Beruang Kecil Bersaudara dan Ladang Para Kelinci
Di sebuah pedesaan, hiduplah dua anak beruang madu yang bersaudara. Mereka adalah Shiro dan Kumo. Shiro memiliki sifat yang sangat baik, ia selalu peduli dengan orang orang disekitarnya. Sementara Kumo memiliki sifat yang tidak buruk, namun juga terkadang kurang baik. Ia memang mau membantu orang lain, namun seringkali ia lebih mengutamakan kepentingan pribadinya dibandingkan dengan menolong orang lain yang memerlukan bantuan. Walaupun memiliki sifat yang sedikit berbeda, mereka berdua selalu rukun dan saling menjaga.
Di desa itu, mereka tinggal di rumah seorang pemilik perkebunan apel sebagai peliharaan keluarga. Pemilik perkebunan itu memiliki seorang anak perempuan yang bernama Lilian. Lilian dan keluarganya sangat menyukai Shiro dan Kumo. Mereka dirawat dengan sangat baik. Biasanya, Lilian bermain dengan mereka, namun ketika Lilian sedang bersekolah, biasanya mereka berdua menghabiskan waktu dengan berkeliling desa, mencari buah buahan untuk dimakan, bermain di kebun dan ladang, mandi di sungai, dan kemudian kembali lagi ke rumah setelah Lilian pulang dari sekolah.
Di suatu pagi, mereka berjalan berkeliling desa untuk memetik buah dari pohon mangga yang ada di bukit. Buah mangga itu sangat lezat rasanya, namun hanya di musim - musim tertentu saja mereka bisa menikmatinya. Saat ini lah masanya tiba untuk menikmati buah itu, dan pastinya mereka tidak ingin melewatkan kesempatan berharga ini. Ditambah lagi, buat itu menjadi rebutan hewan - hewan lainnya juga.
Ketika sedang asyik mengobrol dalam perjalanan, tiba - tiba mereka dikejutkan oleh suara seekor burung gagak. Kumo sampai melompat karena kaget sekaligus takut. Tentu saja, bagaimana ia tidak takut. Burung itu ukurannya lebih besar dari mereka, bisa saja mereka jadi mangsa. Namun, burung itu ternyata tidak mengincar para beruang kecil. Ia terus terbang menurun mengarah pada suatu ladang dimana kawanan kelinci tinggal. Terlihat para kelinci yang sedang mengurus ladangnya berlarian ketakutan.
Gagak itu mengacak – acak ladang dan berusaha merampas hasil ladang kelinci – kelinci itu. Shiro yang melihat itu segera bergegas lari kearah ladang bermaksud untuk membantu mengusir gagak dan menyelamatkan para kelinci. Tidak sempat berpikir, Kumo langsung mengikuti langkah Shiro ke arah ladang. Sesampainya disana, Shiro sigap mengambil tongkat kayu di dekat pohon dan mengarahkannya pada gagak. Sedangkan Kumo mengumpulkan batu – batuan kecil untuk dilemparkan pada gagak. Gagak itu pun akhirnya pergi, namun ia tampaknya tidak akan menyerah dengan mengatakan “Kali ini aku akan pergi, namun lihat saja sore nanti, aku pasti akan kembali lagi, pada kelinci. Kalian tunggu saja!”.
Suasana sedikit lebih tenang setelah kepergian gagak. Syukurnya seluruh kawanan kelinci itu selamat dan tidak ada yang terluka parah. Seekor kelinci menghampiri Shiro dan Kumo. Rupanya ia adalah tetua di kalangan para kelinci itu. Rio namanya. Ia mengucapkan terimakasih kepada Shiro dan Kumo atas bantuan yang telah diberikan. Para kelinci juga turut mengucapkan terimakasih atas jasa kedua beruang kecil itu.
Shiro bertanya pada Rio “Apakah gagak itu baru kali ini datang dan mengganggu kalian?”. Rio menjawab “Tidak, ini bukan pertama kalinya ia kemari. Dia sering datang kemari dan mengacaukan ladang yang telah kami urus dengan susah payah. Hasil ladang kami juga sering ia rampas, sehingga persediaan makanan kami seringkali tidak mencukupi”.
“Astaga, jahat sekali gagak itu. Kalian sudah bersusah payah menanam sayur dan buah – buahan di ladang ini tapi dia malah merampas dengan seenaknya saja. Lebih parah lagi, ia membuat ladang ini berantakan.” Kumo menimpali. Sayur dan buah yang seharusnya menjadi hak para kelinci malah diganggu oleh gagak.
Shiro tiba – tiba terpikirkan sebuah ide untuk para kelinci dan ladang ini supaya gagak tidak mengganggu mereka lagi. “Aku punya ide! Bagaimana kalau kita membuat sebuah patung orang – orangan sawah yang besar untuk membuat gagak takut mendekati ladang kalian ini?” ujar Shiro. Kumo, Rio, dan para kelinci pun mulai memikirkan ide Shiro itu.
