Bintang kecil dibawah pohon jati
Di sebuah sudut desa yang dikelilingi sawah hijau, tinggallah sebuah keluarga kecil yaitu Bapak Sulaiman dan Ibu Yanti, mereka berdua dikaruniai seorang anak laki laki bernama Arya Saputra. Arya Saputra berusia delapan tahun, ia memiliki disabilitas spektrum autisme yaitu gangguan pada perkembangan saraf otaknya dan ia memiliki keunikan dibanding anak yang lainnya, arya sangat sulit merangkai kata-kata nya sendiri saat berbicara kepada orang, dan tatapannya seringkali lari dari pandangan orang lain alias gagal fokus. Tetangga arya mengatakan bahwa arya adalah seorang anak teka teki yang sangat sulit ditebak. Bagi ibunya yaitu Yanti arya adalah seorang anak yang memiliki keajaiban sunyi.
Di Suatu siang hari, arya sangat senang bermain di halaman belakang rumahnya maka dari itu ia akan banyak menghabiskan waktu bermain di halaman belakang rumah dan menjadi tempat favorit nya, Tepatnya di bawah pohon jati tua yang menjulang tinggi,
Ia disana duduk hingga berjam-jam, memilah kerikil, lalu ia seringkali menggosokkan tangannya ke pohon jati yang memiliki tekstur kulit pohon kasar. Dan menatap cahaya matahari yang menembus celah daun. Arya jarang bermain dengan anak anak desa lainnya, Hiruk-pikuk dan suara bising membuat suasana di halaman belakang rumah menjadi terasa terlalu ramai.
Suatu sore hari, anak- anak desa bermain, Dito yang paling berisik di antara anak lainnya ketika sedang bermain bola di lapangan dekat rumah Arya. Tiba- tiba, bola mereka melambung tinggi dan tersangkut di dahan pohon jati yang berada di dalam halaman belakang rumah Arya, bola tersebut terkena atas kepala Arya.
“ Arya! Minggir!” Teriak dito tanpa basa- basi. “Ambilkan bolaku! Cepat!”. arya terkejut . Suara keras itu membuatnya menutup telinga erat- erat. Ia gemetar.Dito dan teman- temannya mulai tertawa, “Lihat, dia ketakutan, dasar aneh!”. lalu Ibu Yanti yang mendengar keributan bergegas keluar! Ia melihat Arya sudah meringkuk
dipangkunya, mencoba melindungi diri dari suara dan tatapannya. “Dito, jangan berteriak,.” Kata Ibu Yanti lembut tapi tegas. “Kalian bisa ambil sendiri”.
“Bagaimana caranya, Tante? Bolanya tinggi sekali,” saut dito, nadanya kini lebih tenang. Saat semua orang terdiam, mencari cara untuk mengambil bola, Arya perlahan bangkit. Matanya yang tadi redup karena rasa takut, Ia tidak bisa melihat bola, dan juga tidak melihat anak- anak yang menatapnya. Ia hanya melihat pada bola dan dahan pohon. Arya berjalan menuju dinding rumah yang terbuat dari susunan batu bata ekspos.ia menyentuh setiap batu bata secara perlahan-lahan, seolah-olah sambil menghitung. Kemudian ia mengambil tiga batu bata yang sedikit longgar di dekat tumpukan kayu yang ukurannya persis sama dan rata. Anak-anak desa yang lain kebingungan. “Apa yang dia lakukan?” bisik dito kepada anak desa lainnya. Arya meletakkan dua batu bata di tanah, berjarak sekitar dua meter. Lalu ia meletakkan batu bata ketiga secara melintang, membentuk seperti tumpukan kaki. Ia memanjat tumpuan itu, dan kini tingginya bertambah. Lalu hal yang lebih menakjubkan terjadi. Dengan ketenangan yang luar biasa, Arya memulai memanjat pohon ia tidak memanjat seperti anak pada umumnya, ia memanjat dengan posisi yang mengejutkan ia mencari celah dahan yang paling kuat seolah dia telah memetakan jalur memanjat itu berkali-kali dalam benaknya. Dito dan teman-temannya terdiam, Arya tidak berpegangan pada daun atau ranting yang rapuh, ia memilih hanya pada titik-titik tumpuan yang bisa menahan beban. Dalam waktu kurang dari satu menit, Arya telah mencapai ketinggian bola. Dengan gerakan hati-hati ia mengambil bola itu dan melemparkannya ke arah dito yang berada dibawah pohon. “Tangkap” teriak Yanti yang juga takjub melihat kemampuan anaknya. Dito menangkap bola itu ketika Arya turun kembali ke tanah, semua anak desa menghampirinya bukan dengan ejekan tetapi dengan kekaguman “Arya.. bagaimana kamu tahu cara memanjat pohon seperti itu?”. Tanya dito dengan suaranya yang pelan tetapi penuh hormat. Arya tidak menjawab ia hanya menatap dito, pandangannya tidak langsung ke mata tetapi ke arah pola jantannya di baju dito. Kemudian ia tersenyum tipis, senyuman itu menjadi langka dan berharga. Ia menunjukkan kesalahan pohon lalu susunan batu bata di dinding. Yanti
maju dan menjelaskan, “arya melihat dunia dalam pola dan sistem. Dia sudah hafal
tekstur, kekuatan, dan jalur pohon ini. Dia bisa melihatnya sebagai teka-teki yang harus dipecahkan”. Dito menunduk malu “maafkan aku, Arya. aku tidak tahu”. Sejak hari itu, Arya tidak lagi hanya dikenal sebagai anak aneh, ia dikenal sebagai “si pemanjat pohon” yang tahu setiap rahasia dahan jati tua itu. Anak-anak desa tidak lagi menjauhinya mereka mulai meminta Arya untuk membantu memecahkan pola lain mencari kelereng yang hilang di sela-sela rerumputan atau menyusun balok kayu hingga menjadi menara tertinggi. Arya mungkin kesulitan dalam memahami bahasa emosi, tapi ia adalah seorang ahli dalam bahasa logika dan pola. Dibawah pohon jati yang teduh, Arya duduk dengan kucing oren dipangkunya ia bukan lagi sekadar anak yang berbeda, melainkan sebuah ‘bintang kecil’ yang bersinar dalam cahayanya sendiri menunjukkan bahwa keajaiban sejati seringkali tersembunyi dalam cara pandang yang unik dan tak terduga.
Nadine Nur Salsabila-25010024007