Di Balik Cahaya yang Tak Terlihat
Angin sore menyelinap lembut melalui sela-sela jendela kamar Aca, membawa aroma tanah basah yang sangat ia sukai. Di balik kelopak matanya yang terpejam, dunia tidak pernah gelap baginya, ia hanya memahaminya lewat cara yang berbeda. Bagi remaja berusia lima belas tahun itu, suara, getaran, dan sentuhan adalah jalan kecil yang menyambungkan dirinya dengan apa yang tidak dapat ia lihat.
Ketika alarm berbunyi tiga kali, Aca meraba jam digital dengan angka timbul di atas meja. “Jam lima lewat sepuluh,” gumamnya. Itu berarti latihan orkestra sekolah akan dimulai dalam kurang dari setengah jam. Hari ini adalah latihan terakhir, penentuan susunan pemain utama untuk pementasan tahunan. Dan anehnya, meski ia sudah cukup sering tampil, jantungnya tetap berdegup kencang setiap kali memikirkan orang-orang yang akan menontonnya.
Suara ketukan lembut terdengar dari pintu.
“Aca, kamu sudah siap?” Itu suara Mama, hangat dan sabar seperti biasa. “Sebentar, Ma. Tinggal bawa tongkat.”
Aca meraih tongkat lipat putihnya yang disandarkan di samping lemari, membuka lipatan satu per satu sambil memastikan setiap ruas terkunci kuat. Ia menghafal bentuknya sama seperti ia menghafal tuts piano. Setelah yakin semuanya siap, ia membuka pintu dan Mama memegang tangannya sebentar bukan untuk memandu, tetapi sekadar memastikan keberadaannya.
“Ayo, Arga sudah nunggu di depan,” kata Mama sambil tersenyum.
Mendengar nama itu, Aca ikut tersenyum. Arga, sahabatnya sejak kelas tujuh, adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar memahami bagaimana cara mendampinginya tanpa membuatnya merasa “berbeda”.
Ketika Aca melangkah keluar, suara sepeda motor kecil Arga berhenti tepat di depan pagar. “Kamu siap, maestro?” tanya Arga riang.
“Kamu selalu panggil aku maestro padahal kamu sendiri nggak bisa main apa pun,” balas Aca, tertawa kecil.
“Justru itu. Aku mau temenan sama musisi terkenal dari awal, biar kalau kamu sudah jadi juara internasional, aku bisa bilang ‘aku dulu yang nganterin dia!’”
Mama ikut tertawa mendengar candaan itu. Setelah memastikan helm khusus dengan bantalan tambahan terpasang, mereka meluncur perlahan menuju sekolah. Aca menikmati setiap hembusan angin dan suara kota yang sibuk: pedagang yang menutup lapak, anak-anak kecil berteriak bermain bola, dan suara sepatu orang-orang yang bergegas.
Dunia memang luas, meski tak terlihat oleh matanya.
Aula sekolah sudah mulai dipenuhi anggota orkestra ketika mereka tiba. Aca bisa mengenali mereka dari suara: langkah kaki cepat milik Rani sang pemain biola pertama, suara berat Pak Seno sang pelatih, hingga tawa khas kelompok pemain perkusi.
Namun, ada juga bisik-bisik kecil yang tak sulit didengar.
“Dia beneran masuk seleksi solo? Itu kan bagian paling penting.”
“Ya ampun, gimana kalau dia salah pencet?”
Aca tidak perlu melihat tatapan mereka; suara mereka sudah cukup menyampaikan semuanya.
Arga menepuk bahunya pelan. “Jangan didengerin. Kamu datang untuk main, bukan buat dengerin komentar gratis.”
“Aku tahu,” Aca menarik napas. “Cuma… kadang tetap berat.”
“Kalau kamu butuh aku, bilang. Tapi kalau nggak, aku cuma bakal jadi penonton paling bawel.”
Aca nyengir. “Itu sudah digaris bawahi dari dulu.”
Setelah memeriksa posisi piano dan memastikan bangku tidak bergeser, Aca meletakkan kedua tangannya di atas tuts. Ia tidak melihat warna putih dan hitamnya, tapi hafal semua jaraknya. Piano adalah salah satu hal yang memberinya “makna untuk hidupnya”.
“Baik, kita mulai dari bagian pembuka,” seru Pak Seno. “Aca, kamu siap?” Aca mengangguk.
Nada pertama mengalun, lembut seperti langkah angin, namun berlapis kekuatan yang tumbuh dari keyakinannya. Jemarinya menari lincah, memadu harmonisasi dengan seluruh orkestra. Setiap detik ia rasakan, bukan lewat apa yang terlihat, tapi dari getaran suara yang merayap dari tuts ke tangan, dari tangan ke tubuh, dari tubuh ke hati.
Namun ketika tiba di bagian transisi cepat, sebuah suara kecil menusuk telinganya. “Loh, kok beda?”
Bisik-bisik mulai menyebar, dan konsentrasi Aca terpecah.
