Bersatu untuk Inklusi, Membangun Kesadaran dan Aksi
Pendidikan inklusi bukanlah sekadar program pelengkap dalam sistem pendidikan, tapi intinya adalah pemikiran bahwa semua anak, apa pun kondisinya, punya hak yang sama untuk sekolah dan belajar bareng-bareng. Di kawasan Asia Tenggara, semangat untuk mewujudkan visi ini telah terangkum dalam berbagai upaya yang terus dijalankan, sebagaimana dicerminkan dalam e-book "Disability-Inclusive Education in Southeast Asia: Building Bridges to Inclusive Learning." Buku ini tidak cuma membahas tantangan dan cara-cara baik, tapi juga menekankan satu hal penting yakni kita harus bersatu, sadar, dan segera mengambil langkah nyata. Pikiran dan sikap kita sendiri sering menjadi penghalang terbesar, yaitu stigma dan diskriminasi, karena kita sendiri juga kurang paham. Kita sering melihat teman disabilitas seolah-olah mereka bermasalah atau harus dipahami. Padahal, inklusi mengajak kita untuk mengubah cara pandang, yaitu dengan melihat ini sebagai isu hak asasi manusia. Intinya, kita harus sadar bahwa disabilitas adalah bagian dari populasi. Jika kita berhasil mengubah pandangan ini, kita dapat menciptakan ruang yang ramah bagi semua orang.
Menyadari saja tidak cukup. Kesadaran harus segera diiringi dengan aksi yang nyata. Ada tiga langkah utama yang harus kita lakukan. Pertama, kuatkan guru. Guru harus punya ilmu dan skill agar bisa mengajar semua anak dalam satu kelas yang berbeda-beda. Kedua, buat aturan sekolah yang mendukung inklusi, seperti menyediakan teknologi bantu atau teknologi asistif dan bantuan tenaga ahli spesial education yang memadai. Ketiga, yang paling penting adalah kerja sama, sekolah wajib kerja bareng dengan keluarga murid, masyarakat sekitar, dan komunitas pendukung gerakan inklusi di sekitar. Keterlibatan inilah jadi penentu yang akan menjamin program inklusi yang benar-benar cocok dengan kebutuhan siswa.
Kesimpulannya, pendidikan inklusi di Asia Tenggara sudah menghasilkan banyak hal baik. Namun, untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal, kita harus terus memperkuat kesadaran bahwa setiap anak berhak atas pendidikan yang setara, dan mempercepat aksi bersama di semua tingkatan. Kita sedang membangun jembatan. Jembatan itu hanya akan kuat jika semua pihak menyatukan langkah. Mari bersatu untuk inklusi, mengubah kesadaran dan aksi untuk menciptakan lingkungan yang ramah disabilitas dan inklusif bagi kita semua.
Referensi:
SEAMEO Regional Centre for Special Educational Needs (SEAMEO SEN). (2024). Disability-Inclusive Education in Southeast Asia: Building Bridges to Inclusive Learning: Practices, Challenges, and Way Forward. Melaka, Malaysia: Penulis. eISBN: 978-629-98366-0-4.
Yudistiro Abdan Syakura 24010044015