momen inspirasi. Penonton berdiri bertepuk tangan, dan beberapa anak mulai mendekati Yaqin, ingin berteman. Di sekolah, Yaqin menjadi panutan ia mulai mengajak teman-temannya bergabung dalam klub olahraga inklusif. Dwiki dan Rania menjadi sahabat sejatinya, dan Yaqin belajar bahwa tujuan bukan selalu tentang medali, tapi tentang perjalanan: menerima diri sendiri, membangun persahabatan, dan menunjukkan bahwa cahaya di balik bayangan adalah cahaya kita sendiri.
Syihabbudin