Tangannya salah menekan satu nada.
Hanya satu. Tapi cukup untuk menghentikan seluruh ruangan. Orkestra berhenti. Suasana menegang.
Rani bersedekap. “Maaf Pak, tapi ini kan bagian yang menentukan. Kalau sampai di konser dia salah lagi gimana?” katanya tanpa menatap Aca.
Beberapa yang lain mengangguk ragu.
Pak Seno tampak tak nyaman. “Aca, kamu mau coba lagi?”
“Tentu,” jawab Aca cepat mungkin terlalu cepat.
Namun, nada di dadanya bergetar tidak stabil. Ia tahu itu. Ia tahu semua orang tahu.
Latihan dilanjutkan, namun Aca merasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Setiap suara bisik-bisik, setiap helaan napas, setiap jeda membuatnya semakin gugup. Dan ketika latihan usai, ia mendengar keputusan yang tidak ingin ia dengar.
“Untuk besok, bagian solo akan dimainkan oleh Rani dulu,” kata Pak Seno hati-hati. “Bukan berarti kamu tidak mampu, tapi kita harus memastikan dulu.”
Aca membeku.
Ia tahu kata-kata seperti itu. “Memastikan dulu.” “Sementara.” “Nanti kita diskusikan lagi.” Arga menghampirinya, namun Aca mengangkat tangan. “Aku mau sendiri dulu.”
Ia berjalan menuju taman belakang sekolah, tongkatnya menyapu tanah lembut. Ada bangku panjang di sana tempat favoritnya, karena ia bisa mendengar air mancur kecil dan kicau burung dari pepohonan.
Aca duduk, menunduk.
Ia benci rasanya ketika dianggap tidak mampu.
Ia tidak benci orang-orang itu. Ia hanya benci menjadi alasan orang lain merasa harus “memastikan” sesuatu yang sebenarnya sudah ia buktikan berkali-kali.
Langkah kaki familiar mendekat.
“Aku duduk ya?” tanya Arga.
“Kalau aku bilang nggak boleh?”
“Aku duduk jauh dua meter.”
Aca menghela napas. “Sini.”
Arga duduk. “Kamu marah?”
“Bukan marah, cuma capek.”
“Dari komentar mereka?”
“Dari berusaha membuktikan diri terus-menerus.”
Keheningan mengembang.
“Arga,” Aca akhirnya berkata, “kadang aku mikir, apa gunanya berusaha kalau orang cuma lihat apa yang aku nggak punya, bukan apa yang aku bisa?”
Arga butuh waktu beberapa detik sebelum menjawab. “Aca, kamu benar kalau dunia ini belum sempurna. Tapi kamu salah kalau kamu pikir usahamu sia-sia.”
“Kenapa?”
“Karena kamu bukan cuma buktiin buat orang lain. Kamu buktiin ke dirimu sendiri bahwa keterbatasan mu nggak pernah lebih besar dari tekadmu.”
Aca tersenyum kecil. “Kamu belajar dari motivator mana?”
“Dari hidup yang sering nonton kamu latihan,” jawab Arga, pura-pura angkuh. Aca tertawa lemah. Ia merasa sedikit lebih baik. Namun ada satu hal yang tetap menggantung.
“Aku mau latihan sendiri malam ini,” ucap Aca akhirnya. “Kalau aku gagal besok, setidaknya aku gagal setelah berjuang.”
“Kalau begitu, aku temenin.”
“Nggak usah-”
“Aku temenin. Titik.”
Aca tahu berdebat percuma, jadi ia mengangguk.
Malam itu, halaman rumah Aca dipenuhi suara piano. Ayah dan Mama hanya menonton dari jauh, melihat putrinya memainkan puluhan bagian yang sama berulang-ulang tanpa lelah. Arga duduk di sofa ruang tamu, terkadang memberi jeda dengan komentar konyol agar Aca tidak tertekan.
“Kalau kamu main terlalu sempurna, nanti piano-nya minder,” katanya. “Kalau kamu makin bawel, aku suruh Mama bikin kamu teh pahit.”
“Teh pahit pun akan manis kalau yang bikin kamu.”
Aca melempar bantal ke arahnya, dan mereka sama-sama tertawa.
Namun di balik tawa itu, Arga tahu Aca sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang ia punya. Dan di balik senyumnya, Aca tahu ia tidak sendiri.
Keesokan paginya, aula penuh sesak. Para guru datang, wali murid juga, dan ratusan siswa duduk berderet. Aca tidak melihat keramaian itu, namun ia bisa merasakannya dari getaran ruangan dan suara langkah kaki yang bergema.
Ketika acara dimulai, orkestra tampil dengan formasi standar. Rani memainkan beberapa bagian solo kecil dengan indah, membuat tepuk tangan membahana. Namun Aca tetap tenang, ia tahu bagian terpenting masih menunggu.
“Selanjutnya,” suara Pak Seno menggema, “kita akan menampilkan dua versi solo piano untuk penilaian akhir.”