Kumo ingin menolak ide Shiro itu, mereka harus segera pergi ke bukit untuk memetik buah mangga yang sangat dinantikan itu. “Hei, Shiro. Bukankah kita harus pergi ke bukit? Nanti buah yang lezat itu akan habis dimakan oleh hewan – hewan disana” bisik Kumo. Shiro tersenyum dan berkata pada Kumo “Ayolah Kumo, buah itu tidak lebih penting dari keselamatan para kelinci ini
‘kan? kita masih bisa makan buah lainnya yang ada di rumah Lilian. Namun, kalau kelinci – kelinci ini terus diganggu oleh gagak, mereka akan kesulitan mencari makanan bukan?”. Setelah merenungkan perkataan Shiro, Kumo pun akhirnya setuju.
Setelah menjelaskan rencananya pada Rio dan para kelinci lain, mereka pun segera bekerja sesuai dengan tugas yang telah dibagikan. Shiro memimpin kelompok kelinci yang bertugas untuk membuat patung orang – orangan sawah dengan menggunakan kayu, labu, sayur – sayuran, kain dan lain sebagainya. Sementara Kumo memimpin kelompok kelinci yang bertugas merangkai kayu dan tali untuk membuat patung besar itu bisa berdiri dengan baik. Mereka semua menjalankan pekerjaan bersama secara gotong – royong sesuai dengan nilai persatuan pada sila ke-3 Pancasila. Walaupun Shiro dan Kumo bukanlah bagian dari para kelinci itu, namun mereka tetap mau membantu para kelinci. Perbedaan tidak menjadi alasan untuk tidak membantu orang lain. Kumo juga telah mengerti bahwa ia tidak bisa selalu mementingkan dirinya sendiri disaat orang lain sedang membutuhkan bantuan.
Hari menjelang sore, akhirnya patung orang – orangan sawah yang besar itu pun selesai dan berdiri dengan tegap. Patung itu terlihat mengerikan, seperti manusia raksasa. Gagak pasti takut melihatnya dan tidak berani mendekati ladang para kelinci.
Sesuai ancaman gagak pagi tadi, ia sungguh kembali ke ladang para kelinci. Shiro dan Kumo bisa melihat dari kejauhan gagak sedang terbang mendekat ke arah ladang kelinci. Namun ketika gagak mulai melihat ada seorang berbadan tinggi dan besar berdiri di ladang dengan wajah yang mengerikan, ia menghentikan dirinya dan mengubah arah terbangnya menjauh dari ladang kelinci. “Hah?! Mengapa ada orang berbadan besar itu di ladang para kelinci? Ditambah lagi raut wajahnya sangat menakutkan. Aku bisa berada dalam bahaya jika mendekatinya. Ah! Aku tidak akan kembali lagi ke ladang para kelinci itu. Mengerikan sekali!”.
Melihat itu, para kelinci sangat senang. Mereka lega, akhirnya gagak tidak akan mengganggu ladang mereka lagi. Tidak lupa, mereka berterima kasih sebesar – besarnya pada Shiro dan Kumo atas bantuan besar yang mereka berikan. Sebelum Shiro dan Kumo pulang ke rumah, Rio mengundang mereka untuk makan bersama. Shiro dan Kumo baru ingat kalau mereka melewatkan makan siang hari ini, dan sekarang mereka pun lapar. Akhirnya Shiro dan Kumo menerima undangan Rio dan para kelinci untuk makan bersama.
Di meja, telah dihidangkan berbagai macam sayur – sayuran dan buah – buahan yang merupakan hasil panen dari ladang para kelinci. Namun, pandangan Kumo tertuju pada salah satu wadah buah di meja. Ada buah mangga disana, aroma buah mangga itu tidak seperti buah mangga biasanya. Kumo seperti mengenal aroma itu. Ia pun mencicipinya. Benar saja, itu adalah buah mangga yang berasal dari pohon yang ada di bukit. Yang pagi tadi ingin mereka petik. Rupanya, tahun ini para kelinci itu baru saja menanam pohon mangga yang jenisnya sama dengan yang ada di bukit. Kabar yang lebih menggembirakan lagi, karena tanah di ladang para kelinci sangat subur dan selalu dirawat dengan baik, pohon mangga itu bisa berbuah kapan saja, tidak perlu menunggu waktu yang sangat lama seperti pohon yang ada di bukit.
Rio dan para kelinci mempersilahkan Shiro dan Kumo untuk memetiknya kapanpun mereka mau, ini sekaligus sebagai bentuk rasa terimakasih mereka atas bantuan besar yang telah diberikan Shiro dan Kumo. Kumo tersenyum lebar, ia menyadari bahwa tidak ada salahnya bergotong – royong dengan orang lain, apalagi jika orang itu sangat memerlukan bantuannya.
Peristiwa yang terjadi hari ini, telah membuat Kumo belajar banyak hal yang sangat bermakna.
Talitha Nasywa Ayushinta - 25080694027