Cintai Produk Lokal
Taylor Swift merupakan selebgram dan dikenal di kampusnya sebagai gadis yang selalu tampil sempurna. Dari ujung kepala sampai kaki, semua barang yang ia kenakan berlabel merek luar negeri. Suatu hari di kantin kampus, Taylor duduk bersama tiga temannya yaitu Zayn Malik, Justin Bieber, dan Ariana Grande.
“Taylor, kamu tahu nggak? Ada brand lokal Mantap Jiwa yang baru ngeluarin tas handmade dari kulit sapi asli Garut. Bagus banget loh” kata Ariana dengan semangat.
Taylor hanya melirik sambil menyeruput es teh jumbonya. “Ah, produk lokal ya? Nggak dulu deh Ar. Aku takut kualitasnya jelek dan nggak tahan lama.”
Zayn menatap Taylor sambil tersenyum tipis. “Emangnya kamu pernah coba Tay?”
Taylor menggeleng. “Nggak pernah sih, tapi kan udah kelihatan dari harganya. Kalau murah ya pasti murahan.”
Justin menghela napas. “Padahal kan ya Tay, harga tuh bukan selalu ukuran dari sebuah kualitas barang. Kadang yang murah bisa lebih bagus.”
“Bodoamat, barang luar tuh jelas lebih bagus dan yang pasti lebih keren karena bisa dipamerin.” Ucap Taylor.
Seminggu kemudian, kampus mereka mengadakan acara pameran ‘Cinta Produk Lokal’. Taylor pun datang karena semua mahasiswa diwajibkan hadir. Begitu masuk aula, Taylor disambut dengan pemandangan produk-produk buatan lokal yang telah dipajang. Di salah
satu stan, seorang ibu paruh baya sedang menata sebuah tas. Taylor berhenti sejenak memperhatikan tas tersebut.
“Ibu, ini tas beneran buatan sendiri?” tanyanya ragu.
Sang ibu tersenyum hangat. “Iya, nak. Semua hasil tangan warga kampung saya. Setiap tas ini kami buat dengan cinta, supaya yang pakai bisa bangga.”
Di sebelahnya, Ariana menepuk bahu Taylor. “Tuh kan, cantik ya tas nya? Nggak semua yang nggak terkenal itu jelek.”
Taylor hanya tersenyum kecil. Ia sempat mengamati detail jahitan tas itu, terasa kuat dan rapi. Apalagi motif dari tas tersebut yang membuatnya terlihat unik. Dalam hati, Taylor mulai berpikir bahwa mungkin selama ini ia terlalu meremehkan produk lokal.
Besoknya Taylor datang ke kampus dengan tas kulit cokelat baru. Ariana langsung menyadarinya.
“Eh, itu tas lokal waktu pameran kemarin, kan?” tanyanya.
Taylor tersipu. “Iya, hehe. Awalnya aku cuma pengin coba. Tapi ternyata kuat banget dan desainnya juga cantik. Nggak nyangka deh buatan lokal bisa sebagus ini.”
Justin tertawa kecil. “Nah, akhirnya sadar juga. Sekarang kamu udah bantu ekonomi negeri sendiri Tay.”
Taylor mengangguk pelan. “Aku dulu pikir kalau pakai barang impor itu bikin aku kelihatan keren. Tapi ternyata, keren yang sebenarnya itu waktu aku bisa bangga sama karya bangsaku sendiri.”
Sejak hari itu, Taylor mulai rajin mempromosikan produk lokal di media sosialnya. Ia sering membuat video pendek tentang UMKM yang ia kunjungi. Lambat laun, banyak orang dari pengikut media sosialnya ikut tertarik membeli produk-produk lokal tersebut.
Nilai Pancasila yang terdapat pada kisah ini yaitu Sila Ketiga: Persatuan Indonesia. Hal ini tampak dari semangat Taylor dan teman-temannya yang mendukung serta menggunakan produk buatan dalam negeri. Dengan mencintai dan mempromosikan karya lokal, mereka menunjukkan rasa bangga terhadap bangsa sendiri dan ikut mempererat persatuan di antara masyarakat Indonesia. Sikap tersebut mencerminkan bahwa persatuan tidak hanya diwujudkan lewat simbol atau upacara, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Cerita ini mengajarkan pentingnya menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, menghargai hasil karya bangsa sendiri, serta memperkuat semangat persatuan melalui dukungan terhadap produk lokal.
Khuzaima Inaya Varadhina - 25080694163