ADILI BAHRAL
Di suatu negara dengan sumber kekayaan yang melimpah, lahirlah Bahral. Tumbuh Dari keluarga yang miskin di bagian timur, Bahral tumbuh dengan kasih sayang orangtua dan lingkungan yang ramah. Dia hidup bahagia dan tumbuh ceria bagai bunga mekar yang indah.
Di masa remajanya, ia berencana untuk berkuliah di ibu kota negaranya. Dia berjanji kepada keluarga dan lingkungannya bahwa dia akan memperbaiki dan mewakilkan apa yang mereka sebagai rakyat miskin rasakan. Dengan motivasi yang besar dan kerja kerasnya yang gigih, dia lulus SMA dengan peringkat 1 dan diterima di universitas terbaik di negaranya.
Di kuliahnya, Bahral adalah mahasiswa yang berprestasi dan aktif. Dia menjadi aktivis lingkungan, mengkritisi kebijakan yang menurutnya salah, dan membela para kaum petani. Dia percaya bahwasannya kekuatan 1% orang bisa mengubah rezeki 99%orang menjadi lebih baik. Berani melawan ketidakadilan dengan kekuatan minoritas. Salah satu visi diam adalah tidak ada kata-kata “Jangan jadi petani” keluar dari mulut seorang petani.
Bahral lulus dengan predikat cum laude dan diangkat menjadi pegawai PNS di suatu lembaga. Dia meraih banyak sekali prestasi dan penghargaan selama dia bekerja. Setelah Bertahun-tahun bekerja, dia diangkat menjadi menteri pembangunan dan energi. Tetapi, hal yang tidak disangka-sangka terjadi. Uang yang ada di lembaganya sangatlah besar, bahkan mencapai ribuan triliunan. Di sinilah moral dan integritasnya diuji. Mampukah dia menepati janjinya diawal, atau terbelenggu bagaikan budak uang?
Ironisnya, Bahral memilih jalan yang dulu ia benci. Membuka tambang di berbagai daerah dengan alasan “meningkatkan kegiatan ekonomi”, mempersulit pasokan gas swasta dengan alasan “untuk kebaikan usaha negara”, dan lain sebagainya. Akibatnya, angka harapan hidup warga di sekitar tambang menjadi turun, meningkatnya pengangguran karena lahan perairan yang terdampak, dan semua keuntungan itu didapatkan oleh perusahaan swasta. Dia dihujani kritikan dan cacian karena kebijakannya yang malah berdampak buruk. Tetapi sampai sekarang, dan sampai 5 sampai 10 tahun kedepan, dia tidak akan bisa dicopot jabatannya, karena ada suatu “negosiasi” dibalik layar.
Dengan wajah tersenyum di televisi, Bahral membuka tambang di kampungnya. Janji yang ia buat langsung ia ingkari. Di kampung halamannya, anak-anak bermain di sungai yang kini berubah warna menjadi abu-abu.“Katanya dulu, kau ingin kami bisa tersenyum, Ral…”gumam seorang petani tua, menatap sawahnya yang kini kering. ironis…
Muhammad Irfan Tri Julianto - 25080694098