Dari Terasing Menjadi Bermakna
Tahun ajaran baru disebuah sekolah menengah atas disuatu kota membawa cerita baru. Seorang siswi bernama Rita dulunya adalah siswa dikelas X IPA 2 yang merupakan kelas Tahfidz dan kini Ia pindah ke kelas XI IPA 3 Billingual. Alasan mengapa Rita pindah kelas dikarenakan deprogram kelas sebelumnya yang merupakan kelas Tahfidz mengharuskan siswanya untuk tinggal di asrama yang penuh dengan aturan Ritambah dengan tuntutan setoran hafalan tiap harinya. Kehidupan asrama yang penuh aturan ini ternyata membuat Rita sering merasa tertekan dan bahkan membuatnya sering sakit. Hal ini ia sampaikan kepada guru BK dan Ia pun meminta rekomedasi terbaik yang bisa diambil selanjutnya. Hingga akhirnya guru BK merekomendasikan kepada Rita untuk pindah kekelas XI IPA 3 Ritahun ajaran baru ini. Setelah melalui berbagai pertimbangan Rita dan orang tuanya menyetujui saran dari guru BK tersebut.
Namun ternyata bergabung di kelas XI IPA 3 tidak semudah yang Rita harapkan. Saat hari pertama ia mulai masuk kelas Rita disuguhkan dengan tatapan dingin teman-teman kelas barunya dan bahkan Rita merasa mereka menjaga jarak dengannya. Mereka sering kali berbicara dengan berbisik bisak dengan tatapan yang kurang mengenakkan kepada Rita dan seringkali tertawa pelan seolah mengejeknya. Rita tak gentar ia berusaha untuk membuka percakapan yang pada akhrinya hanya dijawab singkat bahkan diabaikan oleh teman
temannya. Rasa canggung dan tidak dianggap ini membuar Rita memilih duduk sendiri dibangku pojok paling belakang seperti orang yang terasing yang tidak diterima keberadaannya. Rita pun mulai bertanya tanya, “Apa aku salah karena pindah kelas? kenapa mereka seperti tidak suka ada aku dikelas ini?”
Namun, ada salah satu siswa kelas XI IPA 3 yang berbeda. Siswa itu bernama Zara, disaat teman-temannya menjauhi Rita dan menatapnya dengan tatapan sisis mereka tidak dengan Zara. Zara justru diam-diam memperhatikan Rita dari jauh, hingga suatu hari Ia memberanikan diri mendekat dan menyapa Rita yang sedang termenung dibangkunya. “Hai Rita, apa aku boleh duduk disini?” tanya Zara dengan senyum hangatnya hingga matanya pun ikut tersenyum. Rita hanya menjawab pertanyaan Zara dengan anggukan kepala dan senyuman, ia terkejut karena akhirnya ada orang dikelas itu yang mau mengajknya berbicara terlebih dulu.
Mulai hari itu Rita dan Zara menjadi semakin dekat. Mereka sering mengobrol dan tertawa bersamadisela-sela jam pelajaran atau ketika tidak ada guru yang mengajar dikelas. Mereka juga sering menghabiskan waktu Bersama untuk makan dikantin ketika jam istirahat. Rita merasa sangat senang karena setidaknya sekarang dia memiliki seorang teman seperti Zara
yang ternyata sangat ramah dan mudah bergaul sehingga tidak butuh waktu lama untuk mereka menjadi akrab. Rita pun akhirnya menceritakan alasannya pindah kelas dan bagaiaman ia merasa diasingkan dan tidak diterima dikelas itu kepada Zara. Zara yang mendengar cerita Rita hanya bisa menatap Rita dengan senyum khasnya dan ia berkata “sabar ya Rita, aku tau apa yang kamu alami itu pasti membuatmu lelah dan sedih, mungkin jika teman-teman yang lain tau ceritamu mereka pasti akan paham, maafkan teman-temanku ya mereka memang kadang sulit menerima orang baru apalagi yang menurut mereka berbeda dengan mereka”. “Iya Zara
tidak papa aku paham kok, mungkin memang seharusnya aku yang lebih berusaha agar bisa dekat dengan mereka.” Ucap Rita yang langsung disambut dengan usapan hangat Zara dibahunya.
Hingga suatu hari guru pelajaran Fisika memberikan tugas kelompok kekelasnya. Kebetulan Rita dan Zara berada dalam satu kelompok dengan dua teman lain. Ketika mereka berkumpul dan melakukan pembagian tugas salah satu drai mereka tiba-tiba berkata, “Apaan deh kita satu kelompok sama anak pindahan ini, percuma palin nanti tugasnya juga kita yang ngerjain semua, emangnya dia bisa kan selama ini kerjaanya hafalan terus.” Zara yang mendengar perkataan temannya itu langsung menatap tajam temannya dan berkata, “Hei sebenarnya apasih salah Rita sama kalian sampai kalian se gak suka itu sama dia, apa cuma karena dia anak pindahan kelas dan kalian menganggap dia berbeda? Dia juga teman kita, dia sama seperti kita disinii untuk belajar, apa yang salah dengan pindah kelas? kalian gak tau kan alasan Rita pindah kelas, seharusnya kalian menghargai kehadiran Rita dan mendengarkan ceritanya, kita seharusnya saling merangkul bukan malah menjauhi Rita.” Ucapan Zara berhasil membuat teman-temannya tertampar. Mereka mulai merasa tidak enak hati dan menyadari bahwa sikap mereka selama ini sudah melukai perasan Rita. Sejak hari itu, perlahan tapi pasti sikap siswa kelas XI IPA 3 muali berubah. Mereka mulai menerima Rita, mereka menyapa Rita, mengajaknya berbicara, bahkan meminta maaf atas sikap mereka sebelumnya.
Rita tidak menyimpan dendam. Ia justru bersyukur karena akhirnya bisa diterima. Hubungannya dengan teman-temannya pun semakin baik. Suasana kelaspun kini menjadi lebih hangat dan bersahabat. Bahkan, wali kelas mereka yang menyadari perubahan positif siswanya memuji kelas XI IPA 3 yang kini semakin kompak. Kini Rita tidak lagi duduk sendirian di pojok kelas, ada Zara yang sekarang menjadi teman sebangkunya dan teman-teman lainnya yang selalu menyapanya dengan hangat. Rita sekarang tak pernah merasa sendiri dan merasa semakin nyaman berada dikelasnya. Dari pengalam ini Rita dan teman-temannya belajar bahwa persahapatan, empati, dan saling menghargai harus selalu diterapkan dalam kehidupan sehari hari.
Az-Zahra Aulia Intan Firdaus - 25080694158