“Peran Teknologi sebagai Penggerak Pendidikan Inklusif di Era Digital”
Teknologi telah menjadi jembatan penting dalam mewujudkan pendidikan inklusif yaitu pendidikan yang memberi kesempatan sama bagi semua siswa, termasuk mereka dengan kebutuhan khusus maupun dari latar belakang yang berbeda. Dengan memanfaatkan alat digital dan adaptif, hambatan fisik, sosial, atau geografis bisa diminimalkan, sehingga pendidikan bisa diakses lebih luas dan adil.
Salah satu landasan teoritis penting terkait hal ini dapat kita lihat dari penelitian Universitas Airlangga (Surabaya), yang menunjukkan bahwa “teknologi digital sebagai media pembelajaran pada pendidikan inklusi” dapat meningkatkan keterlibatan siswa, mendukung pembelajaran kolaboratif, serta membantu siswa berkebutuhan khusus mengikuti pelajaran sebagaimana siswa reguler.Studi ini menekankan bahwa dengan bantuan perangkat atau media digital, siswa disabilitas tidak lagi tertinggal mereka mendapatkan akses materi, bisa berpartisipasi aktif, dan memperoleh pengalaman belajar yang setara dengan teman sekelas lain.
Contoh nyata penerapan di institusi pendidikan tinggi di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), penggunaan platform digital dan inovasi pembelajaran telah diterapkan untuk mendukung pendidikan inklusif. UNESA melaporkan bahwa inovasi digital memungkinkan adaptasi metode pengajaran sehingga semua mahasiswa tanpa memandang kemampuan memperoleh akses dan kesempatan belajar yang setara.
Lebih jauh, perkembangan terkini menunjukkan integrasi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi bantu sebagai medium inklusif. Misalnya, dalam kasus internasional, terdapat sekolah yang membagikan smartphone dengan fitur aksesibilitas seperti pembaca layar (screen reader) dan aplikasi untuk tunanetra sehingga siswa dengan gangguan penglihatan dapat membaca, belajar, dan mengakses materi secara mandiri. Upaya seperti ini menunjukkan bagaimana teknologi tidak sekadar mendampingi, melainkan memberi kemandirian dan memperluas partisipasi.
Namun demikian, penggunaan teknologi untuk inklusi bukan tanpa tantangan. Penelitian menunjukkan bahwa implementasi di daerah terpencil atau 3T (tertinggal, terdepan, terluar) menghadapi kendala seperti infrastruktur terbatas, ketersediaan perangkat, maupun kesiapan guru. Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan yang mendukung, pelatihan guru, serta investasi berkelanjutan agar teknologi inklusif benar-benar bisa diakses oleh semua.
Secara keseluruhan, kombinasi antara kerangka pedagogis inklusif dan pemanfaatan teknologi adaptif membuka peluang nyata untuk menciptakan pendidikan yang adil di mana setiap siswa, tanpa kecuali, memiliki kesempatan berkembang sesuai potensi mereka. Hal ini menandakan bahwa masa depan pendidikan harus dirancang tidak hanya untuk sebagian, tapi untuk semua.
Link kasus :
https://ejournal.unma.ac.id/index.php/educatio/article/view/8586?utm_source=
https://s3pi.fip.unesa.ac.id/post/inovasi-digital-dalam-pendidikan-inklusi-studi-kasus-di unesa?utm_source=
https://journal.unigres.ac.id/index.php/JendelaPendidikan/article/view/3153?utm_source= https://jurnal.samudrailmu.com/index.php/jpdip/article/view/14?utm_source=
Hyachinta Aurella Firdauzi - 25010024047