Di Tengah Langit yang Terbakar
Di malam sunyi itu, terdapat sepasang suami istri yang sedang melihat bayi pertama mereka yang baru saja lahir di dunia. Mereka terharu dan bergembira atas kelahiran anak pertama mereka. “Dia akhirnya lahir, Sayang…, anak kita,” bisik sang suami, wajahnya basah oleh air matanya. Sang istri ikut menangis. Mereka sangat bahagia setelah 10 tahun menantikan datangnya malaikat kecil ke kehidupan mereka.
Namun, kegembiraan itu hanya sekejap. Ledakan memecah langit malam. Api menjilat atap rumah-rumah di pinggiran kota, suara jeritan dan tembakan yang terus-menerus seperti badai yang tidak mau berhenti. Tanpa pikir panjang, mereka membungkus bayi mereka dengan selimut, memasukkan sedikit pakaian dan makanan ke dalam tas lusuh, lalu berlari keluar bersama warga yang panik.
Jalan menuju hutan di belakang kota dipenuhi orang-orang yang mencoba menyelamatkan diri. Teriakan, tangisan, dan doa bercampur menjadi satu. Sang istri menggenggam tangan suaminya erat-erat sambil menggendong bayinya dengan kuat, seolah takut dunia akan merenggutnya kapan saja.
Namun, nasib berbicara lain. Di tengah kegelapan, orang-orang biadab itu datang membawa senapan. Sang suami melepas tangan sang istri. “Tidak.. Jangan tinggalkan aku,” tutur sang istri dengan mata berlinang air mata. Namun, sang suami tersenyum sambil memegang tangan istrinya, seolah-olah memberitahukan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sang suami berlari ke arah orang-orang pembawa senapan, berharap bahwa mereka menghentikan serangan. Namun, nasib naas yang ia dapatkan. Peluru menembus dada sang suami. Ia terjatuh seketika.
Sang istri yang melihat tubuh suaminya tersebut berteriak, tubuhnya bergetar hebat. Ia menghampiri tubuh sang suami yang tergeletak bersimbah darah diatas tanah. “Tidak, jangan tinggalkan aku, jangan….” tutur sang istri dengan wajahnya yang sudah basah oleh air matanya. Namun, ia tahu bahwa ia harus terus berjalan. Warga yang melihat sepasang suami istri tersebut tanpa ragu menolongnya. Mereka menutup tubuh sang suami dengan kain seadanya dan menenangkan tangisan ibu dan bayi yang terus menggema di malam itu. Seorang wanita tua memapah sang istri yang nyaris pingsan, sementara seorang perempuan muda memberikan
selimut tambahan untuk membungkus bayinya. Di antara suara ledakan yang masih terdengar dari kejauhan, warga saling bergandengan menuju tempat yang lebih aman. Tidak ada yang memikirkan diri sendiri, semua berjuang agar tidak ada yang tertinggal di tengah kekacauan melanda.
Ketika fajar tiba, langit masih kelabu. Namun di mata sang istri, ada secercah cahaya datang dari tangan-tangan manusia yang saling membantu di tengah kehancuran. Cerita “Di Tengah Langit yang Terbakar” menggambarkan dengan jelas nilai yang terkandung dalam sila ke-2 Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Nilai ini tercermin melalui sikap saling peduli dan menolong di tengah situasi yang penuh kekacauan dan penderitaan. Meskipun mereka berada dalam ancaman dan ketakutan, para warga tetap menunjukkan rasa kemanusiaan dengan membantu sang istri yang kehilangan suaminya.
Alfia Rahmania - 25080694100