Amin yang Sama, untuk Dua Nama Tuhan yang Berbeda
Disuatu hari, matahari muncul dipermukaan langin yang menandakan aktivitas semua orang yang ada di bumi dimulai, seperti halnya dengan Kayla, yang sekarang ia menjadi mahasiswa baru disuatu universitas yang diimpikannya, dengan semangat yang membara ia bergegas untuk bersiap menuju tempat belajarnya selama 4 tahun kedepan. Kayla adalah seorang mahasiswi yang berasal dari Fakultas Ekonomikan dan Bisnis dengan prodi Akuntansi. Hari ini adalah hari pertama para mahasiswa baru menginjakkan di kampus untuk menjalankan ospek. Sesampainya di kampus, Kayla mencari teman sekelompoknya, kemudian dilanjut oleh sesi perkenalan anggota dimasing-masing kelompok, memilih ketua kelompok dan mengerjakan soal-soal yang harus dikerjakan.
Pemilihan anggota kelompok dipilih secara acak oleh aplikasi di smartphone, yang terpilih aja Jevano, seorang mahasiswa Fakultas Teknik, dengan prodi Teknik Mesin. Setelah pemilihan selesai kelompok melanjutkan untuk mengerjakan soal yang diberikan, Kayla merupakan anak yang aktif dan suka berpendapat, ia sangat berparsitipasi dalam mengerjakan soal ini, dan muncul rasa kagum oleh Jevano. Bukan tanpa alasan Jevano kagum, saat mengobrol dengannya Jevano merasa nyaman, Kadang, rasa nyaman bukan hanya soal tempat, tapi bisa saja dari seseorang yang bertemu tanpa sengaja. Selama masa ospek berlangsung, Kayla tidak pernah melihat Jevano melakukan ibadah sholat, yang artinya Jevano berasal dari agama non muslim, sedangkan Kayla berasal dari agama muslim. Tak jarang juga pada saat kerja kelompok, Jevan mengingatkan teman teman muslim untuk melaksanakan sholat, dan memberikan mereka waktu untuk beribadah dengan tenang. Setelah masa ospek, mereka berdua tetap menjalin hubungan yang dekat, biasanya jika mereka ada kelas dihari yang sama, mereka makan siang bersama dan pulang bersama.
Sampai suatu hari Kayla merasa lelah dan kesusahan beberapa hari ini,
“Van, kamu kalo lagi capek banget, stress dan berat banget hari-hari terakhir, biasanya ngapain?”,
Jevan pun menjawab, “Biasanya aku cari ketenangan sih ra, trus berdoa ke tuhan sih ra, kalau kamu?”,
Kayla pun menjawab, “Oh... Doa ya, aku juga seperti itu, dan aku juga bilang ‘Allah kuatkan aku untuk hari-hari selanjutnya’”. Dijawab oleh Jevan,
“Hahaha, aku juga seperti itu ra, bedanya kita nyebut nama tuhan yang berbeda haha”.
Merekapun sudah menjadi seorang mahasiswa semester 5, tetapi ada ketakutan diantara mereka. Takut semakin jatuh cinta satu dengan lainnya, karena diantara mereka ada dinding tinggi bahkan mustahil untuk dirobohkan, yaitu dinding katedral dan dinding masjid. Hingga suatu hari Kayra pun mengungkapkan perasannya,
“Jev, aku takut makin suka sama kamu, aku takut menghambil kamu dari tuhanmu”
Jevan pun menjawab, “Aku juga bingung ra, aku nyaman sama kamu, aku sayang sama kamu, tapi kita beda tuhan ra, kita tidak mungkin bisa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius dikemudian hari”
Mereka pun berbicara tentang perasaannya selama ini, yang keputusan akhirnya mereka setuju untuk memberi jarak diantara mereka, komukasi yang sekedar menyapa dan lainnya. Karena mereka yakin, mencintai seseorang dari jauh juga merupakan bentuk keikhlasan dari seluruh perasaaan. Seiring berjalannya waktu mereka lulus, yang artinya mereka akan benar-benar terpisah, bahkan akan jarang bertemu. Jevan akan pergi merantau ke Jakarta untuk bekerja sekaligus memulai hidup baru, sedangkan Kayla tetap di Kota mereka bertemu, Kota Surabaya.
Sampai disuatu malam, ada notifikasi dari smartphone Jevan mendapat sebuat pesan dari orang yang ia sangat tunggu-tunggu, Kayla. Namun setelah room chatnya, Kayla membagikan undangan pernikahannya bersama orang lain, yang pastinya seiman. Dengan hati yang senang sekaligus sedih, ia pun menjawab “Happy wedding ra, bahagia selalu ya” ia tersadar, mencintai seseorang bukan harus memiliki, tapi mendoakan dalam diam sampai cinta mereka berdua berakhir dan tidak memaksakan mereka untuk berpindah keyakinannya.
Dicerita ini, menggambarkan dua orang yang memiliki amin yang sama, cinta yang sama tetapi dengan tuhan yang berbeda, dalam agama mereka tidak boleh menikah jika mereka tidak seiman. Meskipun begitu, mereka tidak memaksa salah satu dari mereka untuk berpindah agama, dan menepatkan tuhan diatas segalanya. Mereka tidak melanggar apa yangdiperintahkan oleh tuhan, menghormati keyakinan masing masing, yang dimana inilah salah satu penerapan Pancasila, yaitu sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa.
Shafira Tisha Az Zahra - 25080694236