Bendera di Bukit Pelangi
Di sebuah desa kecil bernama Bukit Pelangi, tinggal anak-anak dengan suku dan latar belakang yang beragam. Ada Dira yang berasal dari Jawa, Udin dari Bugis, dan Sari yang keluarganya berasal dari Batak. Mereka sering bermain bersama di lapangan, meskipun kadang perbedaan cara bicara dan kebiasaan membuat mereka berselisih kecil. Suatu hari sekolah mereka mengumumkan lomba mengibarkan bendera tertinggi menjelang Hari Kemerdekaan. Setiap kelas harus membuat tiang bendera sendiri. Kelas Dira, Udin, dan Sari berencana membuat tiang dari batang bambu. Namun ketika mulai bekerja, mereka mulai berselisih.
“Kita pakai tali ini saja, lebih cepat!” kata Sari.
“Tidak! Pakai simpul laut lebih kuat!” bantah Udin.
“Ah, kalian keras kepala! Aku jadinya mau kerja sendiri saja!” seru Dira.
Mereka berhenti bekerja. Tiang tak kunjung berdiri. Teman-teman lain mulai mengejek kelas mereka karena terlihat tidak kompak. Guru mereka, Pak Deni, datang dan duduk di dekat mereka.
“Kalian tahu,” katanya pelan, “tiang bendera itu bukan hanya tentang lomba. Itu tentang kita. Kalau kita tidak bersatu, bendera itu tidak akan pernah berkibar.”
Ketiga anak itu saling menatap. Mereka menyadari sesuatu. Selama ini mereka membiarkan perbedaan kecil memisahkan mereka.
“Aku minta maaf,” ucap Dira pelan.
“Aku juga,” balas Sari.
Udin ikut tersenyum, “Yuk kita bangun bersama.”
Mereka mulai bekerja kembali. Udin mengikat simpul, Sari mengatur tali, Dira menahan bambu agar tetap tegak. Tanpa terasa, tiang itu berdiri paling kokoh di antara semuanya, bukan karena bambunya paling besar, tapi karena dibangun dengan kerja sama. Pada hari upacara, bendera itu berkibar tinggi, indah sekali di langit biru. Anak-anak satu desa bertepuk tangan. Dira, Udin, dan Sari saling tersenyum bangga. Mereka mengerti, persatuan bukan berarti harus sama, tetapi mampu bekerja bersama meski berbeda.
Nilai Pancasila yang terkandung:
Cerita tersebut mengandung nilai dari sila ke-3 Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Walaupun kita berasal dari latar belakang yang berbeda, seperti bahasa, kebiasaan, suku, atau budaya, kita tetap satu sesuai dengan semboyan Bangsa Indonesia yakni Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk melengkapi dalam bekerja sama demi tujuan yang baik.
Isnaida Kristi Siregar - 25080694182