Cermin yang Pecah, Gambar yang Utuh
Di sebuah kota kecil bernama Harapan, hiduplah Rina, gadis berusia 15 tahun yang lahir tanpa kedua tangan. Ia sering disebut "anak cacat" oleh tetangga-tetangga yang tak peka, meskipun Rina selalu berusaha membuktikan bahwa ia bisa melakukan apa saja dengan kakinya dan semangatnya yang tak pernah padam. Keluarganya, yang berasal dari keluarga miskin di pinggiran kota, membuat hidupnya semakin sulit.
Ayahnya, seorang buruh pabrik yang kelelahan, sering marah-marah karena malu dengan kondisi Rina. "Kenapa kau harus seperti ini? Kau bikin keluarga kita jadi bahan tertawaan!" bentak ayahnya suatu malam, saat Rina pulang dari sekolah dengan laporan nilai yang bagus. Ibunya, yang bekerja sebagai penjahit, diam saja, tapi matanya selalu berkaca
kaca. Saudara laki-lakinya, Andi, yang lebih tua dua tahun, malah menghindari Rina, takut teman-temannya tahu bahwa adiknya "berbeda". Konflik keluarga ini seperti cermin yang pecah, memantulkan rasa tidak menerima diri sendiri yang membuat Rina sering menangis di kamarnya.
Namun, di sekolah, Rina menemukan cahaya harapan. Ia bergabung dalam klub seni, tempat ia belajar melukis dengan mulut dan kakinya. Di sana, ia bertemu dengan teman-teman dari latar belakang yang beragam. Ada Mira, gadis kaya dari keluarga pengusaha yang selalu memakai pakaian mahal, tapi hatinya lembut. Mira sering membela Rina saat ada siswa lain yang mengejek. "Kau lebih berbakat daripada mereka semua," kata Mira sambil tersenyum. Lalu ada Jamal, anak imigran dari Timur Tengah yang pindah ke Indonesia karena ayahnya bekerja di pabrik.
Jamal sering diejek karena aksennya dan kulitnya yang lebih gelap, tapi ia selalu bilang, "Perbedaan itu seperti warna cat; makin banyak, makin indah lukisannya." Dan terakhir, ada Siti, gadis dari desa yang status sosialnya rendah, sering dilecehkan karena pakaiannya yang sederhana dan bau tanah yang melekat. Mereka berempat membentuk kelompok kecil, saling mendukung dalam proyek seni: membuat mural besar tentang keberagaman.
Konflik pertemanan muncul ketika proyek mereka dipilih untuk dipamerkan di festival sekolah. Namun, kritik sosial yang terjadi saat ini membuat segalanya rumit. Di era media sosial, ejekan terhadap perbedaan fisik, status sosial, dan latar belakang etnis semakin marak. Seorang siswa populer, Reza, yang berasal dari keluarga kaya, memposting video di TikTok yang mengejek mural mereka. "Lihat nih, anak cacat, orang miskin, dan imigran bikin gambar jelek. Indonesia untuk orang asli saja!" komentarnya viral, mendapat ribuan like. Rina merasa hatinya hancur. Ia pulang ke rumah dengan air mata, dan ayahnya malah menyalahkan, "Kau bikin malu lagi! Kenapa kau harus ikut-ikut?" Ibunya mencoba menenangkan, tapi Andi malah bilang, "Lebih baik ibu diam saja, biar tak ada yang tahu.”.
Klimaks terjadi saat festival dimulai. Kelompok Rina berdiri di depan mural mereka, yang menggambarkan wajah-wajah beragam saling bergandengan, simbol keutuhan di tengah perbedaan. Penonton berbisik-bisik, dan Reza datang dengan teman-temannya, siap mengejek lagi. Tapi Mira maju ke depan, "Kalian pikir perbedaan itu lemah? Lihat ini! Rina melukis dengan kakinya, Jamal bawa cerita dari negerinya, Siti tambah warna dari desanya. Kita semua bagian dari satu gambar besar." Jamal menambahkan, "Di dunia ini, orang seperti Reza yang tak menerima perbedaan justru yang pecah. Kita yang utuh." Siti, dengan suara gemetar, berkata, "Aku miskin, tapi aku punya hati yang kaya. Jangan pandang status, pandang manusia."
Rina, yang awalnya diam, akhirnya berbicara. "Ayahku bilang aku cacat, tapi kalian buat aku merasa utuh. Kritik sosial ini, di media dan sekolah, bikin kita saling benci. Tapi hari ini, kita buktikan bahwa menerima perbedaan fisik, status, dan latar belakang bisa bikin dunia lebih indah." Penonton mulai bertepuk tangan, dan Reza, yang awalnya sombong, terdiam. Bahkan ayah Rina, yang datang karena dipaksa ibunya, melihat mural itu dan air matanya menetes. "Maaf, Nak. Ayah salah," katanya pelan.
Di akhir cerita, keluarga Rina mulai berubah. Ayahnya belajar menerima, Andi mulai mendukung adiknya, dan pertemanan mereka semakin kuat. Kritik sosial tak hilang sepenuhnya, tapi mural itu menjadi simbol bahwa cermin yang pecah bisa dirangkai kembali menjadi gambar yang utuh. Rina belajar bahwa inklusivitas bukan hanya tentang diterima orang lain, tapi juga menerima diri sendiri di tengah dunia yang penuh perbedaan.
Mohammad Rehan Aysel Fauzi - 25010024004