Disabilitas Bukan Kekurangan, Tapi Cermin dari Sistem yang Belum Ramah
Terkadang, dalam hidup saya terlintas perasaan bahwa diri saya itu adalah sebuah masalah
yang perlu diatasi
Ini muncul karena hanbatan utamaku yakni penglihatan, Dari sinilah aku merasa bahwa ini
adalah dinding terbesarku yang harus aku panjat sendiri, aku pikir dari mataku yang nggak bisa
liat, inilah masalah terbesar hidupku, rintangan yang aku harus atasi sendiri, berusaha terlihat
mandiri agar orang disekitarku tak merasa terbebani dan agar dapat label inklusif, bisa semua
dan dianggap normal.
Dan aku hidup dilingkungan tipikal, dari hambatan penglihatanku ini juga aku berpikir, akulah
yang harus menyesuaikan, akulah yang harus memberi kompensasi bahwa: oh, ini lumrah, kan
aku ga bisa liat, aku kan minoritas, jadi akulah yang harus adaptasi agar sama seperti mereka
yang ga ada hambatan visual, agar setara, gitu katanya yang aku dengar tiap saat dari orang-
orang, dan sepintas itu masuk akal.
Tunggu dulu, ternyata keliru, setelah meresapi buku Inclusive Education for the 21st Century,
pandanganku berubah, kukira sudah sesuai apa yang aku dan lingkunganku lakukan, padahal
rangka berpikirnya sudah salah.
Disabilitas bukan beban dan hambatan, ia merupakan anugrah dari sang pencipta untuk
menikmati hidup dari jalan dan sudut pandang yang lebih luas.
Model sosial yang diangkat oleh buku ini membalikkan logika tersebut. Masalahnya bukanlah
pada keterbatasan fisik saya yang seratus persen terkungkung kegelapan, melainkan pada
rintangan (barriers) yang diciptakan oleh masyarakat dan lingkungan.
Mereka punya pola pikir seperti ini: harus sabar, ikhlas, bersyukur, nerimo, ya memang begitu
kok adanya...
Dan membandingkan dengan hal yang lebih buruk di masa lalu; masih mending kamu bisa
kuliah/kerja, DULU tunanetra cuman bisa diam tidur di rumah, blablablabla.
Hei bro, kemudahan mencari rezeki dan menuntut ilmu itu kebutuhan semua manusia.
Nenek moyang kita dari dua ratus ribu tahun yang lalu bisa bertahan hidup sampai melahirkan
kita sekarang ini ya dari ilmu dan mencari makan, dua hal itu merupakan aspek dasar semua
orang, buta, tuli, tak dinilai dari sananya.
Buku ini membungkam semua perilaku itu, satu kalimat (desain universal)
Dunia yang tidak inklusiflah yang membuat keterbatasan saya menjadi sebuah halangan.
Rintangan itu bisa berupa dokumen digital yang tidak bisa dibaca oleh screen reader, presentasi
yang sepenuhnya visual tanpa deskripsi verbal, atau asumsi bahwa semua orang belajar dan
menyerap informasi dengan cara yang sama.
Pokoknya sekolah anak ini, pokoknya ada kegiatan anak ini, gini saja sudah cukup kok, merasa
puas dan tak mau berkembang.
Kesadaran ini membebaskan. Saya bukan lagi masalah yang harus dipecahkan, melainkan
seorang individu yang berhadapan dengan lingkungan yang belum sepenuhnya ramah. Ini
menggeser fokus dari apa yang salah dengan saya?" menjadi apa yang perlu diubah dari
lingkungan agar semua orang bisa berpartisipasi?". Kesadaran inklusif, bagi saya, dimulai dari
pemahaman ini. Ini bukan tentang meminta dunia untuk mengasihani saya, tetapi tentang
mengajak dunia untuk menyadari bahwa desain yang universal dan pola pikir yang fleksibel
akan menguntungkan semua orang. Inklusi bukanlah tentang membantu si tunanetra,
melainkan tentang membangun sebuah dunia di mana setiap orang, dengan segala
keragamannya, dapat berkontribusi secara penuh tanpa harus memanjat dinding yang
sebenarnya tidak perlu ada.
Inklusi sejati (universal Design) seperti yang dijelaskan dalam buku tersebut, adalah sesuatu
yang jauh lebih mendalam. Ia menuntut reformasi sistemik". Artinya, bukan saya yang harus
berjuang mati-matian untuk menyesuaikan diri dengan sistem, tetapi sistemlah yang harus
cukup fleksibel untuk mengakomodasi semua orang.
Contoh inklusi adalah, ketika orang-orang tipikal secara otomatis dengan kesadaran dirinya
menyediakan materi dalam format yang bisa diakses screen reader untuk semua kawan netra,
bukan hanya setelah saya sebgai tunanetra ini memiintanya.
Karena ia sadar bahwa tidak semua orang menyerap informasi secara visual.
Jika desain universal benar-benar diimplementasikan dalam pola pikir, kesadaran diri, dan fisik
dalam lingkungan kita, percayalah, kehidupan sosial kita sebagai manusia yang beragam akan
lebih solid, hari-hari akan diisi oleh senguman dan raut wajah bahagia yang tulus dari kedua
belah pihak.
Mohammad Hilbram (Senin, 20-10-2025)