Ayah dan Bunyi yang Tersisa
Angin membawa hawa pagi di halaman rumah kami, samar-samar tercium aroma tanah basah sisa hujan semalam. Aku memandang Ayah yang sedang mengusap alat kecil sebelum memasangnya, gerakannya hati-hati, sembari menyingkirkan rambut-rambut kecil di dekat telinganya. “Yah, ini sudah mendekati jam masuk sekolah, memangnya hari ini Ayah tidak mengajar?” Ayah tersenyum tipis, berjalan mendekati motor tua yang selalu ia jaga itu. “Ayo naik,” ucapnya, Aku tersenyum lebar, “Asik, hari ini bareng Ayah lagi,” tuturku.
Aku menyusuri lorong sekolah, menyapa seluruh sosok makhluk hidup yang Aku kenal. Derap Langkah kakiku mendekat pada kelas yang sedang riuh dengan banyaknya sahutan suara-suara. Aku memandang dari balik jendela, Ayah menjelaskan goresan pada papan tulis di depannya, sambil menggerakkan tangan-tangannya sebagai gestur pembantu. Aku duduk di kursi depan sejenak, menikmati angin sepoi dan melihat orang berlalu-lalang di depanku. “Sudah makan, Nak?” Ayah menepuk pundakku, “Ini Yah, Aku sudah beli makan, yang ini buat Ayah, ya.” Ayah mengusap pelan kepalaku, “Terimakasih anakku.”
Sore ini, Ayah membawaku ke tempat konstruksi dimana Ayah bekerja. Ya, ini adalah kerja sampingan Ayah. Semenjak kematian Ibu, Ayah selalu banyak bekerja keras, demi Aku, demi masa depanku. Ayah tetap saja menyuruhku duduk dibawah pohon manga dekat konstruksi, katanya sih biar ga terkena cahaya matahari, “Padahal, Ayah tidak perlu sampai seperti ini, Aku juga bisa membantu kalau Ayah butuh,” kataku. Ayah melepas topi yang ia pakai, “Tidak, Nak. Inikan tugas Ayah, yang penting kamu belajar, itu nah, tak ada lagi yang bisa Ayah banggakan kalau kau tidak pintar,” Ucapnya.
Aku memijat pundak Ayah, melihat langit jingga yang mulai gelap, “Mungkin ini alasan Ibu memilih Ayah, ya?” Ayah hanya tertawa kecil, “Ayah kan memang tampan, makanya Ibumu suka.” Aku membalas dengan muka mengejek, kromosom percaya diri Ayah tidak pernah pudar. Aku dan Ayah melamun sejenak, sambil Ayah menarik nafasnya panjang. “Ibumu sedang apa ya, disana?” senyum masam, merasakan rindu yang ada di matanya. Aku bersandar di bahu Ayah. “Ayah hebat,” bisikku. Ayah tersenyum. “Ayah hanya melakukan apa yang Ayah bisa.” Tidak, yah. Bagiku, kau jauh lebih hebat daripada itu.
Bahkan di kegiatan sehari-hari yang Ayah lakukan, Ayah tidak pernah mengeluh. Padahal, Aku juga sering melihat sosok Ayah yang lemah. Sebagai anaknya, Aku melihat banyak sisi dari Ayah. Menyaksikan bagaimana Ayah bekerja setiap masa. Di sekolah, Ayah dikenal sebagai guru yang sabar, sesekali kadang mendekat kepada siswa dan meminta maaf atas kekurangan yang ia punya. Setiap berbicara dengan orang lain, Ayah akan tersenyum, memastikan bahwa ia dapat mendengar dengan jelas. Itulah mengapa, banyak yang mencintai dan menghargainya.
Tidak ada orang yang benar-benar siap dalam menghadapi kenyataan pahit. Setelah 5 tahun berjalan, Aku memberanikan diri untuk kembali. Tempat yang selalu membuat perasaanku bergemuruh, melihat dua orang yang paling Aku sayang itu. Aku mengusap perlahan, “Yah, Bu, Aku kembali, Aku merindukan kalian.” Aku membersihkan batu nisan Ayah dan Ibu yang tertutup dedaunan. Sejenak terlintas, bagaimana suara dan gestur Ayah ketika mendongeng ku setiap malam. Dunia di sekelilingku seakan runtuh. “Bahkan tanpa kalian, Aku tidak selalu bisa bertahan sendirian.”
5 tahun lalu, sirine ambulance mengantar raga terakhir Ayah. Suara yang Aku benci seumur hidupku itu. Ayah mengalami serangan jantung di sekolah, persis seperti apa yang terjadi ketika Ibu pergi dahulu. Dadaku sesak, mengapa seluruh orang yang Aku sayang akan pergi? Mengapa mereka tidak selamanya ada bersamaku?
Keadaan rumah sakit yang riuh ramai tidak memberikan reaksi apapun pada gemuruh riuh isi kepalaku. Memandangi ruang operasi sampai akhirnya lampu merah itu berhenti menyala. Duka menyelimuti hamper seluruh orang yang hadir saat itu. Aku, teman Ayahku, saudaraku, semuanya. Mereka mendoakan Ayah, apapun yang terjadi, telah ditentukan kehendaknya. Aku hanya bisa terdiam, walau rasanya, Aku tidak percaya. Semuanya sudah terlambat. Ayah pergi dengan tenang, menyisakan alat bantu dengarnya yang diletakkan di meja perawat. Dalam rasa sedihku, Aku mengingat penuh perjuangan Ayah kala itu, untukku. “Bahkan ketika Ayah dan Ibu pergi, mereka selalu dikelilingi banyak orang baik, ya.” Aku memandang kedua batu nisan mereka yang saling bersebelahan. Ayah dan Ibu mungkin bukan pahlawan yang tercatat dalam buku sejarah, tetapi ia adalah pahlawan terbesar dalam hidupku, yang akan selalu hidup dalam ingatanku, selamanya.
Karya: Salsabila Rania Putri,