Kisah Lira dan Sekolah Hutan Pelangi
Di sebuah lembah yang selalu diselimuti kabut, terdapat Sekolah Hutan Pelangi yang sangat indah. Sekolah Hutan Pelangi ini adalah tempat segala makhluk belajar, tanpa memandang kondisi, keadaan, kemampuan, ataupun asal usulnya. Para peri-peri, kupu-kupu, kelinci, kurcaci, burung kecil, tupai, dan bahkan batu hidup pun belajar bersama di sana. Disekolah Hutan Pelangi dipimpin oleh kepala sekolah yang bernama Bu Casil. Bu Casil adalah sesosok peri yang sangat baik dan sangat menghargai semua siswa yang ada disekolah hutan pelangi ini. Ia selalu berkata bahwa setiap makhluk mempunyai cahaya uniknya sendiri. Lira, seorang peri muda berhati ceria, adalah salah satu murid paling rajin. Ia memakai sayap peraknya untuk terbang cepat setiap pagi, menyapa temen-teman yang lain serta memetik cahaya embun untuk pelajarannya.
Namun suatu pagi, ketika Lira sedang mencoba trik melayang yang baru dia pelajari, angin lembah dan kilat yang tiba-tiba menyambar, berputar kencang mendorong tubuh mungilnya ke arah batang pohon tua. KRAKK! Suara kecil namun jelas terdengar. Lira jatuh ke tanah berlumut, rasa sakit menjalar dari sayap kirinya. Ketika ia mencoba bangkit, sayapnya yang biasanya berkilau hanya menggantung lesu dan benar sayap Lira patah.
Perasaan Lira sedih mengaliri dadanya. Terbang adalah bagian dari dirinya, bagian dari bagaimana ia bersekolah, bermain, dan hidup. “Bagaimana aku bisa pergi ke sekolah kalau aku tidak bisa terbang?” gumamnya sambil menahan air mata. Ia merasa duniannya mengecil, seperti pintu-pintu hutan tiba-tiba menutup untuknya.
Lira memberi tahu jika sayapnya patah kepada Bu Casil dan ia langsung memanggil para murid untuk berdiskusi. Bu Casil mengatakan kepada murid lain yaitu “Jangan diamkan Lira, berikan support dan jangan beda-bedakan Lira dengan yang lain”, katanya lembut, “Lira tetap teman kita. Maka kita harus mencari cara agar ia bisa terus belajar tanpa merasa tertinggal.” Kata-kata itu membuat semua makhluk menegakkan tubuh mereka. Lira tetap bisa belajar di sekolah karena sekolah Hutan Pelangi tidak pernah membiarkan seorang murid menghadapi kesulitan sendirian. Sedangkan Lira akan melakukan perawatan dan terapi untuk sayapnya.
Keesokan harinya, teman-teman Lira datang ke rumah peri itu membawa rancangan alat sederhana yang mungkin dapat membantu Lira yaitu sebuah kereta daun yang bisa ditarik berkelompok oleh burung-burung kecil. “Kalau Lira tidak bisa terbang, kami yang akan membantunya sampai ia pulih,” ujar Piko si tupai sambil tersenyum bangga. Lira terharu melihat bagaimana tidak ada yang memandangnya sebagai beban, mereka justru ingin memastikan ia tetap menjadi bagian dari mereka.
Setiap Lira pergi untuk berobat ke Rumah Penyembuhan Hutan yaitu tempat para peri penyembuh bekerja dengan ramuan daun perak dan cahaya hangat dari kunang-kunang penyembuh. Lira menjalani perawatan berupa balutan getah penyatu tulang yang diawali dengan sayapnya dibersihkan dengan air bunga penyatu serat, lalu dibalut dengan lapisan getah ajaib yang membantu tulang sayap tumbuh kembali. Lalu Lira diberikan minuman herbal untuk mengurangi nyeri, dan mengajarinya latihan kecil agar otot sayapnya tidak kaku. Lira pergi ke rumah penyembuhan dan beraktivitas selalu menggunakan kereta daun yang diberikan teman-temannya serta dibantu teman-teman untuk mendorong kereta daun tersebut.
