Boleh Main Tapi Kata Ibu Harus Ngaji Dulu
Cuaca terik berubah menjadi sedikit mendung ketika matahari mulai tertutup awan hitam. Lambat laun matahari sepenuhnya tertutup oleh gelapnya awan. Mahda melepas sepatunya dengan tergesa, melempar kaos kakinya ke sembarang arah, berlari keluar rumah tanpa mengganti baju batik sekolahnya terlebih dahulu.
Hari ini ibu tidak di rumah. Ia sudah dititipkan pada tetangga depan rumah yang sekarang sepertinya sedang terlelap. Karena sejak Mahda pulang sekolah, tidak ada yang menyapa padahal biasanya sang tetangga, sebut saja Kak Isa selalu ikut bawel kalau melihat Mahda pulang sekolah apalagi kalau sambil lari.
Ia lari menuju lapangan yang berada di ujung gang. Sebenarnya belum hujan, tetapi anak-anak sudah banyak yang bersiap-siap menyambut turunnya hujan dengan seragam siswa sekolah. Kalau ibu tau, mungkin Mahda akan terlebih dahulu dipaksa ganti baju dengan baju yang semalam ia pakai. Kata ibu sih biar gak banyak cucian, apalagi musim hujan begini.
“Disini dulu aja deh. Nanti kalau hujannya turun beneran, kita cus ke rt sebelah!” Ucap salah satu teman Mahda, Ojan.
“Tapi nanti kalau udah jam 3, kita balik ya. Ngaji kan kita hari ini?” Tanya Mahda menanggapi ucapan temannya.
“Udah gede ah, udah SMP juga ngapain ngaji kayak anak kecil aja, hahaha.”
Mahda tentu tidak suka dengan jawaban temannya tersebut, apalagi yang lain juga ikut menertawakan. Baginya, kebiasaan yang baik itu tidak boleh dilewatkan. Meskipun kalau ngaji ia akan lebih sering bergaul dengan anak-anak kecil karena kebanyakan temannya akan berhenti ngaji ketika mulai masuk bangku SMP. Malas katanya.
Ibu dan ayah selalu menekankan bahwa hal-hal yang berurusan dengan sang pencipta itu harus selalu didahulukan. Awalnya Mahda merasa terpaksa dan tertekan akan hal itu, sampai akhirnya menjadi kebiasaan dan malah membuat ia tidak nyaman kalau tidak dilaksanakan.
Tak lama hujan pun turun dengan deras. Mahda pulang sebelum hujan benar-benar deras. Kalau ini bukan karena sudah jam 3, tapi karena Kak Isa datang sambil ngomel karena melihat salah
satu kaos kakinya terlempar sampai hampir ke tengah jalan. Belum lagi sampai disana ia melihat Mahda masih dengan seragam sekolahnya.
Karena malas untuk mendengar ceramah siang hari, ia memutuskan menurut saja saat diajak pulang. Lagipula kalau ia masih disana, bisa-bisa ia beneran ga jadi ngaji. Gimanapun juga kadang ia ikut terbawa arus oleh teman-temannya. Gapapa lah ga jadi main, gapapa terpaksa ngaji, yang penting ia tenang.
Evelyna Calluella_25080694001