Antara Dosa dan Doa
Zuzu adalah siswa kelas sebelas yang terkenal lucu dan usil. Ia selalu punya cara untuk menghidupkan suasana di kelas, seperti menirukan suara Doraemon dan menggambar karikatur guru di papan tulis. Namun beberapa waktu terakhir, ia jadi pendiam dan sering menyendiri sambil menatap ponselnya.
Sahabatnya Rista, menyadari hal itu. Suatu hari di kantin saat jam istirahat, Rista bertanya kepada Zuzu. “Zu, kamu kenapa sih akhir-akhir ini? Kayak nggak ada semangat hidup, biasanya kan rame banget.” Rafi hanya tersenyum kaku. “Nggak apa-apa, Din. Cuma lagi... banyak urusan pribadi.”
Yang tidak diketahui Rista, “urusan pribadi” itu adalah mimpi buruk yang diciptakan oleh Zuzu sendiri. Zuzu baru saja tergoda mengikuti ajakan seseorang yang ia kenal lewat media sosial. Orang itu mengajaknya video call “aneh” katanya, cuma untuk “coba-coba” dan “nggak bakal ketahuan”. Awalnya Zuzu ragu, tapi karena penasaran dan merasa itu hal biasa di internet, ia mulai menuruti.
Beberapa hari kemudian, wajahnya murung terus. Nilainya turun, dan ia selalu takut saat ada notifikasi di HP-nya. Hingga akhirnya, orang yang ia ajak bicara itu mulai mengancam akan menyebarkan rekaman panggilannya jika Rafi tidak mengirimkan foto lagi. Zuzu panik. Ia menutup muka di kamar, tidak berani keluar.
Keesokan harinya, Rista datang ke rumah Zuzu. “Zu, aku tahu kamu lagi ada masalah. Cerita aja, aku nggak bakal nge-judge,” katanya pelan.
Akhirnya, Zuzu menangis dan menceritakan semuanya. Rista tidak menertawakan atau memarahi, tapi malah menenangkannya. “Zu, kamu tahu nggak, ini semua bukan cuma tentang salah langkah. Ini tentang kamu yang lupa sama nilai-nilai yang udah diajarin sejak kecil. Tuhan itu selalu melihat, bukan buat menghukum, tapi untuk mengingatkan.”
Kata-kata Rista menampar hati Zuzu. Malam itu Zuzu berdoa sambil menatap foto keluarganya. Ia sadar, rasa malu yang ia tanggung sekarang adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Tapi ia juga sadar, Tuhan tidak meninggalkan dia. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.
Keesokan harinya, Zuzu melapor pada guru BK dan meminta bantuan agar masalahnya ditangani. Ia juga mulai aktif dalam kegiatan rohani sekolah, bukan karena ingin terlihat baik, tapi karena ingin benar-benar berubah.
Beberapa teman sempat mengejeknya, tapi Zuzu menanggapinya dengan santai. “Aku udah cukup malu sama diri sendiri, sekarang giliran Aku bikin Tuhan bangga,” katanya sambil tertawa kecil.
Beberapa bulan kemudian, Zuzu benar-benar berubah. Ia jadi siswa yang rajin dan sering memberi penerangan tentang bahaya penyimpangan seksual di media sosial.
Pesan Moral:
Cerita ini mencerminkan sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mengajarkan kita bahwa keimanan kepada Tuhan merupakan pegangan bagi kita manusia agar tidak tersesat. Melalui penyesalan dan keberanian Zuzu untuk berubah, juga menunjukkan bahwa siapa pun bisa memperbaiki diri selama masih mau membuka hati dan kembali mendekat pada Tuhan.
Valencia Angela Aliyona - 25080694142