Ketika Lira kembali ke sekolah, banyak hal berubah tetapi semuanya terasa seperti pelukan hangat. Ruang kelas yang biasanya tinggi kini diberi meja rendah agar Lira tidak perlu memanjat. Alat belajar yang biasanya ditempel di cabang pohon kini dibuat dalam versi yang dapat ia jangkau. Bu Casil mengatur penyesuaian pembelajaran untuk memastikan Lira tetap bisa mengikuti pelajaran tanpa perlu menggunakan sayapnya. Ia juga mengizinkan Lira istirahat jika punggungnya mulai nyeri. Tidak ada makhluk yang mempermasalahkan itu, semua siswa sangat mengerti keadaan Lira sekarang ini.
Beberapa murid yang biasanya belajar dengan cepat mulai membantu Lira memahami materi tanpa terburu-buru. Mereka bekerja dalam kelompok kecil, berdiskusi dan saling memahami kemampuan masing-masing. Ia belajar banyak hal dari teman-temannya, bukan hanya pelajaran sekolah tetapi juga cara menerima diri sendiri saat sedang rapuh.
Suatu hari, ketika pelajaran Seni Terang dimulai, Bu Casil meminta semua murid membuat karya tentang “kekuatan cahaya diri”. Lira awalnya merasa ragu, bagaimana ia bisa membuat sesuatu tanpa terbang, tetapi teman-temannya mengusulkan ide baru yaitu mereka membuat panggung kecil dari jamur raksasa, sementara Lira menggunakan sinar embun untuk menciptakan cahaya yang memantul dari cermin daun. Karyanya menampilkan bentuk sayap yang retak namun tetap bersinar. Seluruh kelas terpukau. “Lira,” kata Bu Casil,
“karyamu mengajarkan kami bahwa kekuatan tidak hanya datang dari tubuh yang sempurna, tetapi dari hati yang mau terus belajar, sekalipun keadaan sedang sulit.” Lira tersenyum, untuk pertama kalinya sejak sayapnya patah ia merasa bangga pada dirinya sendiri.
Hari-hari berlalu. Sayap Lira perlahan pulih, meski tidak secepat yang ia harapkan. Ketika ia sudah bisa mengepakkan sayapnya pelan, teman-temannya membuatkan jalur terbang bertahap menggunakan pita cahaya agar ia bisa melatih kekuatannya dengan aman. Mereka menyesuaikan ritme latihan agar Lira tidak merasa terburu-buru. Semua makhluk bersorak ketika ia berhasil melayang beberapa jengkal di udara. Momen itu menjadi bukti bahwa pendidikan inklusif bukan hanya tentang menyediakan fasilitas, tetapi tentang komunitas yang saling menjaga satu sama lain.
Pada akhir semester, Sekolah Hutan Pelangi mengadakan Festival Cahaya. Lira tampil dengan percaya diri, bukan dengan trik terbang memukau, tetapi dengan cerita tentang proses penyembuhannya. Ia mengajarkan bahwa setiap siswa baik peri, tupai, maupun batu hidup punya kebutuhan yang berbeda, dan tugas sekolah adalah memastikan semua bisa belajar bersama tanpa rasa takut atau tersisih. Ceritanya membuat banyak makhluk meneteskan air mata haru. Saat malam festival berakhir dan kunang-kunang mulai menari di udara, Lira menengok sayapnya yang kini sudah kuat kembali serta dapat terbang kembali.
Sejak hari itu, sayap Lira bukan hanya membawanya terbang tinggi tetapi juga menumbuhkan rasa percaya pada dirinya. Setelah kejadian itu, ia memahami juga bahwa kekuatan bukan hanya soal kemampuan, tetapi menerima diri sendiri saat tidak baik-baik saja. Dari pengalamannya juga, Lira belajar tentang arti inklusif bahwa setiap perbedaan itu membuat dunia lebih berwarna jika kita saling menghargai, membantu sesama, dan mengajak kerjasama tanpa membandingkan.
Karya: Yasmin Nadira Suhendra - 001