Di tengah kota kecil yang tenang,
Di tengah kota kecil yang tenang, berdirilah SMP Cahaya Ilahi, sekolah yang terkenal dengan motto: “Setiap Anak adalah Sinar.” Namun, tidak semua siswa merasa dirinya bersinar.
Salah satunya adalah Bima, anak kelas VIII yang pendiam dan jarang berbicara. Bima memiliki gangguan pendengaran di salah satu telinganya. Ia sering kesulitan menangkap instruksi guru, sehingga ia memilih duduk di belakang untuk menghindari pusat perhatian. Banyak teman tidak tahu kondisinya, dan beberapa mengira Bima sombong karena jarang berinteraksi.
Suatu hari, sekolah mengumumkan program baru: Kelas Inklusif Model, sebuah kelas percontohan untuk memastikan semua siswa, apa pun perbedaannya, belajar dan tumbuh bersama.
Di saat yang sama, murid baru pindahan datang Alya, gadis tunanetra yang membawa tongkat lipat dan suara lembut yang penuh keberanian. Siswa-siswa terkejut melihatnya masuk kelas, namun Alya tersenyum tanpa ragu.
"Selamat pagi semua," katanya. "Semoga kita bisa jadi teman baik."
Tatapan murid-murid terdiam, tak biasa ada siswa seberani itu meski ia memiliki keterbatasan.
Hari pertama belajar, Bu Nisa wali kelas mereka mengajak semua murid duduk melingkar.
"Kita akan saling mengenal," katanya. "Kelas inklusif bukan hanya soal fasilitas. Ini tentang hati."
Satu per satu siswa memperkenalkan diri. Ketika giliran Bima, ia bicara pelan.
"Saya... Bima."
Tak ada lanjutan.
Lalu giliran Alya.
"Aku Alya. Aku tidak bisa melihat, tapi aku ingin kalian semua tahu: aku tidak ingin dikasihani. Aku hanya ingin berteman dan belajar bersama."
Ruangan hening sejenak. Lalu tepuk tangan kecil terdengar.
Bu Nisa tersenyum. "Mulai hari ini, kita belajar tanpa meninggalkan siapa pun."
Pada minggu kedua, Bu Nisa memberi proyek kelompok: membuat video edukasi tentang kebersihan lingkungan sekolah.
Kelompok Alya beranggotakan Riko, Sinta, dan Bima. Mereka harus berdiskusi setelah pulang sekolah.
Di perpustakaan, Riko memimpin. “Alya, kamu cocok jadi narator karena suaramu bagus."
"Baik!" jawab Alya ceria.
“Bima, kamu nanti bagian rekaman suara,” tambah Riko.
Bima mengangguk, tetapi ia sebenarnya kesulitan memahami perintah karena perpustakaan cukup bising. Ia tidak ingin terlihat lemah, jadi ia pura-pura tahu.
Saat hari perekaman tiba, semuanya kacau. Bima salah waktu masuk suara, Riko mulai kesal, dan Sinta menghela napas panjang.
"Bima, kamu bisa dengar atau tidak sih?” kata Riko tanpa sadar menyakiti.
Bima mematung. Wajahnya panas.
Alya mengerutkan kening. "Riko, jangan bicara begitu."
Riko terdiam, menyesal. "Maaf... aku nggak bermaksud."
Bima menunduk lebih dalam.
Alya mendekat, meraba arah suara Bima. “Kita semua punya kesulitan, Bi. Kamu mau cerita?"
Hening panjang. Lalu, dengan suara gemetar, Bima menjawab,
"Aku... punya gangguan pendengaran. Kalau ramai, suara bercampur. Maaf kalau bikin repot."
Sinta langsung merasa bersalah.
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal?"
Bima menatap lantai. "Takut dianggap aneh."
Alya tersenyum lembut. "Di kelas inklusif, perbedaan itu bukan kelemahan. Itu bagian dari kita."
Sejak saat itu, kelompok mereka bekerja dengan cara berbeda: mereka memilih ruangan yang tenang, Alya memegang teks dalam bentuk braille, dan Riko belajar memberi instruksi lebih jelas.
Hasil video mereka menjadi proyek terbaik seangkatan.
Beberapa bulan kemudian, sekolah mengadakan Pentas Kreativitas Inklusif. Setiap kelas harus menampilkan karya yang mencerminkan nilai keberagaman.
Kelas Bu Nisa memilih drama bertajuk "Pelangi yang Tak Pernah Hilang."
Alya menjadi narator, suaranya lembut dan menggema.
Bima bertugas sebagai operator suara dan cahaya, posisi yang membuatnya percaya diri tanpa merasa dipaksa tampil.
Drama itu mengisahkan anak-anak dari berbagai latar belakang yang awalnya terpisah, namun akhirnya menyadari bahwa perbedaanlah yang membuat mereka lebih kuat seperti warna-warna pelangi.
Penonton berkali-kali bertepuk tangan.
Pada akhir pertunjukan, Bu Nisa naik ke panggung.
"Pelangi hanya muncul kalau semua warna hadir bersama. Terima kasih,
anak-anak, sudah membuktikan itu."
Alya meraih tangan Bima. "Lihat? Kamu bagian penting dari pelangi itu."
Bima tersenyum, untuk pertama kalinya tanpa ragu. “Dan kamu cahaya yang membuat pelangi muncul."
Mereka tertawa bersama.
Sejak hari itu, kelas inklusif bukan hanya program tetapi budaya baru di sekolah.
Murid saling membantu, bukan karena kasihan, tetapi karena mengerti bahwa semua orang punya perjuangan masing-masing.
Bima mulai percaya diri mengangkat tangan ketika tidak mengerti.
Alya menjadi inspirasi bagi adik-adik kelas yang juga berkebutuhan khusus.
Dan Bu Nisa... tetap menjadi cahaya yang menuntun mereka, seperti matahari yang membuat pelangi muncul.
Di sekolah itu, pelangi tidak hanya muncul setelah hujan.
Pelangi tumbuh setiap hari di hati semua orang yang belajar menerima, memahami, dan menyayangi.
MUHAMMAD ILHAM ABDUL AZIS 25010024041