Cahaya yang Tak Pernah Padam
Aku masih ingat dengan jelas hari pertama masuk SMA: riuh kelas baru, suara kursi diseret, dan bau spidol dari papan tulis yang seolah menandai awal sebuah perjalanan panjang. Di sudut depan dekat jendela, ada seorang siswa yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tongkat putih terlipat di samping tasnya. Ia duduk tenang, sesekali memiringkan kepala seakan memastikan arah datangnya suara.
Namanya Radit, siswa dengan low vision kemampuan melihat yang terbatas, tapi bukan tanpa cahaya. Guru BK memperkenalkan bahwa sekolah kami mulai menerapkan layanan inklusif, walau fasilitasnya masih jauh dari sempurna. Karena itu, beberapa siswa diminta mendampingi teman yang membutuhkan bantuan tambahan.
Awal yang Canggung
Saat istirahat pertama, aku memberanikan diri menghampiri Radit.
“Dit, kamu mau ke kantin? Aku bisa jalan bareng kalau kamu mau,” tanyaku hati-hati.
Ia menoleh pelan, matanya menyipit seakan memastikan posisi tubuhku. “Boleh, Bharat. Tapi… nggak usah digandeng ya. Aku cuma butuh kamu jalan di samping.”
Dari caranya bicara, aku langsung mengerti satu hal: Radit ingin dibantu, tapi tidak ingin dikasihani.
Di perjalanan ke kantin, teman-temanku, Rino dan Adit, terlihat memperhatikan. Mereka Awalnya kaku, seperti takut salah berperilaku. Tapi Radit justru mencairkan suasana.
“Kalau aku nabrak meja, tolong jangan diketawain keras-keras ya,” katanya sambil terkekeh.
Rino menimpali, “Tenang, Dit. Kalau kamu nabrak meja, berarti mejanya yang salah naruh diri.”
Kami semua tertawa tawa pertama yang terasa tidak dibuat-buat.
Hari-Hari yang Mengajar Tanpa Menggurui
Beberapa minggu berjalan, aku mulai memahami ritme Radit. Ia selalu datang lebih awal untuk menyesuaikan pencahayaan ruangan, dan aku sering duduk di sampingnya membantu membawakan materi di papan tulis.
Radit bukan tipe yang meminta bantuan tanpa usaha. Ia membawa aplikasi pembesar huruf, lampu kecil portabel, bahkan catatan digital yang selalu ia sinkronkan. Ada rasa kagum yang muncul setiap kali melihatnya beradaptasi.
Rino, meski terkenal blak-blakan, justru paling teliti ketika menjelaskan grafik atau diagram untuk Radit. Sementara Adit yang biasanya pendiam secara spontan terbiasa menunggu Radit saat perpindahan kelas. Ia tidak pernah mengatakan itu sebagai “tugas”, hanya refleks empati yang tumbuh dengan sendirinya.
Lingkungan SMA kami bukan yang paling inklusif. Kadang ada komentar usil, kadang ada tatapan penasaran. Tapi Radit selalu menyikapinya dengan kepala tegak, seolah ia sudah sangat terbiasa.
“Aku nggak butuh semua orang ngerti,” ujar Radit suatu hari. “Aku cuma butuh beberapa orang yang benar-benar mau lihat aku… bukan kondisiku.”
Kalimat itu masih terpatri sampai sekarang.
Ketika Tantangan Menyentuh Batas Emosi
Sore itu, selepas rapat OSIS, langit memerah kelelahan. Aku dan Radit berjalan pelanmenujugerbang. Ia tampak tidak seperti biasanya wajahnya sedikit muram.
“Bharat,” katanya tiba-tiba, “kamu pernah ngerasa takut kelihatan lemah?” Aku diam sejenak. “Semua orang pernah, Dit. Termasuk aku.”
Radit menarik napas panjang. “Kadang aku takut orang-orang cuma melihat apa yang nggak bisa aku lakukan. Bukan yang bisa.”
Aku berhenti berjalan. “Dit… kamu itu bukan ‘beban’ yang kami pikul. Kamu teman kami. Kalau kami bantu, itu karena kami peduli. Bukan karena kamu tidak mampu.”
Ia tersenyum kecil tipis, tapi tulus. “Terima kasih. Kadang aku cuma butuh denger itu dari orang yang aku percaya.”
Percakapan itu membuatku sadar: inklusi bukan sekadar menyediakan akses. Inklusi adalah ketika seseorang merasa aman menjadi dirinya sendiri.
Membuktikan Bahwa Kesempatan Itu Milik Semua Orang
Di semester kedua, kelas kami mendapat tugas proyek kelompok. Presentasinya mengharuskan penggunaan grafik dan data yang detail.
Beberapa teman sempat meragukan kemampuan Radit untuk ikut terlibat. Tapi kami—aku, Rino, dan Adit memastikan ia punya ruang.
Kami mendesain presentasi dengan font besar, kontras tinggi, dan menjelaskan grafik melalui audio deskripsi yang kami rekam sendiri. Radit pun mengambil bagian sebagai penjelas konsep bukan karena kasihan, tapi karena ia memang paham materi itu.
Saat hari presentasi, suara Radit terdengar mantap. Meski matanya tak menatap grafik, ia mengingat data melalui catatan digital yang dibuatnya sendiri.
Setelah selesai, beberapa teman lain terdiam, lalu tepuk tangan mengisi ruangan.
Hari itu, Radit bukan siswa “berkebutuhan khusus”. Ia hanya siswa yang diberi kesempatan yang sama.
Tiga Tahun yang Mengubah Cara Pandang
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa disadari, kami sudah berada di tahun terakhir SMA.
Radit lebih mandiri dari sebelumnya. Adit menjadi sahabat yang paling memahami ritme langkahnya. Rino tetap bawel, tapi justru itu yang membuat kelompok kami terasa utuh. Sementara aku Bharat merasakan perubahan cara berpikir yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
Pada hari kelulusan, Radit berdiri bersama kami dengan medali prestasi lomba membaca cepat menggunakan screen reader. Saat sesi foto, ia menoleh ke arahku.
“Bharat,” katanya pelan, “kalau bukan karena kalian, perjalanan tiga tahun ini mungkin terasa lebih gelap.”
Aku menggeleng sambil tersenyum. “Justru karena kamu, kami belajar banyak hal yang nggak ada di buku pelajaran.”
Di koridor utara—tempat pertama kali aku melihatnya sendirian tiga tahun lalu—aku menyadari satu hal: cahaya tidak harus datang dari mata. Kadang, cahaya datang dari cara seseorang bertahan, berjuang, dan tetap berjalan meski jalannya tidak selalu terang.
Dan Radit… adalah salah satu cahaya itu.
Bharat Shakti Awan - 25010024044