Dua versi. Itu berarti Aca tetap diberi kesempatan.
Ia menarik nafas panjang. Arga yang duduk di antara penonton mengangkat tangan dan berseru pelan, “Semangat!”
Aca melangkah ke panggung, menyentuh sisi piano, lalu duduk. Tangan kirinya menyentuh garis pola yang ia pasang semalam, kertas tipis dengan tanda timbul sebagai panduan cepat. Ia menunduk sebentar, bukan untuk berdoa, tetapi untuk mengumpulkan seluruh suara yang pernah ia hafal.
Luapan bisik-bisik terdengar.
“Kasihan, dia grogi.”
“Nanti kalau salah lagi gimana?”
“Tapi dia berbakat sih”
Semua itu bercampur menjadi satu riuh rendah. Namun ketika jari Aca menyentuh tuts pertama, dunia tiba-tiba sunyi.
Nada mengalun. Tidak lembut seperti kemarin, tetapi kuat, penuh tekad. Setiap vibrasi melintas melalui tubuhnya. Jemarinya meluncur cepat, melukis cerita tanpa cahaya. Musik itu bukan hanya permainan tuts, namun ada makna yang tersirat.
“Aku ada. Aku mampu. Dan aku layak.”
Ketika sampai ke bagian transisi cepat, bagian yang ia salah kemarin, Aca merasakan sekejap ketakutan. Namun ia menutup pendengarannya dari bisik-bisik ruangan, fokus hanya pada ritme di dalam kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, ia memainkan bagian itu sempurna.
Seisi aula terhenyak.
Ketika nada terakhir selesai, hening melingkupi ruangan seperti kabut tebal. Lalu seseorang bertepuk tangan.
Arga.
Satu orang lagi menyusul.
Lalu seluruh aula berdiri, memberikan tepuk tangan berdentum seperti badai. Mereka bersorak, menyebut namanya, memanggilnya, merayakannya.
Dan Aca, hanya tersenyum dengan air mata menetes pelan. Bukan karena sedih, tetapi karena lega. Karena kali ini, ia tak perlu membuktikan apapun lagi.
Pak Seno menghampirinya di panggung. Suaranya sedikit serak. “Aca, kamu pemain solo kita.” Sorak penonton semakin keras.
Rani pun ikut mendekat. “Maaf kalau kemarin aku ragu,” katanya tulus. “Kamu luar biasa.”
Aca mengangguk. Ia tidak menyimpan dendam. Kebanyakan orang merasakannya bukan karena jahat, tapi karena tidak tahu. Dan hari ini, ia menunjukkan apa yang tak mereka lihat.
Setelah acara selesai, Aca duduk di taman belakang. Sekali lagi ia menikmati suara air mancur. Namun kali ini, langkah kaki yang datang bukan membawa beban, melainkan kemenangan.
Arga duduk di sebelahnya. “Hei, maestro.”
“Jangan panggil aku maestro,” sahut Aca sambil tertawa. “Itu bikin aku merasa tua.” “Kalau gitu aku panggil kamu apa?”
“Aca. Itu cukup.”
Arga tersenyum. “Aca, kamu tahu nggak? Tadi waktu kamu main, semua orang kaya lupa kalau kamu ya, kamu tahu.”
“Kalau aku tidak bisa melihat?” Aca menebak.
“Ya. Mereka cuma melihat kamu sebagai pemain terbaik.”
Aca menunduk, meraba rumput di bawah kakinya. “Arga, aku senang bukan cuma karena aku menang. Tapi karena, untuk sekali ini, mereka mendengar aku. Tanpa melihatku sebagai sesuatu yang perlu dikasihani.”
“Karena kamu nggak pernah minta dikasihani,” kata Arga. “Kamu minta dihargai. Dan itu sudah kamu dapat.”
Aca menarik napas panjang.
Ia tidak bisa melihat cahaya sore yang turun di antara dedaunan. Namun ia tahu warnanya dari suara burung yang kembali ke sarang. Ia tidak bisa melihat senyum Arga, tapi ia bisa merasakannya dari nada suaranya. Ia tidak bisa melihat tepuk tangan penonton, tapi getarannya masih membekas di dadanya.
Ternyata, dunia tidak harus terlihat untuk menjadi indah.
Terkadang, yang paling berarti justru berada di balik cahaya yang tak terlihat.
Beberapa bulan kemudian, sekolah mulai mengadakan program inklusi baru, jalur berpola untuk siswa disabilitas netra, materi belajar berbasis audio, dan pelatihan khusus bagi guru. Dan di banyak sudut sekolah, kamu bisa menemukan sesuatu yang sebelumnya tak ada, papan braille kecil yang menunjukkan ruang kelas.
Semuanya dimulai dari satu penampilan.
Dari seorang gadis yang tidak dapat melihat dunia…
…tetapi membuat dunia melihatnya.
Alya Febriana - 25010024027