Cahaya dari Timur
Langit pagi tampak lembut di atas kota kecil itu. Udara masih dingin ketika Niki, anak berkulit hitam legam dengan rambut keriting tebal, melangkah masuk ke halaman sekolah barunya. Ia datang dari ujung timur Indonesia, dari tanah yang jauh, dari tempat di mana laut dan langit bertemu tanpa batas. Dengan seragam yang sedikit kebesaran dan sepatu yang mulai pudar warnanya, Niki berdiri di depan kelas sambil menunduk malu.
“Namaku Niki,” ucapnya lirih saat guru memperkenalkannya.
Beberapa teman menatap, sebagian berbisik pelan.
“Dia hitam banget kayak arang.”
“Hahahaha, rambutnya kayak kawat.”
Niki pura-pura tidak dengar. Tapi di dadanya, kata-kata itu terasa seperti batu kecil yang di-lem diam-diam. Hari-hari berikutnya tidak mudah. Saat jam istirahat, Niki selalu duduk sendirian di pojok taman, membuka bekal yang dibawanya dari rumah: nasi, ikan goreng, dan sambal khas Papua buatan ibunya. Anak-anak lain bermain bola, tertawa, berlarian. Ia hanya menatap dari jauh, ingin ikut, tapi tak berani. Ketika ia mencoba mendekat, seseorang berkata cepat,
“Udah penuh, Niki.”
Lalu tawa pun kembali terdengar, seolah tak ada yang terjadi. Malamnya, di rumah kontrakan kecil di pinggiran kota, Niki berbicara pada ayahnya.
“Pa, kenapa mereka nggak mau main sama aku?”
Ayahnya menatap dengan lembut. “Nak, kadang orang takut pada hal yang mereka belum kenal. Jangan benci mereka, ya. Buktikan saja kalau hatimu baik.”
Besoknya, Niki tetap datang ke sekolah dengan senyum tipis di wajahnya. Ia menyapa siapa pun yang ditemui, membantu guru memungut kertas, dan tidak lagi peduli pada tatapan orang. Sampai suatu hari, hujan deras mengguyur sekolah. Lapangan berubah jadi kubangan besar. Saat anak-anak bermain bola, bola itu terlempar jauh ke selokan yang airnya mengalir deras. Semua berhenti, bingung harus bagaimana.
“Udahlah, biarin aja!” kata salah satu.
Namun Niki berlari tanpa pikir panjang. Ia melompat ke parit, air memercik ke mana-mana. Dengan tangannya yang kuat, ia menggapai bola itu dan kembali naik dengan tubuh basah kuyup. Anak-anak menatapnya takjub.
“Niki, kamu keren banget!” seru Jeno, yang biasanya paling cerewet.
Niki tertawa kecil. “Nggak keren. Cuma sayang aja, kalau bolanya kebawa arus kalian nggak bisa main lagi.”
Sejak kejadian itu, sesuatu berubah. Jeno mulai sering duduk di sebelah Niki. Jennie, anak yang dulu cuek, tiba-tiba membantu Niki menghapus papan tulis. Mereka mulai ngobrol, tertawa, bahkan penasaran dengan kampung asal Niki. Suatu hari di pelajaran seni, Niki membawa tifa, alat musik dari tanah kelahirannya. Ia menepuknya perlahan, lalu bernyanyi dengan suara yang dalam dan hangat. Lagu itu menceritakan tentang laut, persaudaraan, dan langit yang menaungi semua orang. Ketika lagu berakhir, kelas hening sejenak. Lalu tepuk tangan bergema di seluruh ruangan.
“Lagu kamu bagus banget,” kata Jennie dengan mata berbinar.
Niki tersenyum malu. “Itu lagu dari kampungku. Tentang kita semua, meski beda, tapi tetap saudara.”
Hari-hari pun terasa berbeda. Tak ada lagi yang menjauh. Mereka kini bermain bola bersama setiap sore, makan di kantin sambil bercanda, dan belajar kelompok menjelang ujian. Jeno sering berkata,
“Kalau Niki nggak pindah ke sini, mungkin kita nggak bakal tahu gimana rasanya punya teman dari jauh tapi deket di hati.”
Suatu sore, ketika matahari mulai turun perlahan dan langit berubah jingga, mereka duduk bertiga di tepi lapangan.
“Nikk,” ujar Jeno, “ kulit kamu hitam kayak langit waktu sore, tapi aku suka. Kalau langit Cuma biru terus, pasti ngebosenin.”
Niki tertawa pelan. “Iya, Jen. Warna yang beda justru bikin dunia ini indah.”
Mereka pun terdiam. Angin sore berhembus lembut, membawa rasa damai yang aneh, seperti pelukan dari langit. Tak ada lagi yang hitam, putih, kaya, miskin, kota, atau desa. Yang tersisa hanya tawa, kebersamaan, dan rasa yang sama: mereka satu, di bawah langit yang sama.
Zahra Pranda Putri - 25080694184