Di balik Kostum Donat
Libur setelah kelulusan seharusnya terasa bebas. Tapi bagi Jinja, kebebasan justru menghadirkan ruang kosong. Tidak lagi bersekolah, tidak ada lagi jadwal les, hanya rumah yang sunyi. Sesekali, ia pergi ke mall untuk sekadar berjalan, menikmati dinginnya AC dan riuh suara orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Di tengah keramaian itu, Jinja pertama kali melihatnya. Sosok maskot berbentuk donat besar, berdiri kaku di dekat pintu masuk toko roti. Kostumnya tebal, langkahnya pelan, dan gerakannya terlihat berat. Anak kecil tertawa melihatnya, orang dewasa sekadar melirik, dan beberapa orang hanya berlalu tanpa benar-benar melihat.
Bagi kebanyakan orang, itu hanya maskot mall. Tapi di balik kostum itu ada helaan napas berat, meski samar, menyadari itu Jinja berhenti melangkah. Rasa penasarannya muncul begitu saja. “Di dalam kostum itu panas ga ya?” gumamnya dalam hati sembari berjalan lagi.
Keesokan harinya, ia kembali melewati tempat yang sama. Maskot itu masih di sana. Kali ini, ketika maskot donat itu mengangkat tangan dengan gerakan kecil, Jinja baru menyadari betapa beratnya pekerjaan itu. Berjam-jam berdiri di ruang publik, dilihat tapi tak dianggap.
Sebuah jeda muncul dalam hati Jinja. Ia mendekat dan berbisik pelan, “Kakaknya capek, ya?” Maskot itu menoleh. Dari balik kain kostum, terdengar suara lirih, “Biasa aja.”
Dan di situlah Jinja terpaku. Ia tahu suara itu. Suara yang dulu sering ia dengar saat rebutan tempat duduk dekat AC di kelas. Suara yang bersahabat, hangat, dan sederhana.
“Deden?” bisiknya.
Perlahan, kepala kostum terbuka. Dan memang benar, Deden berdiri di sana. Rambutnya lepek, wajahnya memerah, tapi ia tersenyum malu-malu seolah seseorang tertangkap basah melakukan tindakan yang tidak baik.
“Kerja sampingan,” katanya singkat. “Hitung-hitung bantu orang di rumah.”
Tidak ada musik dramatis. Tidak ada ekspresi terkejut berlebihan. Hanya kenyataan sederhana yang tiba-tiba terasa besar di mata Jinja.
Hari-hari berikutnya, Jinja tidak selalu datang untuk melihat Deden. Tapi setiap kali ia melintasi pintu mall, langkahnya melambat secara otomatis. Kadang ia melihat Deden sedang menyapa anak kecil. Kadang ia melihatnya duduk diam sebentar, seperti seseorang yang sedang mencuri napas di tengah perjuangan panjang.
Jinja mulai sadar, dunia tidak berjalan setara untuk semua orang. Ia sedang bersiap masuk kuliah, memilih jurusan dengan cemas dan penuh peluang. Sementara di sisi lain, Deden mengumpulkan uang rupiah demi rupiah agar mimpinya tidak berhenti sebelum ia memulai.
Suatu sore, Jinja meninggalkan sebotol minuman dingin di bangku dekat tempat Deden biasa duduk beristirahat. Tanpa kata “kasihan”. Tanpa ceramah motivasi. Hanya isyarat kecil bahwa ia melihat, bahwa perjuangan itu nyata, dan layak dihargai.
Deden menemukan minuman itu, membaca catatan kecil di bawahnya: “Biar yang manis nggak cuma kostumnya.”
Ia tertawa pelan, kemudian menghela napas panjang. Rasanya hangat. Tidak seperti bantuan yang memaksa, melainkan kepedulian yang datang tanpa suara.
Tidak ada janji untuk selalu bertemu. Tidak ada drama perpisahan. Hanya saling lewat, saling tahu, dan saling menghargai. Dan itu cukup. Karena terkadang, bentuk kemanusiaan paling sederhana adalah dengan tidak menganggap perjuangan orang lain sebagai hal kecil yang patut ditertawakan.
Pesan Moral:
Kebaikan bukan selalu tentang hadir setiap hari, menolong terus menerus, atau menjaga kedekatan. Terkadang, bentuk paling tulus adalah dengan mengakui perjuangan seseorang, meski hanya dari jauh. Hidup berjalan berbeda untuk setiap orang, dan menghargai langkah orang lain tanpa menghakimi adalah makna sederhana dari kemanusiaan yang adil dan beradab.
Putri Nikmatus Sholiha (2025 A NIM.25080694213)