Bus Terakhir Menuju Rumah
Hujan turun deras malam itu. Bus malam terakhir dari kota mulai melaju pelan melewati jalan pegunungan yang berliku-liku. Di dalam bus itu suasananya hening dan sunyi. Lampu dalam bus pun meredup dan sebagian penumpang mulai tertidur, ada juga yang masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Jeno duduk di kursi tengah sambil menatap jendela yang dipenuhi tetesan air hujan. Mahasiswa teknik mesin itu baru selesai ujian dan ingin pulang ke kampung halamannya menemui ayah bundanya. Di kursi paling depan ada Bu Irene, pedaagang sayur dari pasar yang sibuk menata kantong plastik berisi sayur dan nasi bungkus. Suaranya lumayan berisik sampai
sampai Jisung, pelajar SMA yang duduk di sampingnya, beberapa kali mendengus kesal sambil geleng-geleng kepala.
“Duh, Ibu berisik banget sih, mau tidur jadi nggak bisa nih,” gumam Jisung pelan. Bu Irene menoleh, “Lho, nanti kalau kamu laper, ibu nggak mau ngasih sayur lodeh ini lho ya,” katanya dengan senyum iseng.
Semuanya masih terasa biasa aja, sampai akhiirnya hujan turun makin lebat dan jalanan jadi licin banget. Bus yang dibawa Pak Suho pun mulai oleng, dan tiba-tiba… brakk! Bus berhenti mendadak, mesinnya mati, dan lampu di dalam bus ikutan padam semua.
“Waduh…” gumam Pak Suho pelan sambil mencoba menyalakan busnya kembali, tapi tetap gagal. “Kayaknya mesinnya kena air.” Ucap Pak Suho
Penumpang bus itu pun mulai panik.
“Gimana nih, Pak?”
“Udah malem banget lho, sinyal juga nggak ada!”
“Bahaya kalau kita lama-lama di sini.”
Jeno akhirnya berdiri dan menghampiri sopir. “Pak, mau saya bantu benerin mesinnya kah, kebetulan saya mahasiswa teknik mesin, mungkin saya bisa bantu cek bagian aki atau businya.”
Pak Suho langsung kelihatan lega. “Wah, kebetulan banget. Ayo, Nak.” Mereka berdua keluar dari bus di tengah hujan yang belum juga reda, dan cuma mengandalkan satu senter kecil. Jeno jongkok di depan mesin, tangannya mulai kotor terkena oli yang bercampur dnegan air. Sementara itu, dari dalam bus, Bu Irene melihat mereka menggigil dan langsung berdiri untuk membeeri tahu penumpang lain agar mau membantu.
“Eh, kalian jangan cuma duduk di sini dong, sana bantu! Nih, buat yang lagi laper aku bawa makanan. Lumayan buat ganjal perut.” ucap Bu Irene sambil menunjuk tas plastiknya. Ia mengeluarkan bungkusan nasi dan beberapa lauk dari tas plastiknya.
Giselle menenangkan bayinya sambil tersenyum kecil, “Terima kasih ya, Bu.” Jisung, yang dari tadi hanya duduk saja asyik dengan ponselnya, akhirnya berdiri juga. “Aku mau bantu deh. Aku pegangin senter biar kelihatan lebih jelas,” katanya sambil keluar dari bus. Ia memegangi senter dengan hati-hati, membantu Jeno dan Pak Suho mendapatkan cahaya yang cukup saat memperbaiki mesin. Beberapa penumpang lain juga ikut membantu memayungi mereka dengan jaket dan tas plastik besar.
Perlahan, suasana berubah. Dari yang tadinya hening tak ada obrolan di dalam bus, kini jadi ramai. Ada yang nyalain lampu darurat, ada yang jagain bayi, dan ada pula yang bantu benerin mesin busnya.
Setelah hampir dua jam, suara mesin akhirnya hidup lagi. Bremmmm!
Semua langsung bersorak. “Alhamdulillah!” seru Jisung sambil tertawa. Jeno tersenyum lebar sambil berkata, “Alhamdulillah, akhirnya bisa juga.”
Pak Suho menepuk bahunya. “Makasih banyak ya, Nak. Kalau nggak ada kamu, entah kapan ini nyala lagi.”
Bus tersebut kembali melaju pelan. Tapi kali ini suasananya beda. Di dalam, semua penumpang bisa ngobrol, bercanda, dan saling cerita tentang tempat tujuan mereka masing masing.
Jeno menatap ke luar jendela yang mulai diterangi oleh lampu jalan. Dalam hati dia merasa hangat karena sudah melewati jalan pegunungnan tadi. Di dalam bus yang awalnya cuma berisi orang-orang asing yang nggak saling bertegur sapa, bahkan cuek satu sama lain. Tapi karena kejadian kecil ini, akhirnya mereka bisa belajar tentang arti persatuan,
kebersamaan, dan rasa saling peduli.
Dari situlah Jeno menyadari kalau perbedaan latar belakang seseorang bukanlah alasan untuk saling menjauhi. Justru di saat susah, rasa persatuan bisa tumbuh dari hal kecil seperti kerja sama. Mungkin, di situlah makna sebenarnya dari sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, tentang kita yang mampu menghadapi tantangan apapun jika kita bersama-sama.
Evania Ayunanda (25080694111)