Diskusi Itu Penting!
Hai, aku Fira. Sekarang sudah memasuki tahun ajaran baru, ini adalah hari pertama aku menduduki bangku kelas 1 SMA. Hari pertama sekolah yang dipenuhi dengan rasa campur aduk. Aku merasa cemas dan takut, apakah aku akan mendapat teman? Apakah aku dapat beradaptasi denan lingkungan baru? Apakah aku dapat menjalani hari hariku? Jujur saja, ini adalah pertama kalinya aku keluar dari zona nyaman. Sejak SD sampai SMP aku bersekolah di sekolah swasta dengan lingkungan yang sangat nyaman. Tetapi, aku sudah memantapkan keputusan ini sejak lama, maka aku harus bertanggung jawab dengan pilihanku. Aku cukup senang karena aku diterima oleh sekolah negeri terbaik, awalnya keinginanku ini ditentang oleh kedua orang tuaku, tetapi aku terus mencoba untuk meyakinkan mereka. Akhirnya kedua orang tuaku menyetujui permintaanku, tetapi dengan syarat, aku harus masuk di salah satu dari 3 sekolah negeri terbaik di kotaku. Dan ternyata berhasil! Aku akan menunjukan yang terbaik selama aku di SMA ini.
2 bulan telah berlalu, aku telah menjalani hari-hari yang menyenangkan disini. Seseorang menepuk pundakku dari belakang
“Fira,”
Aku menoleh kearah sumber suara. Laki- laki dengan kulit sawo matang dengan kumis tipis sedang menatapku, dia adalah teman sekelas sekaligus ketua kelas
“Ya? Kenapa Ren?” aku menjawab.
“Kamu bisa wakilin aku buat datang ke Technical Meeting ga? Aku ada rapat. Nanti kalo ada informasi penting, langsung sampaikan aja di depan kelas.”
Aku menatap Reno dengan wajah bingung, aku berpikir sebentar.
“Boleh deh, di aula kan? Aku pergi bareng Dinda boleh ga?” jawabku setelah berpikir sejenak,
“Boleh, tolong ya. Makasih Fir, aku pergi dulu.” Ucap Reno, yang perlahan pergi menjauh.
Aku dan Dinda melangkah menuju aula yang tidak jauh dari kelas. Terlihat sudah banyak perwakilan dari kelas lain yang datang, sehingga membuat aula terlihat penuh. Aku dan Dinda segera mencari kursi kosong, tidak lama setelah menunggu semua perwakilan datang, Technical Meeting segera dimulai. Pertemuan ini membahas acara Jumat sehat yang akan diadakan 2 hari lagi, setiap kelas diharapkan memilih perwakilan untuk membawa bekal sehat dan bergizi yang akan dilombakan dengan kelas lain. Aspek penilaiannya adalah makanan yang dibawa memiliki porsi gizi yang seimbang serta cara penyajian yang menarik. Setelah kembali ke kelas, aku dan Dinda setuju untuk memilih teman kami yang pandai memasak sebagai perwakilan kelas kami, tanpa mendiskusikannya dengan teman sekelas terlebih dahulu.
Keesokan harinya, hari Kamis, sehari sebelum acara dimulai. Di jam istirahat, salah seorang teman sekelas bertanya kepada temannya
“Aku dengar dari kelas sebelah, besok kita ada acara Jumat sehat dan harus mengirimkan satu anak sebagai perwakilan untuk menyetor bekal yang berisi gizi seimbang?”
Temannya yang mendengar itu memasang wajah heran,
“Oh ya? Kok kita belum ada dapat informasinya ya?” Mereka berdua terlihat bingung.
Ah benar, aku lupa untuk mengumumkannya kepada anak kelas, dan lagi aku sudah memilih kandidat tanpa berdiskusi dengan teman sekelas. Dan benar saja, terjadi sedikit selisih antara teman-teman Dinda dan beberapa anak lain.Anak kelas mengeluh kenapa mereka tidak diberitahu informasi ini dan juga mereka mengeluh kenapa memilih kandidat tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan yang lain, bagaimana jika ada anak yang ingin mengajukan diri sebagai perwakilan kelas. Mereka berpikir jika kami hanya mementingkan kepentingan kelompok kami sendiri dan tidak memedulikan yang lain.
Pada akhirnya Reno, ketua kelas kami, turun tangan untuk menenangkan kelas dan menyelesaikan masalah yang terjadi. Reno menginformasikan kembali informasi yang didapat dari hasil TM kemarin, lalu Reno menawarkan kepada anak kelas yang ingin mengajukan diri sebagai perwakilan kelas esok hari. Reno menawarkan sebanyak 2 kali, tetapi tidak ada anak kelas yang mengajukan diri.
“Kalau tidak ada yang mengajukan diri, maka kita akan tetap memilih kandidat yang sudah dipilih kemarin. Ada yang keberatan?”
Ucap Reno yang sedang berdiri di depan sambil menatap seisi kelas, sebagian anak menggeleng dan sebagian hanyadiam.
“Jika sudah tidak ada keluhan dan tidak ada yang keberatan, maka masalahnya sudah clear ya. Maaf atas missinformasi yang terjadi.”
Reno kembali ke tempat duduknya. Aku sangat kagum dengan cara Reno menyelesaian masalah ini, dia menyelesaikan masalah dengan cepat, tenang dan bijak, aku sungguh belajar banyak darinya. Tidak heran dia terpilih menjadi ketua kelas, dia benar-benar punya jiwa pemimpin yang baik. Aku juga merasa malu karena merasa tidak dapat diandalkan dengan hal kecil seperti ini. Aku tidak tahu ternyata diskusi sangatlah penting, walaupun tidak ada yang mengajukan diri, tetapi mereka hanya ingin dihargai, didengar, dan dianggap ada. Dengan cara melakukan diskusi bersama-sama.
Nadya Alifa Sumawardhana - 25080694271