Di Antara Dua Langit.
Rara, seorang gadis yang sekarang telah menginjak dunia perkuliahan, tak menyangka bahwa dirinya akan terjebak di antara dua hati sahabat masa kecilnya. Zayne dan Caleb, kedua orang yang selalu menemani dimanapun Rara melangkah, kini mereka ada dengan sedikit cerita yang berbeda. Zayne dengan sifat tenangnya bak air yang meneduhkan, sedangkan Caleb dengan keceriaannya bak angin yang tak pernah berhenti berlarian. Dua sisi yang bertolak belakang, namun keduanya selalu mewarnai hari-hari Rara.
Mereka tumbuh bersama, berbagi gelak tawa, rahasia, dan memori kecil yang sederhana. Namun, siapa sangka, seiring waktu berjalan, rasa yang tumbuh diantara mereka tidak lagi rasa yang sama seperti dahulu kala. Rara tak pernah bermaksud untuk membuat dua hati jatuh di tempat yang sama, yaitu dirinya. Kenyataannya, Rara pun tak punya kuasa untuk mengendalikan perasaan mereka.
“I’ve fallen for you, ra.” kata-kata yang tak pernah Rara bayangkan keluar dari mulut kedua sahabatnya dalam waktu yang hampir bersamaan. Bingung, panik, dan rasa bersalah yang dirasakan Rara setelah mendengar ungkapan perasaaan kedua sahabatnya itu. Ia sayang keduanya, tapi bukan dalam arti yang sama. Zayne dan Caleb adalah rumah singgah bagi Rara, ia tak bisa memilih keduanya dan mengorbankan persahabatan mereka. “Kalau aku memilih salah satu diantara mereka, ga adil dong?”
Beberapa hari pun berlalu semenjak pengakuan mereka, hubungan ketiganya memang tidak berubah, namun ada dinding yang secara tidak langsung terbangun di antara mereka bertiga, Zayne dan Caleb mulai menjauhi satu sama lain, suasana persahabatan mereka menjadi semakin dingin, dan Rara menjadi semakin bingung dan tertekan. Ia sadar bahwa diamnya justru memperumit keadaan. Akhirnya Rara memutuskan untuk berbicara dengan kedua sahabatnya itu. “I don’t want to choose between you two and break our precious relationship, not like this. Aku gamau cinta bikin kita saling benci”
Zayne dan Caleb hanya bisa terdiam setelah mendengarkan kata-kata Rara, tak ada yang berbicara. Hanya suara hembusan angin yang membawa rasa perih yang anehnya melegakan bagi hubungan mereka. Mereka tau bahwa Rara tidak salah. Cinta mereka memang tidak bisa dipaksakan, dan persahabatan tak seharusnya hancur hanya karena ego perasaan. “I get it, Ra. Kita.. cuma mau jujur tentang perasaan kita, ga bermaksud juga buat hubungan kita makin rumit kayak gini. Tapi, kita bisa gak kalau tetap punya satu sama lain? kayak dulu? it’s more than enough for us…” Rara hanya menangguk, ada rasa bersalah yang belum hilang, namun setidaknya ia lega karena semuanya akhirnya terbuka.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan normal, tak ada lagi kata “kita” yang sesempurna dulu, tapi tak ada juga kata perpisahan untuk mereka bertiga. Mereka masih menyapa, masih bercerita, dan masih peduli satu sama lain dengan cara mereka masing-masing. Hanya saja, kini mereka belajar untuk memberi jarak yang adil, setidaknya untuk diri sendiri dan untuk satu sama lain.
Apa yang terjadi, membuat Rara tersadar, bahwa keadilan tak selalu berarti semua orang bahagia, tapi tentang keberanian untuk jujur dan menjaga hati tanpa menyakiti. Kadang, memilih untuk tidak memilih adalah keputusan yang paling Adil.
Moral of the story:
Dari kisah Rara, kita belajar bahwa keadilan juga berlaku dalam perasaan, keputusan Rara untuk tidak memilih salah satu di antara kedua sahabatnya mencerminkan nilai dari sila ke-5 yaitu “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Ia menunjukkan bahwa adil bukan berarti membagi cinta secara seimbang, tapi menempatkan perasaan pada tempatnya tanpa melukai salah satu hati. Keadilan sejati adalah ketika dimana kita mampu untuk menjaga hubungan dan menghormati perasaan orang lain, walaupun harus mengorbankan keinginan pribadi.
Zahra Aurelia Agustine (25080694014)