Di Bawah Langit Abu-Abu
Namaku Risto, siswa kelas XI SMA Harapan Bangsa. Sekolah yang tidak terlalu besar, namun selalu ramai dengan cerita. Di sekolah ini, kami tidak punya fasilitas mewah seperti sekolah sekolah di kota besar. Tapi, kami punya satu hal yang nggak kalah penting: rasa kebersamaan. Meski kadang, rasa itu juga bisa hilang karena hal-hal kecil.
Semester ini, sekolah kami lagi sibuk nyiapin pentas seni tahunan. Aku ditunjuk jadi ketua panitia, katanya karena aku “aktif dan tanggung jawab.” Awalnya aku senang banget, merasa dipercaya, tapi ternyata jadi ketua nggak sesederhana itu.
Rapat pertama aja, udah mulai ribut. “Aku maunya acaranya di aula biar nggak kepanasan,” kata Erin. “Kalau di aula nggak muat, Rin,” jawab Dimas ketus. Lalu mereka debat sampai hampir setengah jam. Aku cuma bisa menenangkan, padahal di dalam hati juga sudah mulai lelah.
“Udah, gimana kalau di lapangan aja? Sekalian biar terbuka, suasananya lebih hidup,” kataku akhirnya.
Yang lain setuju, tapi aku bisa lihat masih banyak wajah yang belum puas.
Hari-hari berikutnya juga sama. Sibuk sekali. Kami harus mengatur jadwal tampil, sewa sound system, cari sponsor, dan latihan tiap sore. Temanku Nina, yang jadi bendahara, kerja keras banget ngatur uang kas yang cuma pas-pasan. Kadang dia sampai pulang paling terakhir karena harus mencatat pengeluaran.
Tapi masalah mulai muncul waktu ada gosip yang menyebar. “Eh, katanya uang kas dipakai buat beli kostum band-nya Risto,” bisik seseorang di koridor. Aku dengar itu, dan langsung marah. “Nggak ada yang pakai uang kas buat itu!” seruku waktu rapat. Tapi tatapan curiga dari teman-teman udah keburu muncul.
Nina sampai nangis di kelas. “Aku cuma pengen semuanya lancar, To. Tapi malah dikira korupsi uang kas…” katanya pelan. Aku cuma bisa menepuk bahunya. “Tenang, Nin. Aku bakal benerin semuanya.”
Tapi semakin aku coba jelaskan, suasana justru makin panas. Beberapa panitia memutuskan mundur, dan sebagian kelas lain mulai ogah ikut acara ini. Di titik itu, aku hampir pengen nyerah.
Sore itu aku naik ke atap sekolah tempat yang jarang dikunjungi siapapun. Dari atas, terlihat lapangan yang kami rencanakan untuk panggung besar itu. Senja menyorot genting-genting tua, dan aku cuma bisa berpikir: buat apa semua ini kalau ujungnya cuma bikin saling benci?
Tiba-tiba, pintu atap terbuka. Nina muncul dengan dua gelas plastik berisi es teh. “Ketemu juga,” katanya sambil nyengir kecil. “Aku tahu kamu pasti kesini.” Aku tertawa lemah. “Capek, Nin. Rasanya semua salah aja.” Dia duduk di sebelahku, menatap langit oranye. “Capek jadi orang yang disalahpahami, ya?” Aku mengangguk. “Aku cuma pengen acara ini sukses. Tapi semua orang malah saling nuduh.”
Kami diam lama, cuma dengar suara burung sore. “Ka,” kata Nina pelan, “kalau dipikir-pikir, mungkin kita salah arah. Pentas seni itu harusnya buat senang-senang, buat bareng-bareng. Tapi sekarang kayak lomba rebutan gengsi.” Aku menatap langit. “Kamu bener. Mungkin kita terlalu mikirin siapa yang menang, bukan apa yang mau kita rayakan.”
Besoknya, aku kumpulkan semua panitia di aula. “Teman-teman,” kataku tegas, “aku mau ubah konsepnya. Nggak usah pakai sistem lomba. Kita ubah jadi festival kebersamaan. Semua kelas boleh tampil, nggak ada juara, nggak ada saingan. Kita bantu satu sama lain biar semuanya bisa tampil bagus.”
Awalnya banyak yang kaget. Dimas langsung nyeletuk, “Jadi nggak ada hadiah sama sekali?” Aku mengangguk. “Hadiah terbesar itu kalau acaranya sukses, dan semua orang senang.” Hening sebentar. Lalu Erin tepuk tangan kecil, disusul dengan yang lain. “Ya udah, gue ikut bantu dekorasinya!” kata Dimas, tersenyum. Untuk pertama kalinya, aku lihat mereka saling tertawa lagi.
Hari-hari berikutnya berubah drastis. Kelas yang dulu cuek jadi ikut latihan. Ada yang bantu ngecat backdrop, ada yang bantu ngumpulin sumbangan, bahkan guru-guru ikut dukung dengan nyumbang air mineral dan makanan ringan. Sekolah terasa hidup.
Dan akhirnya, hari itu datang. Pentas Seni SMA Harapan Bangsa. Lapangan penuh lampu kecil dan bendera warna-warni. Semua kelas tampil dengan gayanya sendiri. Ada yang nyanyi lagu pop, ada yang nari tradisional, bahkan kelas Dimas tampil dengan drama komedi yang bikin semua penonton ketawa.
Di akhir acara, kami semua naik ke panggung bareng-bareng, menyanyikan lagu Tanah Airku. Lampu ponsel penonton menyala seperti bintang. Aku lihat Nina di sebelahku, matanya berkaca-kaca.
“Lihat deh, Ka,” katanya. “Langitnya bagus banget.” Aku tersenyum. “Iya, Nin. Kayak kita, akhirnya bisa satu langit lagi.”
Malam itu, aku sadar. Persatuan nggak cuma soal bendera atau lambang negara. Persatuan itu saat kita bisa melihat perbedaan bukan sebagai ancaman, tapi sebagai warna yang bikin hidup lebih indah.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Dari cerita Raka dan teman-temannya, kita belajar bahwa persatuan dan kerja sama jauh lebih penting daripada ambisi pribadi. Dalam perbedaan, ada ruang untuk memahami, mendengar, dan saling menghargai. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah hati yang mau terbuka.
Tiza Ariyanti Putri - 25080694023