Delapan Kepala, Satu Ide
Kampus jam 8 malam itu udah sepi banget. Tapi di ruang G2.02.01, cahaya lampu masih nyala. Isinya delapan orang mahasiswa yang udah kelihatan capek banget tapi belum bisa pulang. mereka adalah wooyoung, san, mingi, yunho, carmen, youngji, haewon, dan shuhua.
Mereka lagi ngerjain proyek UTS mata kuliah Kewirausahaan, tugasnya mereka diminta untuk berjualan. Masalahnya, udah dua minggu diskusi tapi nggak ada hasil, sedangkan kelompok lain udah pada mulai berjualan.
Selama dua minggu ini mereka nggak fokus diskusi, ada yang sibuk kepanitiaan, sibuk organisasi, bahkan sibuk pacaran. Jadi selama dua minggu ini, mereka selalu diskusi lewat chat dan akhirnya mereka nggak dapet apa-apa.
Suasana di ruang kelas mereka mulai menegangkan. “Serius ya, kita gak bakal kelar kalau semua nunggu disuruh,” kata san sambil menatap laptopnya yang udah lemot dari tadi. “Aku udah bilang kemarin di chat, konsep booth kita tuh harus realistis,” balas youngji yang duduk di pojokan. “Kalian maunya heboh tapi gak mikir modal darimana.”
“Lah, ide aku yang ‘kopi keliling’ itu realistis banget, ji,” bela carmen. “Realistis di mana, men? Kita aja gak punya mobil, gimana mau keliling?”
Satu ruangan langsung ribut. Semua ngomong barengan, dan suara mereka mulai meninggi. yunho, yang dari tadi diam, akhirnya menepuk meja pelan. “Udah, bentar. Kita malah debat terus. kalo kayak gini terus, kapan kita ketemu titik terangnya??.” kelas yang awalnya ramai dengan perdebatan, sontak sunyi setelah yunho bersabda.
Shuhua menarik napas panjang dan menatap satu satu temannya yang sekarang terdiam “Oke. Gini aja, setiap anak wajib tulis satu ide di kertas, kita kumpulin, terus kita bahas satu-satu. Gak usah saling bantah dulu.”
Mereka berpikir sebentar lalu akhirnya setuju dengan ide shuhua.
Lembar demi lembar ide dikumpulkan di tengah meja. Ada yang nulis “kopi keliling”, “risol mayo”, sampai “gelang pernak pernik.”
Setelah 8 kertas terkumpul di tengah tengah mereka, shuhua mulai membacakannya satu persatu. Diskusi mulai berjalan pelan-pelan. Suasana gak sepanas dan se chaos tadi. Satu-satu mulai mikir bareng, nambahin ide, ngoreksi yang kurang.
Tiba-tiba youngji nyeletuk, “Eh, kalau kita gabungin dua ide aja gimana? misalnya kita jualan risol mayo tapi kita juga jualan kopi!! atau es yang lain juga terserah deh” Yang lain langsung menoleh. “Wah… boleh juga sih.”
Dari situ obrolan berubah total. Mereka mulai saling bantu, ngerancang biaya, bikin desain, bahkan nentuin shift jaga booth.
Tanpa sadar, waktu udah hampir tengah malam.
Begitu semua selesai, mereka cuma bisa tertawa kecil. Capek banget, tapi lega. “Lihat kan? kalo dari kemarin kemarin kita diskusi lebih dalam kayak barusan, kayaknya kita udah naik umroh deh sekarang” kata haewon. yang lain sontak tertawa mendengar ke asbun an haewon.
“Iya, ternyata kuncinya cuma diskusi langsung dan mau dengerin orang lain dulu,” jawab wooyoung sambil ngelap keringat.
Mereka pun membereskan laptop, matiin lampu, lalu keluar bareng-bareng dari ruangan itu. Malam itu kampus udah gelap, tapi di antara langkah kaki mereka, ada rasa tenang karena mereka akhirnya sudah menemukan titik terang dan bisa segera menyusul teman teman dari kelompok lain. Namun, ada sepasang manusia diantara mereka yang saling bertatapan dan tersenyum lega. Setelah mereka semua berpisah, yunho berjalan menghampiri shuhua sembari berkata “Makasih ya tadi udah bantu aku buat kondusifin anak anak”.
Shuhua hanya tersenyum lembut sembari mengusap lengan yunho. “nggak papa, kita kan teman! harus saling bantu”. ucap shuhua dengan penuh semangat. Yunho yang mendengar hal itu hanya tersenyum getir dan menawarkan tumpangan pulang. Mereka pun akhirnya meninggalkan area kampus.
Faizah Zahia Nashita - 25080694051